Nasional

Dampak Konflik AS dan Iran Memicu Lonjakan Harga Minyak Dunia Sepanjang Tahun 2026 Ini

Rista Wulandari
×

Dampak Konflik AS dan Iran Memicu Lonjakan Harga Minyak Dunia Sepanjang Tahun 2026 Ini

Sebarkan artikel ini
Dampak Konflik AS dan Iran Memicu Lonjakan Harga Minyak Dunia Sepanjang Tahun 2026 Ini

Gejolak harga minyak dunia kembali mencuat ke permukaan setelah ketegangan antara dan Iran memasuki fase baru yang penuh ketidakpastian. Pasar global merespons negatif perkembangan diplomatik terkini yang membuat harga ini melambung tinggi di awal pekan.

Kondisi ini dipicu oleh penolakan tegas terhadap proposal perdamaian yang diajukan untuk meredam konflik berkepanjangan. Akibatnya, stabilitas pasokan energi global kini berada di bawah bayang-bayang risiko yang kian nyata.

Dampak Geopolitik terhadap Harga Minyak

Pergerakan dunia menunjukkan tren kenaikan signifikan setelah harapan akan kesepakatan damai memudar. Pasar sempat mengalami penurunan harga pada pekan sebelumnya, namun sentimen negatif dari Washington membalikkan keadaan dengan cepat.

Berikut adalah rincian berdasarkan data per 11 :

Jenis Minyak Perubahan Harga Harga per Barel
Brent (Juli) +2,9% USD 104,22
WTI (Juni) +2,8% USD 98,03

Data tersebut mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai keberlanjutan penutupan Selat Hormuz. Jalur perdagangan vital ini menjadi kunci utama dalam distribusi minyak global, sehingga setiap hambatan di sana akan langsung berdampak pada harga di tingkat .

Ketidakpastian ini diperparah dengan retorika politik yang semakin memanas antara kedua negara. Penolakan terhadap proposal perdamaian dianggap sebagai kemunduran diplomatik yang signifikan, terutama karena isu ambisi nuklir yang belum menemukan titik temu.

Faktor Pemicu Ketegangan di Selat Hormuz

Konflik yang melibatkan kedaulatan atas Selat Hormuz telah menciptakan hambatan logistik yang serius bagi kapal-kapal komersial. Situasi di lapangan yang semakin kritis memaksa para pelaku industri energi untuk bersiap menghadapi skenario terburuk dalam jangka panjang.

Beberapa poin utama yang menjadi hambatan dalam negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran meliputi:

  1. Pengabaian isu ambisi nuklir dalam proposal yang diajukan oleh pihak Iran.
  2. Tuntutan Iran terkait pengakuan kedaulatan penuh atas wilayah Selat Hormuz.
  3. kompensasi atas kerusakan perang yang dianggap tidak dapat diterima oleh pihak Amerika Serikat.
  4. Lemahnya gencatan senjata yang saat ini sedang berlangsung di lapangan.

Analisis dari pihak industri menyebutkan bahwa normalisasi pasar minyak tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Bahkan jika selat tersebut dibuka kembali dalam waktu dekat, proses penyeimbangan pasokan global diprediksi memerlukan waktu berbulan-bulan hingga tahun 2027.

Rencana Kebijakan Domestik Amerika Serikat

Pemerintah Amerika Serikat mulai mempertimbangkan langkah-langkah darurat untuk meredam dampak kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri. Tekanan inflasi yang dirasakan warga akibat lonjakan harga bensin menjadi perhatian utama bagi para pembuat kebijakan.

Terdapat beberapa langkah yang sedang dipertimbangkan untuk meringankan beban biaya energi bagi masyarakat:

  1. Pengajuan rancangan undang-undang untuk penangguhan pajak bensin federal.
  2. Evaluasi terhadap besaran pajak bahan bakar yang saat ini mencapai 18,4 sen per galon untuk bensin.
  3. Inisiasi Proyek Kebebasan untuk mengawal kapal komersial melintasi Selat Hormuz dengan aman.
  4. Koordinasi diplomatik dengan Tiongkok untuk membahas perdagangan dan stabilitas energi.

Langkah penangguhan pajak bensin ini masih menunggu persetujuan dari Kongres. Jika disahkan, kebijakan ini diharapkan mampu memberikan sedikit ruang napas bagi warga Amerika yang saat ini menghadapi harga rata-rata bensin nasional di angka USD 4,52 per galon.

Proyeksi Persediaan Minyak Mentah

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada data mingguan dari Badan Informasi Energi atau EIA. Data ini menjadi indikator penting untuk melihat seberapa besar dampak penutupan Selat Hormuz terhadap ekspor minyak mentah dan produk olahan Amerika Serikat.

Para ahli strategi energi memproyeksikan adanya dinamika dalam persediaan minyak mentah dengan rincian sebagai berikut:

  • Penurunan persediaan minyak mentah diperkirakan mencapai 1,3 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 8 Mei.
  • Ekspor minyak mentah tetap berada pada level tinggi meskipun terdapat volatilitas pasar.
  • Pelepasan cadangan minyak strategis atau SPR terus dilakukan untuk menstabilkan pasokan domestik.
  • peningkatan penarikan cadangan minyak strategis diprediksi mencapai 1,2 juta barel per hari.

Kombinasi antara ekspor yang kuat dan pelepasan cadangan minyak strategis menciptakan volatilitas dalam statistik mingguan. Pasar akan terus memantau apakah langkah-langkah ini cukup efektif untuk menahan laju kenaikan harga di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut.

Pertemuan puncak yang akan datang antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga menjadi sorotan. Mengingat hubungan ekonomi yang erat antara Beijing dan Teheran, hasil dari pertemuan tersebut berpotensi menjadi penentu arah kebijakan energi dan diplomasi di kawasan Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan.


Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data dan informasi yang tersedia pada saat penulisan. Harga komoditas, kebijakan pemerintah, dan situasi geopolitik bersifat dinamis serta dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pembaca disarankan untuk selalu memantau perkembangan berita terkini dari sumber resmi terkait.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.