Harga emas kembali naik menjelang perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan ini terjadi meski dolar menguat tipis dan ketegangan di kawasan Teluk Persia masih terasa. Perdagangan emas dunia terus memperlihatkan respons sensitif terhadap situasi geopolitik, terutama yang melibatkan aktor besar seperti AS dan Iran.
Sentimen pasar berubah seiring pengumuman Presiden Donald Trump yang menyatakan perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memberi ruang diplomasi, meski belum ada kepastian soal bentuk dan isi pembicaraan perdamaian yang akan datang. Investor pun mulai mempertimbangkan kembali posisi mereka, terutama di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.
Harga Emas Naik, Sentimen Pasar Bereaksi
1. Kenaikan Harga Emas Dunia
Harga emas spot mencatat kenaikan sebesar 0,4 persen, mencapai USD4.740,15 per ons pada Rabu, 22 April 2026. Sementara itu, emas berjangka naik lebih tajam, yaitu 0,8 persen, menjadi USD4.758,40 per ons. Lonjakan ini terjadi meski dolar menguat tipis, menunjukkan bahwa permintaan terhadap emas sebagai aset aman tetap kuat.
| Jenis Emas | Harga (USD per ons) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|
| Emas Spot | 4.740,15 | 0,4% |
| Emas Berjangka | 4.758,40 | 0,8% |
2. Pemulihan Emas Lambat Tapi Stabil
Sejak kerugian besar akibat eskalasi konflik di bulan Maret, emas mengalami pemulihan yang stabil. Namun, laju pemulihan ini jauh lebih lambat dibandingkan dengan saham yang langsung melonjak kembali. Hal ini menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati dalam memasukkan dana ke logam mulia.
Banyak analis berpendapat bahwa emas tetap menjadi pilihan utama saat ketidakpastian tinggi. Namun, tren jangka pendek bisa berbeda karena faktor likuiditas dan sentimen pasar yang berubah-ubah.
Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Emas
1. Gencatan Senjata dan Harapan De-Eskalasi
Perpanjangan gencatan senjata oleh AS dan Iran memicu optimisme sementara di pasar keuangan. Namun, optimisme ini masih rapuh karena belum ada kepastian soal bentuk dan hasil pembicaraan damai yang akan datang. Iran sendiri belum secara resmi mengakui perpanjangan gencatan senjata ini.
Media pemerintah Iran bahkan menyatakan bahwa Teheran belum memutuskan untuk kembali ke meja perundingan. Di sisi lain, Sekretaris Pers Gedung Putih menyebut bahwa keputusan perpanjangan diambil karena Iran perlu waktu untuk "memperbaiki diri."
2. Ketegangan Tetap Tinggi di Selat Hormuz
Meski ada gencatan senjata, ketegangan di Selat Hormuz tetap tinggi. Tiga kapal tanker dilaporkan diserang oleh Garda Revolusi Islam Iran. Serangan ini memicu kekhawatiran baru terkait keamanan jalur pengiriman minyak global.
Selat Hormuz merupakan jalur kritis yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia. Gangguan di area ini langsung berdampak pada harga minyak mentah global, yang kembali melonjak ke atas USD101 per barel.
3. Harga Minyak dan Dampak Inflasi
Lonjakan harga minyak mentah Brent berjangka memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi. Inflasi yang tinggi bisa memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Kondisi ini umumnya tidak menguntungkan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil tetap.
| Komoditas | Harga (USD per barel) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Minyak Mentah Brent | 101,20 | +1,8% |
Faktor Fundamental yang Mempengaruhi Harga Emas
1. Peran Emas sebagai Aset Likuid
Dalam situasi krisis, emas sering dijual bukan karena kehilangan nilai, tetapi karena kebutuhan likuiditas. Seperti yang dijelaskan oleh Max Baecker dari American Hartford Gold, banyak investor menjual emas untuk mendapatkan tunai saat volatilitas pasar tinggi.
2. Sentimen Spekulatif dan Posisi Jangka Pendek
Emas memasuki tahun 2026 dengan banyak posisi spekulatif yang tinggi. Pemulihan harga saat ini lebih banyak dipicu oleh pengurangan leverage dan pengambilan keuntungan, bukan oleh pembelian besar-besaran dari investor baru.
3. Suku Bunga dan Daya Tarik Emas
Dengan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi di masa depan, aset tanpa imbal hasil seperti emas terlihat kurang menarik. Investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan hasil lebih tinggi, seperti obligasi atau saham sektor tertentu.
Strategi Investor di Tengah Ketidakpastian
1. Menunggu Kejelasan Diplomasi
Banyak investor memilih untuk menahan diri dan menunggu perkembangan lebih lanjut terkait pembicaraan damai antara AS dan Iran. Ketidakpastian ini membuat pasar tetap waspada, terutama di sektor energi dan logam mulia.
2. Diversifikasi Portofolio
Investor cenderung memperluas portofolio mereka untuk mengurangi risiko. Emas tetap menjadi bagian penting, meski bukan satu-satunya pilihan. Kombinasi antara aset berisiko rendah dan tinggi menjadi strategi utama.
3. Waspadai Pergerakan Harga Minyak
Karena Selat Hormuz masih rawan, harga minyak bisa berubah kapan saja. Fluktuasi ini berdampak langsung pada inflasi dan suku bunga, yang pada akhirnya memengaruhi harga emas.
Kesimpulan
Harga emas kembali naik seiring perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran. Meski demikian, ketegangan di kawasan Teluk Persia masih tinggi, terutama setelah adanya serangan terhadap kapal tanker. Lonjakan harga minyak dan potensi inflasi membuat emas tetap menjadi sorotan, meski daya tariknya menurun jika suku bunga naik.
Investor diimbau untuk tetap waspada dan tidak terjebak pada tren jangka pendek. Emas tetap relevan sebagai aset aman, tetapi harus dikelola dengan strategi yang tepat.
Disclaimer: Data harga emas dan minyak dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan bukan sebagai saran investasi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













