Dominasi udara yang kuat belum tentu menjamin kemenangan dalam konflik bersenjata. Kondisi ini mulai terlihat dalam operasi militer Amerika Serikat di Iran, di mana keunggulan teknologi justru diwarnai dengan pertanyaan tajam soal arah dan tujuan perang. Meski pencapaian awal di lapangan terlihat mengesankan, banyak pihak mulai mempertanyakan apakah semua langkah yang diambil sudah benar-benar terencana dengan matang.
Laporan dari The Guardian yang dirilis 26 Maret 2026 menyebut bahwa perencanaan militer AS terhadap Iran dinilai tidak memiliki visi jelas. Serangan udara gabungan dengan Israel memang berhasil menargetkan sejumlah posisi penting, termasuk infrastruktur kepemimpinan Iran. Namun, keberhasilan taktis ini tidak serta merta diimbangi dengan strategi politik yang solid.
Kritik terhadap Rencana Perang yang Terkesan Asal-asalan
Perang bukan hanya soal serang dan rebut wilayah. Ada dimensi politik, ekonomi, dan sosial yang harus diperhitungkan. Sayangnya, dalam konflik ini, banyak pengamat menyebut bahwa aspek-aspek tersebut tidak mendapat perhatian cukup sejak awal.
Philip H. Gordon, mantan penasihat keamanan nasional AS, menyebut bahwa kekurangan perencanaan adalah masalah yang bisa diperkirakan. “Ini sulit dalam kondisi apa pun, tapi terutama dengan sangat sedikit perencanaan,” ucapnya.
-
Kurangnya Visi Jangka Panjang
- Tujuan operasi berubah-ubah seiring waktu.
- Tidak ada strategi menyeluruh untuk pasca-konflik.
-
Ketidakpastian dalam Penetapan Sasaran
- Awalnya ingin memicu protes internal di Iran.
- Lalu berubah fokus ke program nuklir.
- Terakhir, sasaran bergeser ke sistem rudal dan jalur pelayaran.
Respons Iran dan Dampaknya yang Semakin Luas
Iran tidak tinggal diam. Respon mereka datang dalam bentuk serangan balasan berupa rudal dan drone ke wilayah-wilayah strategis, termasuk negara-negara tetangga. Situasi ini memperumit konflik dan membuka potensi eskalasi yang lebih besar.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi pukulan baru. Jalur pelayaran penting ini menjadi buntut dari ketegangan yang semakin memanas. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tapi juga secara global, terutama dalam hal harga energi.
Tabel berikut menunjukkan perkiraan biaya operasi militer AS dalam enam hari pertama konflik:
| Hari ke- | Pengeluaran (miliar USD) |
|---|---|
| 1 | 1,2 |
| 2 | 1,8 |
| 3 | 2,1 |
| 4 | 2,0 |
| 5 | 2,3 |
| 6 | 1,9 |
| Total | 11,3 |
Disclaimer: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung perkembangan di lapangan.
Perubahan Tujuan yang Memicu Kebingungan Strategi
Salah satu kritik terbesar terhadap pendekatan AS adalah perubahan tujuan yang terlalu sering. Awalnya, operasi militer ini diklaim bertujuan untuk memicu gelombang protes internal di Iran. Namun, tujuan ini kemudian bergeser ke penghancuran program nuklir Iran.
Setelah itu, fokus berpindah lagi ke sistem rudal balistik negara tersebut. Terakhir, sasaran utama berubah menjadi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Michael Singh, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, menyebut bahwa setiap tujuan yang berbeda membutuhkan pendekatan militer yang unik. “Setiap tujuan ini membutuhkan strategi militer yang berbeda,” ujarnya.
Penilaian dari Pengamat dan Mantan Pejabat
Selain Singh, ada pihak lain yang ikut memberikan penilaian keras terhadap rencana perang ini. Michael Rubin, seorang analis kebijakan luar negeri, menyebut bahwa perencanaan politik jauh dari matang.
Menurutnya, tanpa strategi politik yang jelas, kemenangan militer pun tidak akan banyak artinya. “Anda bisa menang pertempuran, tapi kalah perang jika tidak tahu tujuan akhirnya,” katanya.
Berikut beberapa poin penting dari kritik para ahli:
- Ketidakkonsistenan tujuan membuat pasukan di lapangan bingung.
- Kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintahan AS.
- Minimnya pertimbangan dampak global, terutama ekonomi dan energi.
Tantangan yang Muncul di Lapangan
Di medan tempur, situasi tidak berjalan mulus seperti yang direncanakan. Serangan balasan dari Iran membuat tekanan meningkat, terutama di wilayah-wilayah yang tidak dianggap sebagai zona konflik utama.
Negara-negara tetangga seperti Irak dan Suriah ikut merasakan dampaknya. Jalur perdagangan dan energi terganggu, dan risiko keterlibatan aktif mereka dalam konflik semakin besar.
Selain itu, biaya operasi yang terus meningkat juga menjadi beban. Dengan pengeluaran lebih dari 11 miliar dolar AS dalam satu minggu, tekanan pada anggaran pertahanan AS semakin besar.
Penutup
Perang bukan hanya soal kekuatan senjata. Tanpa perencanaan politik yang matang dan tujuan yang jelas, bahkan negara dengan kekuatan militer terbesar sekalipun bisa terjebak dalam konflik tanpa akhir. Kritik terhadap pendekatan AS di Iran bukan tanpa dasar. Banyak pihak melihat bahwa keputusan yang diambil terkesan terburu-buru dan tidak terukur secara strategis.
Dengan semakin banyaknya suara yang mempertanyakan arah operasi militer ini, tekanan pada pemerintahan AS untuk merevisi pendekatannya pun semakin besar. Yang jelas, konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













