Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan, terutama bagi pelaku bisnis dan sektor keuangan yang rentan terhadap gejolak geopolitik. Salah satu bank terbesar di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), memastikan bahwa langkah antisipatif telah diambil untuk menjaga stabilitas likuiditas dan mitigasi risiko pasar. Langkah ini diambil mengingat potensi dampak yang bisa dirasakan dari ketegangan regional tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Hera F. Haryn, Executive Vice President BCA, menyampaikan bahwa bank terus memantau perkembangan situasi makroekonomi global dan domestik. Dinamika geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, menjadi salah satu variabel penting yang dicermati karena berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional. BCA pun tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan fokus pada fundamental bisnis agar kinerja tetap stabil meski di tengah ketidakpastian.
Strategi BCA Menghadapi Ketidakpastian Global
1. Menjaga Likuiditas dan Permodalan yang Solid
BCA senantiasa mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang kuat. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi gejolak yang dapat memengaruhi arus dana dan kepercayaan pasar. Dengan likuiditas yang terjaga, bank bisa tetap beroperasi optimal meski ada tekanan dari luar.
2. Pengelolaan Risiko Pasar
Untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar rupiah, BCA menjaga rasio Posisi Devisa Neto (PDN) secara konservatif. Selain itu, bank juga menerapkan kontrol limit risiko pasar untuk mengelola volatilitas nilai tukar dan suku bunga. Ini merupakan bagian dari strategi mitigasi yang dilakukan secara proaktif.
3. Evaluasi Risiko Kredit
Dari sisi pembiayaan, BCA terus melakukan monitoring terhadap risiko konsentrasi kredit. Evaluasi kualitas portofolio dan penyesuaian limit pembiayaan dilakukan, terutama pada sektor yang dinilai lebih rentan terhadap dampak dinamika global. Bank juga menjalin komunikasi erat dengan debitur yang berpotensi terdampak dan menerapkan Early Warning System untuk mendeteksi risiko sejak dini.
4. Pencadangan Risiko yang Memadai
Rasio pencadangan loan at risk (LAR) BCA tercatat sebesar 71,6% sepanjang 2025. Sementara itu, rasio pencadangan non-performing loan (NPL) mencapai 183,8%. Angka ini menunjukkan bahwa BCA telah menyiapkan bantalan risiko yang cukup memadai untuk menghadapi potensi kredit bermasalah di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dampak Geopolitik Terhadap Sektor Perbankan
1. Lonjakan Harga Energi dan Sentimen Pasar
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, menjelaskan bahwa dampak konflik geopolitik biasanya dirasakan melalui dua saluran utama: harga energi dan sentimen pasar global. Ketika ketegangan meningkat, fokus pasar langsung tertuju pada risiko gangguan pasokan energi, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
2. Tekanan pada Mata Uang dan Inflasi
Harga minyak Brent sempat naik hingga 13%, menyentuh US$82 per barel, sebelum stabil di kisaran US$77 per barel. Lonjakan ini mencerminkan tingginya premi risiko yang dipasang pasar. Jika konflik berlarut, biaya logistik dan premi asuransi bisa ikut naik, yang berujung pada tekanan inflasi dan nilai tukar.
3. Pengaruh pada Likuiditas dan Biaya Dana
Tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing dari korporasi, terutama untuk pembayaran impor dan cicilan utang. Ini bisa memicu permintaan likuiditas valas yang tinggi, sekaligus membuat bank lebih hati-hati dalam mengelola posisi likuiditasnya.
4. Kebijakan Suku Bunga yang Terbatas
Bank sentral cenderung menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi. Akibatnya, ruang gerak untuk menurunkan suku bunga menjadi terbatas. Hal ini berdampak pada biaya dana perbankan yang berpotensi tetap tinggi atau bahkan meningkat jika inflasi terus terdorong oleh lonjakan harga minyak.
Tekanan pada Profitabilitas Perbankan
1. Margin Bunga Bersih (NIM) Terancam
Saat gejolak terjadi, suku bunga dana pihak ketiga biasanya menyesuaikan lebih cepat dibandingkan bunga kredit. Kondisi ini bisa menekan margin bunga bersih (NIM) pada fase awal gejolak, karena penyesuaian bunga kredit berlangsung lebih bertahap.
2. Risiko Kredit pada Sektor Tertentu
Sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan gangguan logistik seperti transportasi, penerbangan, dan industri berat berisiko mengalami penurunan kualitas kredit. Bank harus lebih selektif dalam memberikan pembiayaan pada sektor-sektor ini.
3. Peluang dan Risiko di Sektor Ekspor
Di sisi lain, pelemahan rupiah bisa memberikan manfaat bagi sektor ekspor karena produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar global. Namun, jika biaya pengiriman dan asuransi naik, serta permintaan global melambat, manfaat ini bisa tergerus.
Tabel: Rasio Pencadangan Risiko BCA (2025)
| Jenis Pencadangan | Rasio (%) |
|---|---|
| Loan at Risk (LAR) | 71,6% |
| Non-Performing Loan (NPL) | 183,8% |
Catatan: Data di atas merupakan hasil pencatatan internal BCA sepanjang tahun 2025 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi makroekonomi.
Kesimpulan
BCA menunjukkan kesiapan yang matang dalam menghadapi gejolak geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas sektor keuangan. Dengan menjaga likuiditas, mengelola risiko pasar, serta memperkuat mitigasi kredit, bank ini tetap bisa menjaga performa di tengah ketidakpastian. Namun, tantangan tetap ada, terutama dari tekanan nilai tukar, biaya energi, dan volatilitas suku bunga yang bisa memengaruhi profitabilitas.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensial dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi makroekonomi global dan kebijakan Bank Indonesia.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













