Friderica Widyasari Dewi, salah satu dari 20 peserta terpilih dalam seleksi calon anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menjalani fit and proper test di DPR. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan delapan kebijakan prioritas yang dirancang untuk memperkuat stabilitas dan kredibilitas sektor jasa keuangan nasional.
Saat ini, Friderica menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK. Ia juga menjabat sebagai Pejabat Sementara Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK. Dengan pengalaman tersebut, ia membawa visi yang diharapkan bisa menjadi fondasi kebijakan ke depan.
Delapan Prioritas Kebijakan Friderica untuk OJK
Friderica menekankan bahwa tantangan sektor jasa keuangan saat ini tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam. Dinamika geopolitik global, disrupsi digital, perubahan iklim, dan kejahatan keuangan digital adalah ancaman eksternal yang harus diwaspadai. Sementara itu, tantangan domestik seperti menurunnya kepercayaan publik dan kompleksitas produk keuangan juga perlu penanganan serius.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Friderica mengusung delapan kebijakan prioritas. Setiap kebijakan dirancang sebagai arsitektur strategis yang saling terkait, guna membangun sektor jasa keuangan yang stabil, inklusif, dan kontributif.
1. Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan
Langkah pertama yang diusung Friderica adalah menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Ini dilakukan melalui penguatan koordinasi dengan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Fokusnya ada pada pertukaran data, sinkronisasi kebijakan, dan pengembangan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi krisis.
2. Memulihkan Kepercayaan Publik
Kepercayaan adalah aset utama dalam sektor jasa keuangan. Friderica menyarankan penguatan integritas dan transparansi, terutama di pasar modal. Penegakan hukum yang tegas juga menjadi bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat.
3. Meningkatkan Kontribusi Sektor Jasa Keuangan terhadap Ekonomi Nasional
Sektor jasa keuangan harus menjadi pendorong utama pembangunan ekonomi. Friderica mengusulkan dukungan terhadap program strategis pemerintah seperti pengembangan UMKM, program perumahan, ketahanan pangan dan energi, serta proyek-proyek prioritas lainnya.
4. Memperkuat Pengawasan Terintegrasi
Pengawasan terhadap industri jasa keuangan harus terintegrasi dan menyeluruh. Ini mencakup pengawasan terhadap sektor digital dengan prinsip same activity, same risk, same regulation. Konglomerasi keuangan dan produk hibrida juga harus menjadi fokus pengawasan.
5. Mendorong Pendalaman Pasar Keuangan
Pendalaman pasar keuangan bisa dilakukan melalui reformasi struktural industri keuangan. Diversifikasi instrumen keuangan dan perluasan basis investor serta konsumen menjadi bagian dari strategi ini.
6. Memperkuat Perlindungan Konsumen dan Masyarakat
Perlindungan konsumen tetap menjadi pilar penting. Friderica mengusulkan peningkatan literasi dan inklusi keuangan, percepatan penanganan pengaduan, serta penguatan LAPS SJK. Selain itu, pembangunan National Fraud Portal dan penguatan Indonesia Anti-Scam Center juga menjadi bagian dari upaya ini.
7. Transformasi Kelembagaan OJK
Transformasi internal OJK menjadi organisasi modern dan adaptif juga menjadi fokus. Ini mencakup penyederhanaan birokrasi, integrasi proses pengawasan, serta pemanfaatan teknologi seperti supervisory technology dan analitik data.
8. Memperkuat Sinergi dengan Pemangku Kepentingan
Terakhir, Friderica menekankan pentingnya sinergi dengan kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus meningkatkan kontribusi sektor jasa keuangan terhadap perekonomian nasional.
Tantangan yang Dihadapi Sektor Jasa Keuangan
Sektor jasa keuangan saat ini menghadapi tantangan yang kompleks. Di tingkat global, fragmentasi geopolitik dan disrupsi digital menjadi ancaman nyata. Di sisi lain, risiko perubahan iklim dan maraknya kejahatan digital juga memperbesar kerentanan sistem keuangan.
Di dalam negeri, tantangan tidak kalah berat. Menurunnya kepercayaan publik, dinamika pasar modal, dan kompleksitas produk keuangan baru menjadi tantangan yang harus dihadapi OJK. Belum lagi perlunya pembiayaan pembangunan nasional yang terus meningkat.
Tantangan Internal OJK
Selain tantangan eksternal, OJK juga menghadapi sejumlah tantangan internal. Perlunya penguatan pengaturan dan pengawasan menjadi fokus utama. Selain itu, keterbatasan infrastruktur teknologi informasi dan sumber daya manusia juga menjadi kendala dalam menjalankan tugas secara optimal.
Tabel berikut merangkum beberapa tantangan internal yang dihadapi OJK:
| Tantangan Internal OJK | Penjelasan |
|---|---|
| Perlunya penguatan pengaturan dan pengawasan | Pengaturan yang belum selaras dengan perkembangan industri keuangan digital |
| Keterbatasan infrastruktur teknologi informasi | Sistem TI yang belum memadai untuk mendukung pengawasan modern |
| Keterbatasan anggaran dan SDM | Sumber daya manusia yang terbatas memengaruhi efektivitas pengawasan |
| Kompleksitas birokrasi | Proses internal yang terlalu rumit dan memperlambat pengambilan keputusan |
Rencana Strategis untuk Masa Depan OJK
Delapan kebijakan prioritas yang diusung Friderica bukan sekadar daftar harapan. Ia memandangnya sebagai fondasi untuk membangun sektor jasa keuangan yang siap menghadapi tantangan global dan lokal. Dengan pendekatan yang terintegrasi, sektor ini bisa menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Friderica juga menegaskan bahwa OJK harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Baik itu dalam hal teknologi, regulasi, maupun pengelolaan sumber daya manusia. Hanya dengan transformasi yang tepat, OJK bisa menjadi lembaga yang benar-benar mampu menjaga stabilitas dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.
Penutup
Melalui delapan kebijakan prioritas yang dirancang secara komprehensif, Friderica Widyasari Dewi menunjukkan visi yang jelas untuk masa depan OJK. Ia tidak hanya melihat tantangan saat ini, tapi juga mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi dinamika di masa depan.
Dengan pendekatan yang seimbang antara stabilitas, perlindungan konsumen, dan inovasi, sektor jasa keuangan Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih kuat dan inklusif.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat sesuai dengan data dan pernyataan yang tersedia hingga tanggal publikasi. Perubahan kebijakan atau situasi baru dapat memengaruhi kondisi aktual di masa mendatang.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













