Nasional

Rebalancing MSCI 2026 Diprediksi Picu Lonjakan Beli Saham, 2 Emiten Ini Jadi Fokus Investor

Rista Wulandari
×

Rebalancing MSCI 2026 Diprediksi Picu Lonjakan Beli Saham, 2 Emiten Ini Jadi Fokus Investor

Sebarkan artikel ini
Rebalancing MSCI 2026 Diprediksi Picu Lonjakan Beli Saham, 2 Emiten Ini Jadi Fokus Investor

Ilustrasi pasar modal tengah ramai membahas potensi dampak dari penundaan rebalancing Indeks MSCI Indonesia. Meski penundaan ini awalnya disinyalir bisa memicu tekanan pada arus keluar dana pasif, ternyata ada sisi positifnya. investasi PT Henan Putihrai Asset Management (HPAM) justru melihat peluang adanya aksi beli yang bisa terpicu dari situasi ini. Terlebih lagi jika MSCI menunda penerapan pro-forma FIF yang akan dirilis pada .

Dalam laporan Tactical Alert mereka, dua saham lokal jadi sorotan utama karena dinilai memiliki potensi untuk menjadi target beli ETF global. Dua emiten itu adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Keduanya dinilai memenuhi beberapa kriteria penting, seperti status non-HSC, masa tenor yang stabil di indeks, serta posisi underweight di ETF global tertentu. Artinya, jika MSCI memang menunda penerapan FIF, maka bobot saham ini di indeks tidak turun, tapi permintaan dari ETF tetap ada. Ini bisa menciptakan dorongan beli alami.

Potensi Aksi Beli Saham Akibat Penundaan Rebalancing MSCI

Penundaan rebalancing MSCI bukan isu baru. Namun, dampaknya bisa bervariasi tergantung bagaimana investor global merespons dan bagaimana lokal berkembang. Dalam kasus kali ini, jika MSCI menunda penerapan pro-forma FIF, maka dua saham lokal bisa mendapat manfaat langsung dari arus dana ETF yang tetap berjalan. Ini karena mekanisme forced buying dari ETF tidak terpengaruh oleh penundaan tersebut.

Yang menarik, BRPT dan TPIA bukan sekadar saham biasa. Mereka punya track record yang cukup kuat di indeks MSCI, serta yang memenuhi ambang batas minimum. Tapi yang lebih penting, keduanya saat ini berada dalam posisi underweight di beberapa ETF global besar. Artinya, alokasi portofolio mereka saat ini lebih rendah daripada seharusnya berdasarkan bobot di indeks. Jika rebalancing tetap berjalan, maka ETF harus menambah ini untuk menyeimbangkan portofolionya.

1. Status Non-HSC dan Stabilitas di Indeks

Salah satu faktor utama kenapa BRPT dan TPIA masuk radar adalah karena status mereka sebagai non-HSC (Homegrown Stock Criteria). HSC adalah daftar saham yang dianggap memiliki dominasi pemegang saham lokal tinggi. Jika saham masuk daftar ini, biasanya bobotnya akan dikurangi di indeks internasional. Tapi karena BRPT dan TPIA tidak masuk daftar HSC, maka mereka tetap bisa menarik minat investor asing secara penuh.

Selain itu, masa tenor di indeks juga menjadi pertimbangan. BRPT sudah menjadi anggota MSCI Indonesia sejak Mei 2019, atau sudah tujuh tahun. Ini menjadikannya “veteran” di antara konstituen lokal. Sementara TPIA baru masuk sejak Februari 2024, tapi sudah menunjukkan stabilitas dan kinerja yang baik. Kombinasi antara status non-HSC dan masa tenor yang cukup lama membuat dua saham ini menjadi kandidat kuat untuk mendapat aksi beli dari ETF.

2. Kapitalisasi Pasar dan Ambang Batas Minimum

Free-float cap atau kapitalisasi pasar bebas juga jadi parameter penting dalam penilaian MSCI. Untuk bisa tetap masuk dalam indeks, saham harus memiliki nilai kapitalisasi minimal tertentu. Dalam publikasi pro-forma MSCI Mei 2026, BRPT tercatat dengan free-float market cap sebesar USD2,7 miliar. Angka ini di atas threshold minimum USD2,1 miliar yang ditetapkan MSCI.

Sementara TPIA mencatatkan angka USD3,0 miliar, bahkan lebih tinggi dari BRPT. Ini menunjukkan bahwa keduanya tidak hanya memenuhi syarat secara teknis, tapi juga memiliki likuiditas dan ukuran bisnis yang cukup besar untuk menarik minat investor institusional. Semakin besar kapitalisasi pasar, semakin besar kemungkinan saham tersebut dimasukkan ke dalam portofolio ETF global.

3. Posisi Underweight dan Potensi Koreksi

Yang paling menarik dari analisis ini adalah posisi underweight dari kedua saham di ETF global. Dalam dunia investasi, underweight artinya alokasi portofolio suatu saham lebih rendah dari proporsinya di indeks. Misalnya, jika bobot saham X di indeks adalah 2%, tapi ETF hanya mengalokasikan 1%, maka saham itu berada dalam posisi underweight.

Dalam jangka panjang, posisi ini tidak bisa bertahan lama. ETF akan melakukan rebalancing untuk menyesuaikan alokasi portofolio agar sesuai dengan indeks. Nah, jika rebalancing MSCI tetap berjalan meski ada penundaan FIF, maka ETF harus tetap membeli saham-saham yang underweight seperti BRPT dan TPIA. Ini menciptakan potensi dorongan beli otomatis yang bisa meningkatkan harga saham.

Tabel Perbandingan Profil BRPT dan TPIA

Parameter PT Barito Pacific Tbk (BRPT) PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
Tanggal Masuk MSCI Mei 2019 Februari 2024
Free-Float Market Cap (USD) 2,7 miliar 3,0 miliar
Status HSC Non-HSC Non-HSC
FIF Haircut 0,5%
Posisi di ETF Global Underweight Underweight

Risiko dan Ketidakpastian yang Masih Ada

Meski potensi aksi beli terlihat menjanjikan, ada sejumlah variabel yang masih belum pasti. Salah satunya adalah keputusan resmi dari MSCI pada 12 Mei 2026. Apakah mereka benar-benar akan menunda penerapan pro-forma FIF atau tidak? Ini akan sangat menentukan apakah skenario forced buying bisa terjadi atau tidak.

Selain itu, kondisi pasar global juga bisa berubah sewaktu-waktu. Sentimen investor bisa berubah karena geopolitik, , atau kebijakan moneter bank sentral besar. Di sisi domestik, proses reformasi yang masih berlangsung di dan BEI juga bisa memengaruhi persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan laporan riset Henan Putihrai Sekuritas dan kondisi pasar hingga 2026. Informasi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan MSCI, kondisi makro ekonomi global, serta regulasi di pasar modal Indonesia. Pembaca disarankan untuk melakukan analisis mandiri dan tidak menggunakan informasi ini sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.