Sinyal kenaikan rasio pembagian dividen tahun buku 2025 tengah mengemuka untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kabar ini menjadi sorotan karena potensi kenaikan dividen bisa menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham BBCA di pasar modal.
Rencana pembagian dividen tersebut akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan digelar pada 12 Maret 2026. Dari tujuh agenda, salah satunya adalah penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025. Manajemen BBCA mengusulkan agar sebagian laba dialokasikan untuk dividen tunai, dan sisanya dimasukkan ke laba ditahan.
Kondisi Keuangan BBCA yang Mendukung Dividen Naik
1. Laba Bersih Tumbuh 4,9% di 2025
BBCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun sepanjang 2025. Angka ini naik 4,9% secara tahunan (year-on-year), menunjukkan konsistensi kinerja meski di tengah tekanan margin bunga bersih (NIM).
2. Pendapatan Bunga Bersih Diproyeksikan Naik
Riset dari CGS International memperkirakan pendapatan bunga bersih BBCA akan mencapai Rp88,23 triliun pada 2026, naik 3% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara laba bersih diproyeksikan naik 5,7% menjadi Rp60,82 triliun.
3. Kinerja Januari 2026 Menjanjikan
Pada Januari 2026 saja, BBCA mencatat laba bersih sebesar Rp5 triliun, naik 5,8% secara tahunan. Peningkatan ini didukung oleh kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 11% dan penurunan beban pencadangan sebesar 54%.
Faktor Pendukung Stabilitas Laba
1. Rasio CASA Mencapai 84,8%
Posisi likuiditas BBCA tetap kuat dengan rasio dana murah (CASA) mencapai 84,8%. Angka ini mencerminkan efisiensi biaya dana dibandingkan bank sejenis.
2. Loan to Deposit Ratio (LDR) Rendah di 77,4%
LDR yang masih rendah menunjukkan bahwa bank memiliki ruang untuk menyalurkan kredit tanpa terburu-buru. Ini menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas profitabilitas jangka panjang.
3. NPL Terjaga di 1,6%
Kualitas aset BBCA juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di kisaran 1,6%. Manajemen risiko yang konservatif dan buffer pencadangan yang kuat menjadi andalan utama.
Proyeksi Kinerja 2026
1. Pertumbuhan Kredit Diproyeksikan 10–11%
Samuel Sekuritas memperkirakan kredit BBCA akan tumbuh sekitar 10–11% pada 2026. Margin bunga bersih diproyeksikan berada di kisaran 5,4–5,6%, dengan biaya kredit sekitar 40–50 basis poin.
2. Laba Bersih Naik Jadi Rp61,8 Triliun
Dari sisi profitabilitas, laba bersih BBCA diproyeksikan meningkat 7,4% secara tahunan menjadi Rp61,8 triliun pada 2026, naik dari Rp57,5 triliun di 2025.
3. Strategi Transaction Banking Terus Dikejar
Strategi pendanaan berbasis transaksi dan dominasi dana murah (CASA) terus menjadi pilar utama pertumbuhan kinerja BBCA. Pendekatan ini dinilai efektif menjaga stabilitas pendapatan di tengah volatilitas suku bunga.
Rekomendasi Saham dari Analis
| Institusi | Rekomendasi | Target Harga |
|---|---|---|
| CGS International | Beli | Rp10.000 |
| Samuel Sekuritas | Beli | Rp8.600 |
CGS International mempertahankan rekomendasi beli terhadap BBCA dengan target harga Rp10.000 per saham. Target ini memberikan potensi kenaikan sekitar 43% dari harga penutupan akhir tahun lalu.
Samuel Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp8.600 per saham. Analis mereka menilai bahwa strategi transaction banking serta basis CASA yang kuat akan terus menopang pertumbuhan laba.
Disclaimer
Proyeksi dan data dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan riset dan analisis terkini. Nilai dividen, laba, serta harga saham bisa berubah tergantung kondisi makroekonomi, regulasi, dan faktor pasar lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Artikel ini tidak bermaksud mengajak membeli atau menjual instrumen investasi apapun.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













