Ilustrasi. Foto: Dok MI
Reporter: Eko Nordiansyah
Jakarta: Bank Indonesia (BI) kembali menunjukkan giginya di tengah gejolak eksternal yang menerpa mata uang rupiah. Pelemahan nilai tukar yang sempat menyentuh level Rp17.000 per USD membuat otoritas moneter ini mengerahkan seluruh jurus yang dimiliki. Langkah-langkah itu tak main-main, mengingat stabilitas rupiah saat ini menjadi salah satu kunci menjaga kepercayaan investor dan daya beli masyarakat.
Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, menyampaikan bahwa stabilitas adalah fokus utama di tengah ketidakpastian global. BI tidak hanya bereaksi terhadap fluktuasi jangka pendek, tapi juga mengantisipasi dampak jangka panjang dari situasi geopolitik yang sedang berkembang.
Tekanan Global dan Respons BI
Rupiah sempat tertekan cukup dalam di perdagangan Selasa. Pada penutupan hari itu, nilai tukar mata uang Garuda melemah 70 poin atau sekitar 0,41% menjadi Rp17.105 per USD. Hari sebelumnya, rupiah masih bertahan di level Rp16.980. Tak hanya itu, kurs JISDOR juga ikut terpuruk ke posisi Rp17.092, naik dari Rp17.037.
Tekanan ini tidak datang begitu saja. Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu volatilitas pasar global. Sebagai negara eksportir komoditas, Indonesia tentu tidak lepas dari dampaknya. Namun, BI melihat dua sisi dari situasi ini. Di satu sisi, ada risiko tekanan terhadap nilai tukar. Di sisi lain, lonjakan harga komoditas bisa memberikan dorongan positif pada neraca perdagangan.
1. Intervensi Pasar Uang Secara Terukur
Bank Indonesia tidak tinggal diam. Destry Damayanti mengungkapkan bahwa BI aktif berada di pasar uang, baik di pasar spot maupun pasar forward. Intervensi dilakukan di pasar domestik melalui DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) maupun di pasar offshore melalui NDF (Non-Deliverable Forward). Langkah ini bertujuan untuk membendung ekspektasi yang terlalu pesimistis terhadap rupiah.
2. Kalibrasi Instrumen Menghadapi Tiga Skenario
Sebelumnya, BI telah menyiapkan tiga skenario dampak dari perang di Timur Tengah:
- Harga minyak dunia naik rendah
- Harga minyak dunia naik sedang
- Harga minyak dunia naik tinggi
Masing-masing skenario memiliki respons kebijakan yang disesuaikan. Ini menunjukkan bahwa BI tidak bekerja dengan asumsi tunggal, tapi selalu siap menyesuaikan diri dengan dinamika global.
3. Sinkronisasi Kebijakan Moneter dan Cadangan Devisa
Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan pentingnya sinkronisasi antara instrumen moneter dan cadangan devisa. Dalam konferensi pers beberapa waktu lalu, ia menyampaikan bahwa BI terus memastikan kecukupan cadangan devisa sebagai buffer eksternal. Cadangan ini tidak hanya penting untuk intervensi langsung, tapi juga sebagai simbol keyakinan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Data Neraca Pembayaran dan Cadangan Devisa
Performa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menjadi salah satu faktor penopang kebijakan BI. Data terbaru menunjukkan bahwa Neraca Perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatat surplus sebesar USD1,27 miliar. Angka ini meningkat dari surplus sebesar USD0,95 miliar pada bulan sebelumnya.
Posisi cadangan devisa juga masih terjaga kuat. Pada akhir Februari 2026, cadangan devisa Indonesia mencapai USD151,9 miliar. Jumlah ini setara dengan:
- 6,1 bulan impor
- 5,9 bulan impor + pembayaran utang luar negeri pemerintah
Angka ini berada di atas standar kecukupan internasional, memberikan ruang manuver yang cukup luas bagi BI dalam menghadapi gejolak eksternal.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Surplus Neraca Perdagangan (Februari 2026) | USD1,27 miliar |
| Surplus Neraca Perdagangan (Januari 2026) | USD0,95 miliar |
| Cadangan Devisa (Akhir Februari 2026) | USD151,9 miliar |
| Setara dengan | 6,1 bulan impor |
Strategi Jitu BI dalam Menghadapi Volatilitas
Langkah-langkah BI bukan sekadar reaktif, tapi juga proaktif. Otoritas moneter ini memahami bahwa pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik. Oleh karena itu, BI memilih untuk tetap hadir di pasar dengan frekuensi dan intensitas yang terukur. Ini bukan hanya soal intervensi langsung, tapi juga soal pengelolaan ekspektasi.
Selain itu, BI juga terus memperkuat sinergi antar-instrumen kebijakan. Misalnya, pengaturan likuiditas, pengendalian suku bunga acuan, hingga operasi pasar terbuka dilakukan secara terkoordinasi. Tujuannya jelas: menjaga agar rupiah tetap stabil di tengah badai global.
Fokus pada Likuiditas Perbankan
Salah satu elemen penting dalam menjaga stabilitas makro adalah likuiditas perbankan. BI terus memastikan bahwa sistem perbankan tetap cair dan tidak terpengaruh oleh gonjang-ganjing pasar. Ini penting agar transmisi kebijakan moneter tetap berjalan lancar.
Pengawasan Terhadap Arus Modal
Arus modal masuk dan keluar juga menjadi sorotan. BI memantau secara ketat pergerakan dana asing yang masuk ke pasar keuangan domestik. Apalagi, saat ketidakpastian global tinggi, dana portofolio sering kali cepat keluar dan masuk, yang bisa memicu volatilitas berlebih.
Kesimpulan: BI Tetap Jadi Garda Stabilitas
Meski tekanan global terus berdatangan, BI berhasil menunjukkan bahwa otoritas moneter tetap punya kendali. Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, data yang solid, dan langkah antisipatif, rupiah masih mampu bertahan di zona aman.
Tentu saja, tantangan ke depan masih banyak. Namun, rekam jejak BI dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi global menunjukkan bahwa lembaga ini punya kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini sesuai dengan perkiraan dan kondisi hingga April 2026. Angka dan kebijakan bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika ekonomi global dan keputusan BI.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













