Perayaan Hari Kartini 2026 kali ini membawa pesan kuat tentang peran perempuan di berbagai bidang, termasuk sektor yang biasa dianggap “laki-laki”, seperti energi terbarukan. Tidak hanya soal penghargaan terhadap perjuangan Kartini, momentum ini juga menjadi cerminan nyata bagaimana perempuan kini mulai menempati posisi strategis di industri yang selama ini didominasi pria.
Salah satu sektor yang menarik untuk diamati adalah energi panas bumi. Di sinilah, langkah-langkah nyata untuk mendorong kesetaraan gender mulai menunjukkan hasil. Perempuan tidak hanya menjadi bagian dari tenaga kerja, tapi juga mulai menempati posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Perempuan di Industri Panas Bumi Makin Terlihat
Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Butuh komitmen dari berbagai pihak, terutama perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan. Salah satunya adalah KS Orka Renewables, yang mencatat hingga Maret 2026, sekitar 18 persen dari total karyawannya adalah perempuan.
Angka ini mungkin belum tergolong besar, tapi artinya cukup signifikan jika dilihat dari konteks historis industri panas bumi yang selama ini didominasi tenaga laki-laki. Perlahan tapi pasti, ruang bagi perempuan mulai terbuka.
Secara global, tren ini juga terlihat. Menurut data dari Women in Geothermal, keterlibatan perempuan di industri geothermal saat ini mencapai 20 hingga 22 persen. Ini menunjukkan bahwa langkah menuju kesetaraan tidak hanya jadi isu nasional, tapi juga menjadi perhatian global.
3 Faktor yang Dorong Perempuan Masuk ke Industri Energi
-
Kebijakan Kesetaraan Gender di Tempat Kerja
Banyak perusahaan energi mulai menerapkan kebijakan yang mendorong partisipasi perempuan. Mulai dari rekrutmen hingga promosi, semua dilakukan secara terbuka dan adil. -
Program Pengembangan Keterampilan
Pelatihan teknis dan kepemimpinan kini lebih mudah diakses oleh perempuan. Ini membuka peluang bagi mereka untuk naik ke posisi strategis. -
Perubahan Budaya Kerja
Lingkungan kerja yang lebih inklusif dan mendukung membuat perempuan merasa lebih nyaman berkontribusi, bahkan di lapangan yang sebelumnya dianggap “tidak ramah” bagi mereka.
Perempuan Bukan Sekadar Pengisi, tapi Penggerak
Perubahan ini bukan sekadar soal jumlah. Yang lebih penting adalah kualitas kontribusi yang diberikan perempuan di sektor ini. Mereka tidak hanya bekerja, tapi juga mulai memimpin proyek penting, mengambil keputusan strategis, dan membawa ide-ide segar.
Salah satu contoh nyata datang dari PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP), unit kerja KS Orka di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Di sini, perempuan seperti Nurhalimah telah berkarier hampir satu dekade.
Selama masa kerjanya, Nurhalimah merasakan langsung perubahan budaya kerja yang lebih inklusif. Ia menyebut bahwa selama hampir 10 tahun di SMGP, ia diberi kesempatan yang setara, baik dalam pelatihan maupun promosi.
“Berbagai kesempatan, mulai dari pelatihan hingga peluang promosi, terbuka secara setara. Dukungan ini memberi ruang bagi perempuan untuk tumbuh percaya diri dan berkontribusi lebih besar,” ujarnya.
5 Peran Strategis yang Kini Ditempati Perempuan
-
Project Manager
Mengelola proyek pengembangan pembangkit listrik panas bumi dengan anggaran besar dan jadwal ketat. -
Engineer Lapangan
Terlibat langsung dalam operasional teknis di lokasi panas bumi, termasuk pemantauan dan evaluasi sistem. -
Konsultan Energi
Memberikan masukan strategis dalam pengembangan kebijakan energi terbarukan di tingkat nasional. -
Manajer HSE (Health, Safety, Environment)
Bertanggung jawab atas keselamatan kerja dan pengelolaan dampak lingkungan di lokasi proyek. -
Analis Data Energi
Mengolah data produksi dan efisiensi untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.
Tantangan yang Masih Ada
Meski sudah ada kemajuan, beberapa tantangan tetap menjadi penghalang. Misalnya, masih adanya stigma bahwa perempuan tidak cocok di lapangan. Selain itu, kurangnya jaringan profesional dan kurangnya mentor perempuan juga menjadi kendala.
Namun, dengan semakin banyaknya perempuan yang berhasil menembus sektor ini, diharapkan stigma-stigma tersebut bisa perlahan hilang. Perusahaan juga terus berupaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih ramah dan mendukung.
Data Perbandingan Partisipasi Perempuan di Industri Energi
| Tahun | Partisipasi Perempuan di KS Orka (%) | Partisipasi Global di Geothermal (%) |
|---|---|---|
| 2022 | 12% | 15% |
| 2024 | 15% | 18% |
| 2026 | 18% | 22% |
Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan internal dan organisasi internasional. Angka dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan di lapangan.
Langkah Nyata Menuju Kesetaraan
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Dibutuhkan komitmen jangka panjang dari perusahaan dan pemerintah untuk terus mendorong partisipasi perempuan di sektor energi.
Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
-
Penguatan Kebijakan Inklusi
Membuat regulasi yang mendorong kesetaraan gender di tempat kerja. -
Peningkatan Akses Pendidikan Teknis
Memberikan pelatihan dan pendidikan yang relevan agar perempuan siap mengisi posisi teknis. -
Pembentukan Komunitas Profesional Perempuan
Membangun jaringan yang saling mendukung dan memberikan mentorship. -
Kampanye Perubahan Persepsi
Mengedukasi masyarakat bahwa perempuan juga bisa unggul di bidang teknis dan energi. -
Pengakuan dan Apresiasi Publik
Memberikan penghargaan kepada perempuan yang berprestasi di sektor energi sebagai bentuk motivasi bagi generasi muda.
Masa Depan yang Lebih Seimbang
Perayaan Hari Kartini 2026 bukan hanya soal mengenang jasa seorang pahlawan perempuan. Ini juga tentang melihat bagaimana perempuan hari ini terus memperluas sayapnya, bahkan di sektor-sektor yang selama ini dianggap “tidak untuk mereka”.
Industri energi terbarukan, khususnya panas bumi, menjadi salah satu bukti nyata bahwa perempuan tidak hanya mampu bertahan, tapi juga mampu memimpin dan membawa inovasi.
Dengan dukungan yang tepat, tidak menutup kemungkinan di masa depan, angka partisipasi perempuan di sektor ini akan terus meningkat. Dan siapa tahu, satu dekade lagi, kesetaraan bukan lagi isu yang dibahas, tapi sudah menjadi norma yang dijalani.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan di lapangan serta kebijakan perusahaan dan pemerintah terkait.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













