Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026. Penutupan hari ini mencatatkan penurunan tajam sebesar 1,89% atau setara 138,029 poin, hingga berada di level 7.164. Pergerakan ini mencerminkan tekanan dari sentimen global yang masih terus berfluktuasi, terutama akibat ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia.
Sejak awal perdagangan, IHSG memang sudah menunjukkan kecenderungan melemah. Indeks sempat dibuka di level 7.313, namun sepanjang sesi berlangsung, tekanan jual terus terasa. Puncaknya, IHSG menyentuh level terendah harian di angka 7.152. Total volume perdagangan mencapai 31,144 miliar saham senilai Rp32,348 triliun, dengan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12,620 triliun.
IHSG Melemah Dipicu Sentimen Eksternal
Pergerakan IHSG hari ini tidak lepas dari dinamika global, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Investor masih menunggu perkembangan terkait upaya gencatan senjata yang diusulkan AS melalui proposal damai berisi 15 poin. Salah satunya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembongkaran fasilitas nuklir Iran.
Namun, Iran menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan damai yang sedang berlangsung. Negara tersebut bahkan menyatakan tidak akan menghentikan konflik sebelum semua syaratnya terpenuhi. Iran menuntut penghentian penuh perang, pengakuan atas kontrol Selat Hormuz, pencabutan sanksi, kompensasi, serta kebebasan untuk menjalankan program militer.
Komunikasi antara kedua belah pihak masih berlangsung melalui mediator seperti Pakistan, Turki, dan Mesir. Namun, gap antara tuntutan dan tawaran masih sangat lebar. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut pasar saat ini berada dalam kondisi "hope vs reality".
Setiap headline positif memang bisa memicu rebound sesaat, tetapi langsung diimbangi dengan penyangkalan atau sikap keras dari Iran. Hal ini membuat investor cenderung waspada dan memilih menahan diri dari mengambil posisi agresif.
Dinamika Harga Minyak dan Ekspektasi Suku Bunga Global
Harga minyak dunia juga menjadi faktor pendorong utama pelemahan IHSG. Brent dan WTI kini berada di kisaran USD80 hingga USD100 per barel. Bank of America (BofA) menyebut bahwa harga minyak saat ini sudah masuk ke zona hawkish bagi The Fed.
Jika harga minyak bertahan di level tersebut, risiko rate hike atau pengetatan kebijakan moneter dari Federal Reserve akan semakin besar. Namun, jika kenaikan harga bersifat sementara dan mampu menekan konsumsi global, maka The Fed bisa kembali bersikap dovish.
Sebelumnya, pasar masih mengantisipasi dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam tahun ini. Namun, ekspektasi itu kini mulai berubah. Investor mulai tidak lagi memasukkan skenario rate cut ke dalam harga aset, menunjukkan bahwa sentimen global sedang mengalami pergeseran.
Performa Saham di Bursa Hari Ini
Dari catatan transaksi, sebanyak 292 saham mengalami kenaikan harga. Sementara itu, 380 saham lainnya justru melemah. Ada juga 148 saham yang stagnan dan tidak menunjukkan pergerakan signifikan.
Performa ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi. Investor lebih banyak memilih untuk mengamankan posisi atau melakukan profit taking, terutama di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
Rekomendasi untuk Investor
Liza Camelia menyarankan investor untuk tetap menjaga strategi pengelolaan risiko. Ia menyarankan untuk melakukan average up secara hati-hati dan disiplin dalam menerapkan money management. Investor juga disarankan untuk tidak terlalu terbawa emosi terhadap setiap headline yang muncul.
Investor jangka pendek mungkin bisa memanfaatkan volatilitas ini untuk mencari peluang, tetapi harus tetap waspada terhadap risiko yang muncul dari sentimen eksternal. Sementara investor jangka panjang sebaiknya tetap fokus pada fundamental saham dan tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi jangka pendek.
Ringkasan Data Perdagangan IHSG 26 Maret 2026
Berikut adalah ringkasan data perdagangan IHSG pada Kamis, 26 Maret 2026:
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| Penutupan IHSG | 7.164 |
| Perubahan Poin | -138,029 |
| Perubahan Persen | -1,89% |
| Volume Perdagangan | 31,144 miliar saham |
| Nilai Transaksi | Rp32,348 triliun |
| Kapitalisasi Pasar | Rp12,620 triliun |
| Frekuensi Transaksi | 1.725.785 kali |
| Saham Naik | 292 |
| Saham Turun | 380 |
| Saham Stagnan | 148 |
Disclaimer: Data di atas bersifat sementara dan dapat berubah sesuai dengan pembaharuan dari bursa efek. Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai saran investasi dan pembaca disarankan untuk melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan.
Langkah Menjaga Portofolio di Tengah Volatilitas
-
Evaluasi ulang portofolio
Tinjau kembali komposisi saham yang dimiliki. Pastikan tidak terlalu terkonsentrasi pada sektor yang sensitif terhadap sentimen global. -
Gunakan strategi diversifikasi
Sebarkan risiko ke berbagai sektor dan instrumen investasi lainnya seperti obligasi atau reksa dana. -
Tetapkan target profit dan stop loss
Menetapkan batas keuntungan dan kerugian bisa membantu menghindari pengambilan keputusan emosional. -
Pantau sentimen global secara rutin
Ikuti perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi pasar saham. -
Gunakan prinsip money management
Jangan terlalu agresif dalam mengambil posisi. Selalu sisihkan dana cadangan untuk mengantisipasi volatilitas.
Penutup
Pergerakan IHSG hari ini mencerminkan situasi global yang penuh ketidakpastian. Ketegangan antara AS dan Iran serta lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama pelemahan indeks. Investor dituntut untuk lebih selektif dan disiplin dalam mengelola portofolio.
Meski tekanan jual masih terasa, peluang tetap bisa muncul bagi investor yang mampu membaca situasi dengan tepat. Yang terpenting adalah tetap tenang dan tidak terbawa arus emosi pasar yang sedang tidak menentu.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













