Penyaluran kredit perbankan di Indonesia mencapai angka Rp8.559 triliun pada Februari 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan (YoY) sebesar 9,37%. Meski sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan di Januari 2026 yang mencapai 9,96%, nilai kredit secara keseluruhan tetap mengalami peningkatan dari bulan sebelumnya.
Data ini dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Pengawas Eksekutif Perbankan, Dian Ediana Rae. Ia menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit tetap berjalan meskipun menghadapi tantangan di tengah dinamika ekonomi nasional.
Penyaluran Kredit dan Jenisnya
Penyaluran kredit tidak merata di semua sektor. Beberapa jenis kredit menunjukkan performa yang lebih baik dibanding lainnya. Ini menunjukkan bahwa orientasi perbankan masih mengutamakan sektor tertentu yang dianggap lebih produktif atau berisiko rendah.
1. Kredit Investasi
Kredit Investasi menjadi yang tertinggi pertumbuhannya, yakni 20,72% YoY. Angka ini menunjukkan bahwa sektor investasi masih menjadi andalan pertumbuhan ekonomi. Bank-bank menyalurkan dana dalam bentuk pembiayaan proyek infrastruktur, perluasan usaha, hingga pengadaan teknologi.
2. Kredit Konsumsi
Kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,34% YoY. Meski lebih rendah dari kredit investasi, angka ini tetap menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih cukup kuat. Kredit ini biasanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif seperti pembelian kendaraan, elektronik, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
3. Kredit Modal Kerja
Pertumbuhan kredit modal kerja mencatatkan kenaikan 3,88% YoY. Angka ini menunjukkan bahwa sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) masih membutuhkan dukungan likuiditas untuk menjalankan operasional harian. Namun, pertumbuhan ini masih di bawah rata-rata, yang bisa jadi menunjukkan adanya keterbatasan akses atau kepercayaan dari pihak perbankan.
Penghimpunan Dana dan Rasio Keuangan
Selain penyaluran kredit, sisi penghimpunan dana juga menunjukkan perkembangan positif. Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Februari 2026 mencapai Rp10.102 triliun, naik 13,18% YoY dari periode yang sama tahun lalu.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 84,72%. Angka ini menunjukkan bahwa bank masih memiliki ruang untuk menyalurkan lebih banyak kredit tanpa mengganggu likuiditas.
Rasio Permodalan
Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 25,83%. Angka ini jauh di atas ambang batas minimum 8%, yang menunjukkan bahwa industri perbankan tetap dalam kondisi sehat secara permodalan.
Profitabilitas
Net Interest Margin (NIM) tercatat di angka 4,31%, sedikit turun dari 4,46% di bulan sebelumnya. Penurunan ini bisa disebabkan oleh penyesuaian suku bunga acuan atau perubahan pola peminjaman nasabah.
Return on Assets (ROA) juga mengalami penurunan kecil, dari 2,49% menjadi 2,37%. Meski demikian, angka ini masih berada dalam kisaran wajar dan menunjukkan bahwa bank tetap menguntungkan.
Profil Risiko dan Likuiditas
Risiko kredit menjadi salah satu perhatian utama dalam sistem perbankan. Pada Februari 2026, rasio Non-Performing Loan (NPL) gross mencapai 2,17%, naik dari 2,14% di bulan sebelumnya. Meski mengalami kenaikan, angka ini masih dalam batas wajar yang ditetapkan regulator.
NPL net berada di level 0,83%, menunjukkan bahwa sebagian besar kredit bermasalah sudah dicadangkan dengan baik. Rasio Loan at Risk (LAR) mencapai 9,24%, yang berarti bank telah menyiapkan dana cadangan yang memadai untuk mengantisipasi risiko ke depannya.
Likuiditas
Dari sisi likuiditas, alat likuid mencapai Rp2,768 triliun. Rasio alat likuid terhadap Dana Non-Core Deposit (AL/NCD) berada di level 121,29%. Sementara rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 27,4%. Angka ini menunjukkan bahwa bank memiliki cadangan likuid yang cukup untuk menghadapi potensi penarikan dana mendadak.
Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat di angka 195,64%. Angka ini jauh di atas ambang batas minimum 100%, yang berarti bank memiliki kemampuan tinggi dalam menghadapi tekanan likuiditas jangka pendek.
Perbandingan Kinerja Kredit Bulan Januari dan Februari 2026
Berikut adalah perbandingan kinerja kredit antara Januari dan Februari 2026:
| Indikator | Januari 2026 | Februari 2026 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan Kredit YoY | 9,96% | 9,37% |
| Nilai Kredit | Rp8.557 triliun | Rp8.559 triliun |
| NIM | 4,46% | 4,31% |
| ROA | 2,49% | 2,37% |
| NPL Gross | 2,14% | 2,17% |
Kesimpulan
Perekonomian Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan sinyal positif dari sisi perbankan. Meskipun pertumbuhan kredit sedikit melambat dibanding bulan sebelumnya, nilai total kredit tetap naik. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih berjalan, meski dengan kehati-hatian dari pihak bank.
Likuiditas yang kuat dan rasio permodalan yang sehat memberikan pondasi kokoh bagi sektor perbankan. Namun, tetap perlu waspada terhadap risiko kredit yang mulai meningkat, terutama di tengah ketidakpastian eksternal yang masih tinggi.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersumber dari OJK dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi makroekonomi serta kebijakan regulator terkait.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













