Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti
Harga emas dunia sedikit menguat pada perdagangan Selasa, 7 April 2026. Kenaikan tipis ini terjadi meski investor masih menahan diri di tengah ketidakpastian geopolitik. Salah satu faktor yang menyertainya adalah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjelang tenggat waktu penting yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump terkait Selat Hormuz.
Menurut data dari Investing.com, Rabu, 8 April 2026, harga emas spot XAU/USD naik 0,6% menjadi USD4.678,51 per ons. Kontrak berjangka emas untuk pengiriman Juni juga naik 0,4% menjadi USD4.704,45 per ons. Meski demikian, kenaikan ini belum cukup untuk menghapus tekanan jangka panjang yang dialami logam mulia tersebut sejak konflik di Timur Tengah memanas.
Ketegangan Geopolitik dan Ancaman Trump kepada Iran
Presiden AS, Donald Trump, kembali melemparkan ancaman keras terhadap Iran pada Selasa. Ia mengancam akan menghancurkan "seluruh peradaban" Iran jika negara itu tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum tenggat waktu pukul 20:00 ET.
Penutupan efektif jalur vital tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan di jalur ini bisa memicu kenaikan inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi global.
Trump sebelumnya juga bersumpah akan menghancurkan infrastruktur penting Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik. Ia menyatakan bahwa jika AS menyerang infrastruktur energi Iran, negara tersebut akan membutuhkan waktu hingga 100 tahun untuk membangun kembali.
1. Reaksi Iran terhadap Ancaman AS
Iran merespons ancaman Trump dengan menghentikan semua pembicaraan langsung dengan AS. Meskipun begitu, negosiasi melalui mediator masih berjalan. Namun, menurut Reuters, Iran menegaskan tidak akan menyerah di bawah tekanan.
Iran juga memperingatkan bahwa jika AS menyerang pembangkit listriknya, seluruh wilayah Arab Saudi akan jatuh ke dalam kegelapan total. Qatar disebut telah menyampaikan pesan ini kepada AS pada Senin.
2. Ancaman Balasan Iran terhadap Blokade
Iran tidak hanya mengabaikan ancaman AS, tetapi juga mengancam balasan. Jika situasi semakin memburuk, sekutu Iran bisa menutup jalur air Bab-el-Mandeb. Jalur ini merupakan rute penting lainnya yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden.
3. Penurunan Harga Emas Sejak Serangan AS ke Iran
Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai akhir Februari, harga emas justru mengalami tekanan. Harga emas spot turun 11,7% selama periode tersebut.
Faktor utama penurunan ini adalah ekspektasi bahwa bank sentral global akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi memperkuat asumsi tersebut. Emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung kurang diminati dalam lingkungan suku bunga tinggi.
4. Dolar AS yang Menguat Juga Tekan Harga Emas
Dolar AS tetap menjadi aset safe haven pilihan investor selama ketegangan di Timur Tengah. Penguatan dolar membuat emas yang didenominasikan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menekan permintaan.
5. Fluktuasi Harga Emas dalam Dua Minggu Terakhir
Harga emas sempat mencapai level tertinggi dalam dua minggu di USD4.800 pada perdagangan awal Kamis lalu. Namun, hanya beberapa jam kemudian, harga langsung turun tajam ke USD4.550.
Kenaikan terbaru belum menunjukkan kekuatan yang signifikan. Investor masih menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil posisi lebih agresif.
6. Indikator Teknis Menunjukkan Sentimen Campur
MACD harian emas telah berbalik naik dari level jenuh jual. Ini bisa memberikan sedikit kepercayaan diri bagi para pelaku pasar yang bullish. Namun, prospek penurunan suku bunga tahun ini juga mulai suram karena tekanan inflasi yang meningkat.
7. Laporan Nonfarm Payrolls Perkuat Ekspektasi Suku Bunga Tinggi
Laporan Nonfarm Payrolls yang kuat pada akhir pekan lalu memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih kuat, meski inflasi belum sepenuhnya terkendali.
Dukungan dari Bank Sentral China
Bank sentral China terus membeli emas secara konsisten selama tujuh belas bulan berturut-turut. Cadangan emas China mencapai 74,38 juta ons troy murni pada akhir Maret 2026, naik dari 74,22 juta ons pada bulan sebelumnya.
Pembelian ini menunjukkan bahwa negara-negara besar masih melihat emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.
Perbandingan Harga Emas Dunia (Per April 2026)
| Jenis Emas | Harga (USD/ons) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Emas Spot XAU/USD | 4.678,51 | +0,6% |
| Emas Berjangka Juni | 4.704,45 | +0,4% |
| Emas Tertinggi (April) | 4.800,00 | +2,6% |
| Emas Terendah (April) | 4.550,00 | -2,7% |
Catatan: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar global.
Kesimpulan
Harga emas dunia memang naik tipis, tetapi investor tetap waspada. Ketegangan geopolitik, khususnya antara AS dan Iran, terus menjadi sorotan. Ancaman Trump dan respons keras dari Iran menciptakan ketidakpastian yang memaksa investor untuk tetap berhati-hati.
Emas sebagai safe haven belum menunjukkan performa kuat karena tekanan dari dolar yang menguat dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi. Namun, jika ketegangan semakin memburuk, emas bisa kembali menjadi pilihan utama investor.
Disclaimer: Harga emas sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Data dalam artikel ini hanya untuk informasi umum dan bukan sebagai saran investasi. Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













