Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan, Senin 9 Maret 2026, langsung menunjukkan sinyal negatif. Investor dibuat waspada sejak sesi perdagangan pagi karena indeks langsung melemah dan berada di zona merah. Penurunan ini tidak datang dari kehampaan, tapi dipicu oleh sejumlah faktor baik dari dalam maupun luar negeri.
Bukan hanya investor pemula, bahkan pelaku pasar berpengalaman pun mulai mengamati lebih detail arah kebijakan moneter global dan perkembangan geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Di tengah situasi seperti ini, penting untuk memahami apa yang menyebabkan IHSG anjlok dan saham mana saja yang justru naik meski pasar sedang lesu.
Penyebab IHSG Melemah di Awal Pekan
Kondisi pasar saham tidak pernah berdiri sendiri. Banyak variabel yang saling terhubung, baik dari dalam negeri maupun dari luar. Penurunan IHSG pada 9 Maret 2026 bukan fenomena instan, tapi hasil dari beberapa pemicu penting yang perlu dicermati.
1. Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah
Salah satu faktor besar yang menyebabkan tekanan pada pasar keuangan global adalah meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Konflik ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan memicu lonjakan harga energi.
Risiko yang muncul akibat ketegangan ini antara lain:
- Lonjakan harga minyak mentah dunia
- Inflasi global yang semakin sulit dikendalikan
- Volatilitas pasar saham internasional yang tinggi
Investor cenderung menarik dana dari pasar yang dianggap berisiko tinggi, termasuk pasar saham Asia Tenggara seperti Indonesia. Hal ini berdampak langsung pada tekanan jual di pasar modal Tanah Air.
2. Sentimen Negatif dari Bursa Global
Sebelum pasar Indonesia dibuka, beberapa bursa besar di Asia dan Eropa juga mencatatkan penurunan. Indeks saham di Jepang, Hong Kong, dan Eropa sempat terkoreksi cukup dalam. Investor global yang merespons situasi geopolitik dengan kekhawatiran langsung memengaruhi arah perdagangan di pasar lokal.
3. Data Domestik yang Belum Menggembirakan
Di sisi dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data ekonomi makro yang belum menunjukkan pemulihan kuat. Inflasi yang masih di atas target Bank Indonesia dan perlambatan pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya menjadi bahan pertimbangan investor sebelum membeli saham.
Saham yang Naik Meski IHSG Melemah
Meski secara umum IHSG tertekan, beberapa saham justru mencatatkan kenaikan harga. Ini menunjukkan bahwa tidak semua emiten terpengaruh secara negatif oleh kondisi pasar yang sedang lesu.
Berikut adalah daftar saham yang menguat pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026:
- PT Indo Oils Perkasa Tbk naik 17,76% ke Rp252
- PT Krida Jaringan Nusantara Tbk menguat 14,58% ke Rp165
- PT Koka Indonesia Tbk naik 12,31% ke Rp292
- PT Champ Resto Indonesia Tbk meningkat 11,23% ke Rp505
- PT Sigma Energy Compressindo Tbk naik 7,26% ke Rp148
Fenomena ini menunjukkan bahwa investor tetap mencari peluang di tengah ketidakpastian. Saham-saham yang naik biasanya memiliki fundamental kuat atau mendapat perhatian dari investor institusional.
Aktivitas Perdagangan di Bursa Efek Indonesia
Pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, aktivitas di pasar saham cukup tinggi. Bursa mencatat transaksi sebanyak 3,64 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp1,61 triliun. Frekuensi transaksi juga tercatat tinggi, yaitu sebanyak 156.627 kali.
Dari total saham yang diperdagangkan, mayoritas mengalami penurunan harga. Rinciannya sebagai berikut:
| Kondisi Saham | Jumlah Saham |
|---|---|
| Melemah | 526 saham |
| Menguat | 45 saham |
| Stagnan | 110 saham |
Angka ini menunjukkan bahwa tekanan jual memang mendominasi pasar. Investor lebih banyak menjual saham daripada membeli, terutama di tengah ketidakpastian global.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Pasar
Meski IHSG sedang merah, bukan berarti semua peluang investasi hilang. Investor yang lebih berpengalaman justru melihat situasi seperti ini sebagai peluang membeli saham dengan harga lebih murah.
Berikut beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan:
1. Fokus pada Saham dengan Fundamental Kuat
Saham yang memiliki struktur keuangan sehat dan prospek bisnis jangka panjang cenderung lebih tahan terhadap volatilitas pasar. Pilih emiten yang memiliki debt-to-equity ratio rendah dan return on equity (ROE) yang stabil.
2. Gunakan Pendekatan Value Investing
Di tengah pasar yang sedang tertekan, banyak saham mungkin terlihat murah tapi belum tentu layak dibeli. Gunakan pendekatan value investing untuk mencari saham yang benar-benar undervalued berdasarkan rasio P/E, PBV, dan dividen yield.
3. Hindari Emosi Saat Trading
Ketika pasar sedang merah, emosi seperti panik dan ketakutan bisa membuat investor mengambil keputusan yang terburu-buru. Penting untuk tetap tenang dan mengikuti rencana investasi yang sudah disusun sebelumnya.
Rangkuman Data IHSG pada 9 Maret 2026
Berikut adalah rangkuman kondisi IHSG pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Penurunan IHSG | 211,37 poin (2,79%) |
| Level IHSG Tertinggi | 7.374,31 |
| Level IHSG Terendah | 7.316 |
| Volume Transaksi | 3,64 miliar saham |
| Nilai Transaksi | Rp1,61 triliun |
| Frekuensi Transaksi | 156.627 kali |
| Saham Melemah | 526 saham |
| Saham Menguat | 45 saham |
| Saham Stagnan | 110 saham |
Disclaimer: Data di atas bersifat simulasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar aktual. Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan sebagai rekomendasi investasi.
Kesimpulan
Pergerakan IHSG yang merah pada awal pekan 9 Maret 2026 mencerminkan situasi ketidakpastian global yang sedang terjadi. Tekanan jual yang kuat membuat sebagian besar saham mengalami penurunan. Namun, di tengah situasi ini, masih ada saham-saham yang mampu bertahan bahkan menguat.
Investor yang bijak akan melihat peluang di balik tekanan pasar. Dengan memahami penyebab utama penurunan indeks dan memilih saham dengan fundamental kuat, peluang keuntungan tetap terbuka meski dalam kondisi pasar yang sedang lesu.
Pantau terus perkembangan ekonomi global dan lokal agar bisa mengambil keputusan investasi yang lebih tepat dan terinformasi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













