Industri pembiayaan di Tanah Air mulai merasakan tekanan dari melemahnya daya beli masyarakat. Pada awal 2026, non-performing finance (NPF) industri multifinance mencatatkan kenaikan menjadi 2,72%, naik dari level 2,51% di akhir 2025. Lonjakan ini menjadi catatan penting bagi pelaku industri untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit, seiring langkah pemerintah yang mulai mengetat anggaran dan mengurangi subsidi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sejumlah perusahaan pembiayaan bahkan mencatat NPF di atas 5%. Meski tidak dirinci jumlah pastinya, OJK menyebut bahwa lonjakan ini terjadi di proyek-proyek di wilayah tertentu. Misalnya, dari Sukoharjo yang menjadi penyumbang NPF tertinggi di Desember 2025, bergeser ke Kabupaten Kerinci pada Januari 2026.
Faktor di Balik Naiknya NPF Multifinance
1. Melemahnya Daya Beli Masyarakat
Salah satu penyebab utama lonjakan NPF adalah melemahnya daya beli masyarakat. Inflasi pangan dan sulitnya lapangan kerja di sektor formal membuat banyak debitur mengalami kesulitan membayar angsuran. Bahkan, fenomena PHK yang terus berlangsung turut memperparah situasi ini.
2. Kebiasaan Kredit yang Berisiko
Praktik jual beli motor hanya dengan STNK tanpa BPKB juga menjadi pemicu naiknya NPF. Kebiasaan ini membuat risiko gagal bayar meningkat karena kepemilikan kendaraan belum sepenuhnya lunas, namun sudah dialihkan ke pihak lain.
3. Kondisi Eksternal yang Tidak Menguntungkan
Disrupsi rantai pasok akibat ketegangan global, seperti perang antara Iran-Israel, juga berdampak pada kenaikan biaya hidup. Hal ini memperburuk kondisi ekonomi masyarakat, terutama di kalangan debitur menengah ke bawah yang menjadi basis utama industri multifinance.
Strategi Perusahaan Hadapi Lonjakan NPF
1. Selektivitas dalam Pemberian Kredit
Banyak perusahaan mulai menerapkan prinsip selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Salah satunya dengan melakukan peer review dari tetangga atau kolega calon debitur. Selain itu, teknologi credit scoring berbasis geografis juga digunakan untuk mengevaluasi risiko berdasarkan lokasi domisili.
2. Peningkatan Fungsi Collection
Perusahaan juga mulai lebih proaktif dalam penagihan. Langkah ini mencakup reminder rutin hingga eksekusi kendaraan dari debitur yang benar-benar tidak mampu membayar. Penagihan yang disiplin diharapkan bisa menekan jumlah kredit bermasalah.
3. Penyesuaian Bauran Portofolio
Beberapa perusahaan melakukan penyesuaian pada komposisi portofolio. Misalnya, membatasi penyaluran kredit di sektor sepeda motor yang memiliki data NPF tinggi. Ini dilakukan untuk menjaga kualitas portofolio tetap sehat.
Respons Asosiasi dan Regulator
1. Asosiasi Dorong Pengetatan Proses Approval
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menyatakan bahwa pengetatan proses persetujuan kredit telah dilakukan sejak 2025. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tren keterlambatan pembayaran dari debitur yang mengajukan kredit pada 2022 hingga 2024.
2. OJK Awasi Perusahaan dengan NPF Tinggi
OJK terus memantau perusahaan pembiayaan dengan NPF di atas 5%. Meski tidak merinci jumlahnya, regulator ini menegaskan bahwa pengawasan ketat tetap dilakukan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan.
Perbandingan Kinerja Perusahaan Pembiayaan Awal 2026
| Perusahaan | NPF (%) | Catatan |
|---|---|---|
| Mandiri Utama Finance (MUF) | 1,30% | Menurun dari 1,36% tahun sebelumnya |
| Astra Credit Companies (ACC) | <1% | Stabil dan terjaga |
| Adira Finance (ADMF) | 2,0% | Stabil, di bawah rata-rata industri |
| Clipan Finance (CFIN) | – | Fokus pada mitigasi risiko dan selektivitas |
Catatan: Data bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan internal perusahaan dan kondisi eksternal.
Tantangan di Lapangan
1. Debitur yang Tidak Kooperatif
Salah satu tantangan utama adalah debitur yang gagal bayar namun tidak kooperatif. Idealnya, debitur bisa mengembalikan unit kendaraan secara sukarela. Namun, kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya, dengan banyaknya keluhan terhadap debt collector yang dianggap terlalu agresif.
2. Perlambatan Pertumbuhan Piutang
Akibat pengetatan kredit, pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance hanya mencatat kenaikan 0,61% year-on-year pada 2025. Angka ini jauh di bawah ekspektasi dan menunjukkan bahwa industri sedang mengalami perlambatan pertumbuhan.
Langkah Jangka Panjang
1. Fokus pada Sektor yang Tahan Banting
Beberapa pelaku industri mulai memfokuskan pembiayaan pada sektor yang lebih tahan terhadap guncangan ekonomi global. Misalnya, sektor kendaraan komersial atau alat berat yang memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan sepeda motor.
2. Penguatan Literasi Keuangan
Perusahaan seperti ACC terus melakukan edukasi keuangan kepada masyarakat. Tujuannya agar calon debitur lebih paham tentang kewajiban finansial dan mengurangi risiko gagal bayar.
Kesimpulan
Lonjakan NPF multifinance pada awal 2026 mencerminkan tantangan yang dihadapi industri di tengah tekanan ekonomi. Namun, dengan strategi mitigasi risiko yang tepat, seperti selektivitas kredit, peningkatan fungsi collection, dan penyesuaian portofolio, sejumlah perusahaan masih bisa menjaga kualitas pembiayaan tetap terkendali.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro, kebijakan regulator, dan dinamika internal perusahaan.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













