Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menembus level 10.000 sebelum akhir tahun ini. Meski saat ini IHSG sedang mengalami tekanan dan cenderung melemah, keyakinan Purbaya terhadap potensi pemulihan pasar saham tetap kuat. Menurutnya, kinerja IHSG sangat bergantung pada kondisi fundamental ekonomi nasional yang sedang terus diperkuat.
Optimisme ini disampaikan meskipun pada perdagangan Jumat (24/4/2026), IHSG ditutup terkoreksi cukup dalam. Indeks yang sebelumnya sempat berada di atas 7.500, akhirnya terperosok ke level 7.129,49, turun 249,12 poin atau 3,38 persen. Indeks LQ45 juga ikut terpuruk, turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke level 690,76. Meski begitu, Purbaya menegaskan bahwa volatilitas ini adalah hal wajar dalam jangka pendek, terutama mengingat dinamika pasar global yang belum stabil.
Penyebab Pelemahan IHSG
Pelemahan IHSG tidak datang begitu saja. Ada sejumlah faktor yang memicu tekanan pada pasar saham Tanah Air. Faktor-faktor ini berasal dari dalam dan luar negeri, menciptakan kombinasi tekanan yang cukup signifikan terhadap investor.
1. Sentimen Negatif Global
Sentimen pasar global saat ini sedang tidak bersahabat. Investor sedang was-was terhadap potensi gangguan pasokan energi di berbagai belahan dunia. Ketidakpastian ini membuat investor lebih memilih menahan diri dan menghindari risiko berlebihan, termasuk di pasar saham Indonesia.
2. Penantian Kebijakan The Fed
Pekan depan, fokus pelaku pasar akan tertuju pada pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) yang digelar oleh The Fed. Meski diperkirakan tidak akan ada perubahan suku bunga acuan AS yang saat ini berada di kisaran 3,53 hingga 3,75 persen, ketegangan terselubung tetap ada. Investor menanti sinyal apa pun yang bisa memicu pergerakan besar di pasar global.
3. Rilis Data Ekonomi AS
AS juga akan merilis sejumlah data penting, antara lain:
- Consumer Confidence
- Data perumahan
- PDB kuartal I-2026
- Personal Income dan Spending
- Indeks Harga PCE
- ISM Manufacturing Index
Data-data ini bisa memengaruhi arah kebijakan moneter AS dan berimbas ke pasar global, termasuk Indonesia.
Dampak dari Dalam Negeri
Di tengah tekanan global, faktor domestik juga turut memengaruhi pelemahan IHSG. Salah satu yang paling terasa adalah penurunan outlook kredit oleh Fitch Ratings terhadap empat bank besar Tanah Air.
1. Penurunan Outlook oleh Fitch Ratings
Fitch Ratings menurunkan outlook kredit untuk empat bank pelat merah dari “stabil” menjadi “negatif”. Keempat bank tersebut adalah:
- Bank Mandiri (BMRI)
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
- Bank Central Asia (BBCA)
- Bank Negara Indonesia (BBNI)
Penurunan outlook ini mencerminkan ketidakpastian terhadap prospek ekonomi ke depan, terutama dalam menghadapi risiko global yang masih tinggi.
2. Langkah Strategis Pemerintah di Sektor Energi
Sebagai antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat ketegangan di Timur Tengah, pemerintah mengambil langkah strategis. Salah satunya adalah pengadaan cadangan minyak mentah dari Rusia sebanyak 150 juta barel. Langkah ini diharapkan bisa menjaga stok energi nasional dan memberikan rasa aman bagi investor.
Respons Purbaya terhadap Pelemahan IHSG
Menghadapi situasi ini, Purbaya tidak terlalu panik. Ia justru menegaskan bahwa fokus utamanya adalah menjaga fundamental ekonomi nasional agar tetap kuat.
1. Fokus pada Penguatan Ekonomi
“Kalau ekonominya bagus, nanti (IHSG) naik cepat. Makanya fokus saya adalah jaga itu (ekonomi), bukan jaga IHSG,” ujar Purbaya.
Menurutnya, IHSG bukanlah target yang bisa diatur seenaknya. Indeks ini akan naik atau turun sesuai dengan kondisi ekonomi riil. Maka dari itu, menjaga stabilitas makroekonomi adalah prioritas utama.
2. Optimisme Jangka Panjang
Meski IHSG sedang melemah, Purbaya tetap yakin bahwa sepanjang tahun ini, indeks bisa kembali menguat dan menembus level psikologis 10.000. Keyakinan ini didasari oleh sejumlah faktor, seperti:
- Pertumbuhan ekonomi yang tetap positif
- Stabilitas inflasi
- Reformasi struktural yang terus berjalan
- Penguatan sektor riil
Perbandingan Kinerja IHSG dan LQ45
Berikut adalah perbandingan kinerja IHSG dan LQ45 pada perdagangan Jumat, 24 April 2026:
| Indeks | Penurunan (poin) | Persentase | Penutupan |
|---|---|---|---|
| IHSG | 249,12 | 3,38% | 7.129,49 |
| LQ45 | 25,12 | 3,51% | 690,76 |
Dari tabel terlihat bahwa LQ45 justru lebih terpuruk dalam persentase meski selisih poinnya lebih kecil. Ini menunjukkan bahwa saham unggulan sedang mengalami tekanan jual yang cukup besar.
Sektor-Saham yang Melemah
Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC, semua sebelas sektor mengalami tekanan. Penurunan terdalam terjadi pada tiga sektor berikut:
- Barang Konsumen Non Primer – Turun 4,14%
- Infrastruktur – Turun 4,03%
- Barang Energi – Turun 3,82%
Penurunan ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap isu energi dan konsumsi, dua pilar penting dalam perekonomian.
Strategi Jangka Pendek dan Tengah
Pemerintah dan otoritas moneter saat ini sedang menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar modal. Beberapa di antaranya meliputi:
- Penguatan cadangan devisa
- Pengawasan likuiditas perbankan
- Koordinasi dengan BI terkait kebijakan suku bunga
- Peningkatan investasi infrastruktur
Langkah-langkah ini diharapkan bisa memberikan landasan kuat bagi pemulihan pasar saham di kuartal kedua dan ketiga 2026.
Kesimpulan
Meski saat ini IHSG sedang berada di zona merah, optimisme terhadap pemulihan pasar tetap tinggi. Purbaya Yudhi Sadewa meyakini bahwa dengan fundamental ekonomi yang terus diperkuat, IHSG punya peluang besar untuk kembali menguat dan menembus level 10.000 sebelum akhir tahun.
Namun, tentu saja, pergerakan pasar saham tidak bisa diprediksi secara mutlak. Banyak faktor global dan domestik yang bisa memengaruhi arah IHSG ke depannya. Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan ekonomi dan kebijakan pemerintah agar bisa mengambil keputusan yang tepat.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika ekonomi global dan domestik. Artikel ini dibuat berdasarkan informasi hingga tanggal 24 April 2026.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













