Nasional

Dolar Amerika Serikat Menguat Tajam Menuju Rekor Tertinggi Akibat Ketegangan Geopolitik dengan Iran

Fadhly Ramadan
×

Dolar Amerika Serikat Menguat Tajam Menuju Rekor Tertinggi Akibat Ketegangan Geopolitik dengan Iran

Sebarkan artikel ini
Dolar Amerika Serikat Menguat Tajam Menuju Rekor Tertinggi Akibat Ketegangan Geopolitik dengan Iran

Dolar AS mencatatkan kenaikan signifikan pada awal perdagangan pekan ini. Lonjakan nilai tukar mata uang greenback terjadi setelah ketegangan di kawasan kembali memanas. Investor global langsung bereaksi dengan memindahkan dana ke safe-haven, salah satunya dolar AS.

Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, naik hingga 0,8 persen menjadi 98,38 pada Selasa, 3 Maret 2026. Ini merupakan level tertinggi dalam lima minggu terakhir. Lonjakan tersebut dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang berujung pada ketidakpastian pasar yang tinggi.

Dolar Jadi Pelabuhan Aman di Tengah Ketegangan Geopolitik

Ketika situasi internasional memanas, dolar biasanya menjadi pilihan utama investor. Kenaikan nilai tukarnya kali ini tidak terlepas dari serangkaian aksi militer yang terjadi akhir pekan lalu. Serangan gabungan AS-Israel ke Iran menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, memicu reaksi cepat dari Teheran dan sekutunya di kawasan.

Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah negara Teluk Persia, termasuk Israel, UEA, Qatar, Bahrain, dan Kuwait. Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa operasi militer akan terus berlanjut selama diperlukan. Pernyataan ini semakin memperjelas bahwa konflik ini bukan sesuatu yang akan selesai dalam waktu singkat.

David Morrison, analis senior di Trade Nation, menyebut pergerakan dolar kali ini sebagai sinyal kuat. Menurutnya, dolar tetap menjadi mata uang paling dipercaya di tengah gejolak geopolitik. Ia juga menilai bahwa narasi tentang de-dolarisasi global mungkin terlalu dini untuk diterapkan saat ini.

Mata Uang Dunia Bereaksi Terhadap Ketidakpastian

Tidak semua mata uang mampu bertahan di tengah gejolak ini. Euro dan pound sterling justru terlihat melemah. EUR/USD turun 0,9 persen ke level 1,1707. Pelemahan euro dipicu oleh antisipasi lonjakan akibat ketegangan di Timur Tengah.

Analisis dari ING menyebutkan bahwa lonjakan harga energi bisa memaksa investor untuk merevisi ekspektasi pertumbuhan ekonomi . Meski demikian, kondisi ekonomi global saat ini lebih stabil dibandingkan saat krisis energi Maret 2022. Namun, risiko tetap tinggi jika konflik tidak segera mereda.

GBP/USD juga terpukul, turun 0,5 persen ke 1,3417. Pound menghadapi tekanan karena investor lebih memilih aset yang dianggap aman. Sementara itu, franc Swiss (CHF) justru menguat. EUR/CHF naik 0,3 persen ke 0,9113, mencatatkan level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

ING memperkirakan bahwa Bank Sentral Swiss (SNB) akan kembali mempertimbangkan negatif. Pasar CHF saat ini menunjukkan suku bunga 1 bulan di level -12 basis poin, dan bisa turun lebih dalam jika permintaan franc terus tinggi.

Pasar Asia Turut Terguncang

Di kawasan Asia, dampak dari ketegangan ini juga terasa. USD/JPY melonjak 0,7 persen ke level 157,20. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya biaya impor energi bagi Jepang, yang sangat bergantung pada minyak mentah impor.

Bank Sentral Jepang (BoJ) diperkirakan akan lebih hati-hati dalam mengambil keputusan kebijakan moneter. Kenaikan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin tidak mungkin, mengingat ketidakpastian yang masih tinggi.

Di pasar Asia lainnya, yuan China juga terpengaruh. USD/CNY naik 0,4 persen ke 6,8821, melampaui level terendah dalam 34 bulan yang sempat dicatat minggu lalu. USD/CNY naik 0,4 persen ke 6,8821. Sementara itu, dolar Australia (AUD) terpukul. AUD/USD turun 0,3 persen ke 0,7092 karena mata uang ini sensitif terhadap risiko pasar.

Pergerakan Pasar dan Dampaknya Terhadap Investor

Tabel berikut merangkum pergerakan pasangan mata uang utama pada periode tersebut:

Pasangan Mata Uang Perubahan (%) Level Terkini Keterangan
DXY (Indeks Dolar) +0,8% 98,38 Tertinggi dalam 5 minggu
EUR/USD -0,9% 1,1707 Melemah akibat risiko energi
GBP/USD -0,5% 1,3417 Tekanan terhadap sterling
USD/JPY +0,7% 157,20 Lonjakan karena impor energi
USD/CNY +0,4% 6,8821 Di atas level terendah 34 bulan
AUD/USD -0,3% 0,7092 Dolar Australia terpukul
EUR/CHF +0,3% 0,9113 Franc Swiss menguat tajam

Apa yang Harus Dipantau Investor?

  1. Eskalasi Konflik: Setiap perkembangan lebih lanjut dalam konflik AS-Iran bisa memicu yang lebih besar. Investor disarankan untuk memantau berita secara berkala.

  2. Kebijakan Bank Sentral: Reaksi bank sentral seperti Fed, ECB, dan BoJ akan sangat menentukan arah pasar. Kebijakan suku bunga dan intervensi valuta asing bisa mengubah sentimen pasar secara signifikan.

  3. Harga Energi Global: Lonjakan akan memengaruhi mata uang negara pengimpor energi seperti Jepang dan Eropa. Ini bisa memicu pergerakan lebih lanjut di pasangan mata uang seperti USD/JPY dan EUR/USD.

  4. Sentimen Safe-Haven: Dolar AS dan franc Swiss akan terus menjadi sorotan selama ketidakpastian tinggi. Investor yang mencari portofolio aman perlu memperhatikan dinamika ini.

Kesimpulan

Lonjakan dolar AS ke level tertinggi dalam lima minggu menunjukkan bahwa investor masih memandang mata uang ini sebagai aman utama. Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, dolar tetap menjadi pilihan utama, sementara mata uang lain seperti euro dan pound menghadapi tekanan.

Pergerakan ini juga mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap risiko global. Dengan potensi eskalasi lebih lanjut, investor diimbau untuk tetap waspada dan memantau perkembangan situasi secara cermat.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan makroekonomi global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan bukan sebagai saran investasi finansial.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.