Dini hari di Baghdad dikejutkan oleh dua ledakan keras yang menggema di beberapa wilayah ibu kota Irak. Serangan udara yang terjadi pada Sabtu, 14 Maret 2026, menargetkan kelompok bersenjata Kataeb Hezbollah yang memiliki keterkaitan erat dengan Iran. Dua anggota tewas dalam insiden ini, termasuk seorang tokoh kunci dalam kelompok tersebut.
Saksi mata melaporkan melihat asap tebal mengepul dari kawasan Arasat, salah satu zona yang kerap menjadi basis kelompok bersenjata pro-Iran. Ledakan pertama terjadi sekitar pukul 02.15 waktu setempat, diikuti suara sirene ambulans yang memecah keheningan malam. Kekhawatiran menyebar cepat di tengah warga yang terbangun dari tidur akibat dentuman keras itu.
Kronologi Serangan Udara di Baghdad
1. Serangan Pertama: Rudal Hantam Rumah Kataeb Hezbollah
Sekitar pukul 02.15 dini hari, sebuah rudal menghantam sebuah bangunan yang digunakan oleh Kataeb Hezbollah. Informasi dari sumber keamanan menyebut bahwa salah satu tokoh penting dalam kelompok tersebut gugur dalam serangan ini. Dua anggota lainnya mengalami luka-luka serius dan dibawa ke rumah sakit terdekat.
Bangunan yang menjadi target berada di kawasan Arasat, wilayah yang dikenal sebagai markas beberapa kelompok bersenjata yang mendapat dukungan dari Iran. Warga sekitar melaporkan guncangan hebat yang terasa hingga beberapa ratus meter dari lokasi kejadian.
2. Serangan Kedua: Kendaraan Dihantam di Baghdad Timur
Dua jam setelah serangan pertama, sebuah kendaraan yang melintas di wilayah timur Baghdad menjadi target serangan udara berikutnya. Dalam insiden ini, satu orang anggota Hashed al-Shaabi tewas. Pejabat dari kelompok tersebut mengonfirmasi bahwa korban merupakan bagian dari Kataeb Hezbollah.
Hashed al-Shaabi, atau yang dikenal sebagai Popular Mobilisation Forces (PMF), awalnya berdiri sebagai pasukan paramiliter, namun kini telah diintegrasikan ke dalam angkatan bersenjata resmi Irak. PMF mencakup berbagai brigade, termasuk yang memiliki afiliasi dengan Iran.
Kelompok Kataeb Hezbollah dan Peran Mereka di Irak
Kataeb Hezbollah adalah salah satu kelompok bersenjata yang memiliki sejarah panjang dalam konflik Irak. Kelompok ini dikenal sebagai bagian dari Hashed al-Shaabi dan memiliki hubungan kuat dengan Iran, baik dalam aspek ideologi maupun dukungan militer.
Sejak tahun 2014, Kataeb Hezbollah aktif dalam memerangi kelompok ISIS di Irak dan Suriah. Namun, keberadaan mereka juga kerap menjadi sorotan internasional karena dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan.
Profil Singkat Kataeb Hezbollah
| Aspek | Informasi |
|---|---|
| Didirikan | 2003 |
| Afiliasi | Hashed al-Shaabi, Iran |
| Basis Operasi | Baghdad dan wilayah selatan Irak |
| Peran Utama | Perlawanan terhadap ISIS, aktivitas anti-AS dan anti-Israel |
Spekulasi Pelaku dan Respons Internasional
Belum ada pihak yang secara resmi mengklaim tanggung jawab atas kedua serangan ini. Namun, sejumlah sumber menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel sering dikaitkan dengan serangan-serangan serupa terhadap kelompok bersenjata pro-Iran di Irak.
Pada tahun-tahun sebelumnya, AS beberapa kali melakukan serangan udara terhadap posisi Kataeb Hezbollah sebagai respons terhadap ancaman terhadap pasukan AS di kawasan. Namun, dalam kasus terbaru ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah AS atau Israel.
Faktor yang Mendorong Serangan
- Balas dendam atas serangan terhadap pasukan asing
- Upaya melemahkan jaringan pro-Iran di Irak
- Tekanan dari kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah
Respons dari Pemerintah Irak dan Kelompok Bersenjata
Pemerintah Irak belum memberikan pernyataan resmi terkait kedua serangan tersebut. Namun, beberapa pejabat senior menyatakan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan di antara kekuatan regional yang terlibat di Irak.
Kataeb Hezbollah sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun, sumber-sumber terkait kelompok ini menyatakan bahwa mereka akan merespons dengan tindakan yang sesuai.
Kemungkinan Dampak Jangka Pendek
- Peningkatan ketegangan antara kelompok pro-Iran dan kekuatan internasional
- Penurunan keamanan di wilayah Baghdad
- Potensi eskalasi konflik di kawasan
Peran Hashed al-Shaabi dalam Konflik Regional
Hashed al-Shaabi atau Popular Mobilisation Forces (PMF) awalnya dibentuk sebagai pasukan sukarelawan untuk melawan ISIS. Namun, seiring waktu, kelompok ini berkembang menjadi kekuatan militer yang signifikan di Irak.
Struktur dan Afiliasi Hashed al-Shaabi
| Kelompok | Afiliasi | Peran |
|---|---|---|
| Kataeb Hezbollah | Pro-Iran | Operasi militer dan intelijen |
| Asaib Ahl al-Haq | Pro-Iran | Perlawanan terhadap pasukan asing |
| Badr Organization | Pro-Iran | Operasi militer dan politik |
Hashed al-Shaabi memiliki ribuan anggota dan terlibat dalam berbagai operasi militer, baik melawan ISIS maupun dalam konflik regional. Integrasi mereka ke dalam angkatan bersenjata Irak tidak serta merta menghilangkan hubungan mereka dengan Iran.
Potensi Eskalasi dan Dampaknya
Dengan tewasnya tokoh kunci dari Kataeb Hezbollah, potensi eskalasi konflik menjadi semakin besar. Kelompok ini dikenal memiliki kemampuan balas dendam yang tinggi, terutama terhadap serangan yang dianggap sebagai ancaman terhadap struktur organisasi mereka.
Di sisi lain, AS dan Israel mungkin akan terus memantau perkembangan situasi di Irak, khususnya jika kelompok-kelompok pro-Iran mulai mengambil tindakan agresif.
Faktor yang Perlu Diwaspadai
- Kemungkinan serangan balasan dari Kataeb Hezbollah
- Peningkatan aktivitas militer di Baghdad
- Respon dari Iran terhadap serangan terhadap sekutunya
Kesimpulan
Serangan udara yang menewaskan dua anggota Kataeb Hezbollah di Baghdad menandakan kembali ketegangan yang tinggi di kawasan Timur Tengah. Dengan keterlibatan kelompok bersenjata pro-Iran dan potensi balas dendam, situasi di Irak tetap rentan terhadap eskalasi konflik.
Belum adanya klaim tanggung jawab membuat spekulasi pelaku semakin luas. Namun, pola serangan yang terjadi menunjukkan kemungkinan keterlibatan aktor internasional yang memiliki agenda strategis di kawasan.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat terkini berdasarkan laporan media dan sumber keamanan. Situasi di kawasan Timur Tengah dapat berubah dengan cepat, dan data atau pernyataan yang disebutkan dalam artikel ini mungkin tidak sepenuhnya akurat atau dapat berubah sewaktu-waktu.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.







