Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menuai tekanan di awal perdagangan sesi I, Jumat, 13 Maret 2026. Setelah sempat berada di zona hijau, indeks yang menjadi barometer pasar modal Tanah Air itu akhirnya terperosok ke level 7.228,94. Meski begitu, di balik situasi yang tampak suram, beberapa saham justru melonjak tajam, bahkan ada yang menyentuh batas atas harian alias ARA.
Penurunan IHSG sebesar 133,17 poin atau setara 1,81 persen terjadi seiring dengan dominasi tekanan jual di berbagai sektor. Sentimen negatif ini tidak hanya dirasakan pelaku pasar lokal, tetapi juga tercermin dari pergerakan bursa saham regional Asia yang sebagian besar berada di zona merah.
Tekanan Jual Merata, Sektor Transportasi Terparah
Kondisi pasar saat itu menunjukkan bahwa hampir seluruh sektor mengalami koreksi. Investor tampak was-was, sehingga banyak yang memilih keluar dari posisi saham mereka. Tekanan ini terlihat dari volume transaksi yang cukup tinggi sepanjang sesi.
1. Sektor Transportasi Turun Tajam 3,04 Persen
Sektor transportasi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan mencapai 3,04 persen. Penurunan ini dipicu oleh sentimen eksternal maupun ketidakpastian regulasi yang sedang digodok.
2. Perindustrian dan Barang Konsumsi Ikut Melemah
Sektor perindustrian juga tak mampu bertahan, terkoreksi 2,98 persen. Diikuti oleh sektor barang konsumsi nonprimer yang turun 2,79 persen. Keduanya mencerminkan perlambatan permintaan konsumen serta adanya risiko perlambatan ekonomi global.
3. Infrastruktur dan Bahan Baku Tak Luput
Sektor infrastruktur turun 2,75 persen, sedangkan sektor bahan baku mengalami koreksi sebesar 2,57 persen. Semua ini menunjukkan bahwa investor tengah melakukan konsolidasi portofolio secara luas.
Pergerakan Bursa Asia Campur Aduk
Sentimen negatif di pasar lokal ternyata tidak berdiri sendiri. Banyak bursa saham di Asia juga mengalami tekanan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa faktor global turut berkontribusi terhadap pelemahan IHSG.
- Nikkei 225 (Jepang): Anjlok 1,4 persen
- Hang Seng Index (Hong Kong): Melemah 0,48 persen
- Shanghai Composite (China): Turun 0,22 persen
- Straits Times Index (Singapura): Naik tipis 0,07 persen
Meskipun sebagian besar indeks regional bergerak negatif, Singapura masih mampu bertahan positif. Namun, dampaknya terhadap IHSG nampak minim karena sentimen lokal lebih dominan.
Saham-Saham Ini Malah Melesat Tajam
Tidak semua saham ikut anjlok bersama IHSG. Beberapa emiten justru malah melonjak hingga menyentuh ARA. Lonjakan ini bisa disebabkan oleh rilis informasi korporasi, rencana emiten, atau bahkan aktivitas spekulatif.
1. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Saham ADRO naik hingga 17 persen. Lonjakan ini dipicu oleh kabar bahwa perusahaan akan mempercepat pengembangan proyek energi baru dan terbarukan.
2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
BBCA naik 14,5 persen. Investor bereaksi positif terhadap optimisme manajemen bank soal pertumbuhan kredit di kuartal I mendatang.
3. PT Astra International Tbk (ASII)
ASII mencatatkan kenaikan 13,8 persen. Saham ini mendapat dorongan dari rencana ekspansi bisnis otomotif dan alat berat di sejumlah wilayah strategis.
4. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
UNVR naik 13,2 persen. Investor menanggapi baik langkah perusahaan dalam menggenjot produksi produk ramah lingkungan.
5. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
ITMG melonjak hingga 20,5 persen. Kenaikan ini terjadi usai emiten mengumumkan kontrak penjualan batubara bernilai tinggi untuk ekspor.
6. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
BRPT mencatatkan lonjakan fantastis hingga 24,3 persen. Saham ini menyentuh ARA setelah anak usahanya dikabarkan akan IPO di bursa saham Singapura.
Aktivitas Transaksi Masih Tinggi
Meski pasar sedang dalam tekanan, aktivitas perdagangan tetap tinggi. Data BEI mencatat total volume transaksi mencapai 16,72 miliar lembar saham. Nilai transaksinya mencapai Rp7,4 triliun, dengan frekuensi transaksi sebanyak 942.558 kali.
Angka ini menunjukkan bahwa investor masih aktif bermain, meski dalam suasana yang tidak bersahabat. Banyak yang mungkin mencoba mencari celah di tengah volatilitas untuk mendapatkan keuntungan cepat.
Investor Harus Waspada
Meskipun sejumlah saham melonjak, kondisi umum pasar masih belum stabil. Tekanan dari luar dan dalam negeri bisa kapan saja kembali memicu volatilitas. Investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak mudah terpancing emosi saat mengambil keputusan investasi.
Perlu dicatat bahwa data pasar saham sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi yang digunakan dalam artikel ini bersifat valid hingga tanggal publikasi dan mungkin tidak merepresentasikan kondisi terkini.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data dan informasi yang tersedia hingga tanggal publikasi. Pergerakan harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













