Upaya pemerintah dalam mendorong ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai menunjukkan dampak positif di sektor perbankan, khususnya bank pelat merah. Salah satu ekonom menilai bahwa stimulus yang diberikan kepada UMKM bukan hanya menghidupkan roda ekonomi kerakyatan, tapi juga menjadi pendorong kinerja keuangan bank-bank BUMN.
Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuahan Indef, Abdul Manap Pulungan, menyatakan bahwa bank pelat merah memiliki peluang besar untuk menopang laba melalui program-program yang mendukung ekonomi kerakyatan. Menurutnya, Himbara (Himpunan Bank Umum Milik Negara) punya peran strategis sebagai agen pengembangan ekonomi nasional. Dengan menghidupkan ekosistem usaha kecil, mereka tidak hanya menjalankan peran sosial, tapi juga menciptakan peluang bisnis baru yang berkelanjutan.
Potensi Pendapatan Bank BUMN dari Ekosistem UMKM
Mendukung ekosistem UMKM memberikan efek ganda bagi bank pelat merah. Di satu sisi, mereka berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, aktivitas ini menciptakan basis nasabah baru dan meningkatkan pendapatan operasional. Namun, Manap menekankan bahwa bank harus tetap menjaga kualitas portofolio agar tidak mengorbankan profitabilitas demi program pemerintah.
- Fokus pada sektor produktif yang sudah teruji risikonya
- Memperluas layanan digital untuk menjangkau pelaku UMKM
- Menjaga rasio NPL tetap rendah agar laba tetap stabil
Langkah-langkah ini penting agar bank bisa berperan maksimal tanpa mengorbankan kesehatan keuangan jangka panjang.
Kinerja Bank Mandiri sebagai Contoh Nyata
Bank Mandiri menjadi salah satu contoh bagaimana strategi penguatan sektor produktif dan digitalisasi bisa meningkatkan kinerja keuangan. Hingga Februari 2026, bank ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp8,9 triliun, naik 16,7% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh semakin aktifnya transaksi digital melalui aplikasi Livin’ by Mandiri.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa peningkatan laba tidak lepas dari peningkatan aktivitas transaksi digital nasabah. Selain itu, pendapatan berbasis komisi juga mengalami pertumbuhan signifikan berkat ekosistem digital yang semakin berkembang.
Berikut rincian kinerja keuangan Bank Mandiri hingga Februari 2026:
| Indikator | Nilai | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp8,9 triliun | +16,7% |
| Penyaluran Kredit | Rp1.513,1 triliun | +15,7% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | Rp1.644,8 triliun | +16,3% |
| Volume Transaksi Digital | 738,7 juta transaksi | +28% |
| Pendapatan Komisi Livin’ | Rp625 miliar | +45,3% |
| Pendapatan Komisi Kopra | Rp421 miliar | +29,3% |
| Net Interest Income (NPL) | Rp13,7 triliun | +9,16% |
| Cost-to-Income Ratio (CIR) | 37,21% | – |
| Rasio NPL | 0,98% | – |
Peran Digitalisasi dalam Mendorong Pertumbuhan
Digitalisasi menjadi salah satu pilar utama dalam strategi Bank Mandiri. Aplikasi Livin’ by Mandiri tidak hanya mempermudah transaksi nasabah, tapi juga menjadi alat untuk menjangkau pelaku UMKM yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan. Dengan semakin banyaknya transaksi digital, pendapatan komisi yang bersumber dari layanan ini pun meningkat.
Peningkatan pendapatan komisi ini menunjukkan bahwa ekosistem digital tidak hanya bermanfaat bagi nasabah, tapi juga memberikan kontribusi nyata pada pendapatan operasional bank. Terutama dari layanan pembayaran dan transaksi yang digunakan oleh pelaku usaha kecil.
Efisiensi Operasional dan Manajemen Risiko
Selain pertumbuhan pendapatan, Bank Mandiri juga menunjukkan peningkatan efisiensi operasional. Rasio Cost-to-Income (CIR) yang turun ke level 37,21% menunjukkan bahwa pengelolaan biaya semakin disiplin. Ini menjadi indikator bahwa bank tidak hanya tumbuh, tapi juga tumbuh secara produktif dan efisien.
Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio NPL sebesar 0,98% dan coverage ratio mencapai 246,5%. Angka ini menunjukkan bahwa bank menjalankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta memperkuat manajemen risiko secara konsisten.
Sinergi Program Pemerintah dan Strategi Bisnis Bank
Program pemerintah yang mendukung UMKM memberikan peluang besar bagi bank pelat merah untuk memperluas basis nasabah dan meningkatkan pendapatan. Namun, penting bagi bank untuk menjaga keseimbangan antara peran pengembangan ekonomi dan tujuan bisnisnya.
Bank Mandiri membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, bank bisa menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus menjaga kinerja keuangan yang sehat. Pendekatan digital dan fokus pada sektor produktif menjadi kunci keberhasilan ini.
Penutup
Dukungan terhadap UMKM bukan hanya soal pemerataan ekonomi, tapi juga peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh bank pelat merah. Dengan strategi yang tepat, bank bisa menjadi agen penggerak ekonomi sekaligus menjaga profitabilitasnya. Bank Mandiri menjadi contoh bagaimana sinergi program pemerintah dan strategi bisnis bisa menghasilkan kinerja yang optimal.
Disclaimer: Data yang disajikan bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan resmi dari masing-masing pihak terkait.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













