Musim mudik menjelang Lebaran 2026 diprediksi bakal kembali memicu lonjakan permintaan kendaraan, khususnya mobil. Tren mudik menggunakan mobil pribadi semakin populer, terutama di kalangan masyarakat perkotaan yang ingin fleksibilitas dan kenyamanan saat bepergian. Fenomena ini menjadi peluang emas bagi sektor pembiayaan kendaraan, baik baru maupun bekas.
Permintaan pembiayaan mobil mengalami peningkatan konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, dari tahun 2022 hingga 2025, piutang pembiayaan kendaraan roda empat tumbuh rata-rata 6,80% secara tahunan (year-on-year). Angka ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap skema kredit atau leasing mobil semakin tinggi, terutama menjelang musim mudik.
Permintaan Mobil Bekas Naik Tajam Jelang Lebaran
Menjelang Lebaran 2026, permintaan mobil bekas diproyeksikan akan melonjak lebih tinggi dibanding mobil baru. Data OJK menunjukkan bahwa pada Januari 2026 saja, total penyaluran pembiayaan roda empat mencapai Rp229,43 triliun. Dari jumlah itu, mobil bekas mencatat pertumbuhan rata-rata 12,75% (YoY), jauh lebih tinggi dibanding mobil baru.
Fenomena ini mencerminkan preferensi masyarakat terhadap harga yang lebih terjangkau. Banyak orang memilih mobil bekas karena lebih hemat, namun tetap bisa menikmati fitur dan kenyamanan mobil yang relatif baru. Ditambah lagi, skema pembiayaan untuk mobil bekas kini semakin fleksibel dan mudah diakses.
-
Harga lebih terjangkau
Banyak konsumen memilih mobil bekas karena harganya lebih ramah di kantong. Dengan anggaran terbatas, mereka tetap bisa memiliki mobil layak pakai tanpa harus mengeluarkan dana besar. -
Skema pembiayaan fleksibel
Perusahaan pembiayaan kini menawarkan berbagai opsi cicilan dan tenor yang menarik untuk mobil bekas. Hal ini membuat aksesibilitas pembiayaan semakin terbuka lebar.
Tantangan di Balik Peluang
Meski permintaan tinggi, industri multifinance juga menghadapi sejumlah tantangan menjelang Lebaran 2026. Salah satunya adalah masih tingginya risiko kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF). Kondisi ini membuat perusahaan pembiayaan lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama untuk mobil bekas.
Jodjana Jody, praktisi sekaligus pengamat industri pembiayaan, menyebut bahwa saat ini stok mobil baru terbatas. Hal ini membuat pasar mobil bekas menjadi lebih ramai. Namun, multifinance harus tetap menjaga kualitas portofolio kredit agar tidak terjebak risiko macet.
-
Stok mobil baru terbatas
Keterbatasan pasokan mobil baru membuat permintaan mobil bekas meningkat. Namun, hal ini juga memicu risiko overpricing di pasar sekunder. -
Risiko NPF yang belum pulih sepenuhnya
Meski permintaan tinggi, perusahaan pembiayaan tetap harus waspada terhadap risiko kredit macet. Banyak lembaga kini menerapkan screening ketat sebelum menyetujui pembiayaan.
Strategi Multifinance Menjelang Lebaran
Untuk memaksimalkan peluang di musim mudik 2026, perusahaan pembiayaan mulai menyesuaikan strategi. OJK sendiri telah mengimbau agar lembaga pembiayaan mengoptimalkan segmen mobil bekas dan baru dengan memperluas jaringan serta menjaga kualitas pembiayaan.
Berikut beberapa langkah yang diambil oleh industri:
-
Memperluas jaringan distribusi
Banyak perusahaan pembiayaan menjalin kerja sama dengan dealer mobil, baik baru maupun bekas, untuk memperluas akses konsumen. -
Menawarkan program khusus Lebaran
Program cicilan ringan, bunga rendah, atau tenor panjang menjadi daya tarik utama bagi calon konsumen yang ingin mudik dengan mobil pribadi. -
Meningkatkan digitalisasi layanan
Proses pengajuan kredit kini semakin cepat dan mudah melalui aplikasi digital. Ini memungkinkan konsumen untuk mengajukan pembiayaan dari rumah tanpa harus datang ke kantor.
Perbandingan Skema Pembiayaan Mobil Baru vs Bekas
| Kriteria | Mobil Baru | Mobil Bekas |
|---|---|---|
| Harga | Lebih mahal | Lebih terjangkau |
| Bunga | Relatif stabil | Bisa lebih tinggi |
| Tenor maksimal | Hingga 7 tahun | Umumnya 5-6 tahun |
| Proses pengajuan | Standar | Lebih ketat |
| Jaminan | Tidak wajib di awal | Sering diperlukan |
Skema pembiayaan mobil baru umumnya lebih mudah karena nilai jaminan lebih tinggi dan risiko lebih kecil. Namun, untuk mobil bekas, lembaga pembiayaan sering kali mewajibkan jaminan tambahan atau uang muka yang lebih besar.
Potensi Pasar dan Proyeksi Pertumbuhan
Melihat tren permintaan yang terus meningkat, pasar pembiayaan mobil diperkirakan akan terus tumbuh menjelang Lebaran 2026. OJK memperkirakan pertumbuhan pembiayaan kendaraan roda empat bisa mencapai lebih dari 7% secara tahunan jika kondisi ekonomi dan stok kendaraan stabil.
Namun, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
- Inflasi dan kenaikan suku bunga
- Kebijakan moneter Bank Indonesia
- Stok kendaraan dari produsen
- Kebijakan pemerintah terkait impor mobil bekas
Disclaimer
Data dan proyeksi yang disajikan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan tren terkini dan informasi resmi dari OJK per Januari 2026. Angka dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi makro, dan dinamika pasar otomotif secara global.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.










