ASN di lingkungan pemerintah pusat akhirnya bisa bernapas lega. Pasalnya, Tunjangan Hari Raya (THR) tahun 2026 telah mulai cair sejak akhir Februari lalu. Pencairan dilakukan secara bertahap, dan hingga Jumat, 6 Maret 2026 pukul 16.30 WIB, sekitar Rp3 triliun sudah disalurkan ke lebih dari 631.000 pegawai ASN. Total anggaran THR yang disiapkan oleh Menteri Keuangan Purbaya mencapai Rp55 triliun.
Dari jumlah tersebut, baru sebagian kecil yang telah cair. Artinya, masih banyak ASN yang belum menerima THR-nya. Purbaya mengatakan, penyaluran akan terus berlanjut hingga seluruh pegawai ASN mendapatkan haknya. Pencairan ini mencakup berbagai komponen, salah satunya adalah gaji pokok yang menjadi dasar perhitungan THR.
Gaji pokok PNS dibagi berdasarkan golongan dan pangkat. Semakin tinggi golongan, semakin besar nominal yang diterima. Berikut adalah rincian gaji pokok untuk golongan I, yang merupakan golongan terendah.
- Golongan I/a: Rp1.685.700 hingga Rp2.522.600
- Golongan I/b: Rp1.840.800 hingga Rp2.670.700
- Golongan I/c: Rp1.918.700 hingga Rp2.783.700
- Golongan I/d: Rp1.999.900 hingga Rp2.901.400
Nominal ini menjadi acuan awal dalam perhitungan THR. Namun, tentu saja bukan hanya gaji pokok yang menentukan besar kecilnya THR yang diterima. Ada faktor lain seperti masa kerja, tunjangan kinerja, dan tunjangan jabatan yang juga turut dihitung.
Sebelum masuk ke golongan berikutnya, penting untuk dicatat bahwa angka-angka ini bisa saja berubah seiring dengan kebijakan pemerintah atau revisi struktur gaji ASN. Meski demikian, data ini merupakan referensi terbaru yang digunakan dalam penyaluran THR tahap awal.
Golongan PNS dengan THR Tertinggi
THR bukan hanya soal nominal. Ada makna sosial dan pengakuan terhadap dedikasi ASN selama setahun bekerja. Namun, dari segi jumlah, tidak semua golongan menerima THR yang sama besar. Ada empat golongan PNS yang mendapatkan nominal tertinggi. Siapa saja mereka?
1. Golongan IV/e
Golongan ini merupakan salah satu yang tertinggi di struktur kepegawaian sipil negara. PNS yang berada di golongan ini biasanya menjabat posisi strategis atau memiliki pengalaman kerja yang sangat lama. THR yang diterima pun mencerminkan hal itu.
2. Golongan IV/d
Tidak jauh berbeda dari IV/e, golongan ini juga diisi oleh pejabat eselon tinggi. Mereka yang berada di level ini umumnya memiliki tanggung jawab besar dalam pengambilan keputusan strategis.
3. Golongan III/d
Meski bukan termasuk golongan tertinggi, III/d juga masuk dalam daftar penerima THR dengan nominal tinggi. Biasanya golongan ini diisi oleh pegawai yang sudah lama bekerja dan memiliki kompetensi tinggi.
4. Golongan III/c
Golongan ini juga masuk dalam kategori penerima THR besar. Pegawai di golongan ini sering kali menjadi tulang punggung operasional di instansi pemerintah.
Faktor Penentu Besaran THR
Bukan hanya golongan yang menentukan besar kecilnya THR. Ada beberapa faktor lain yang turut dihitung dalam proses pencairan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa THR yang diterima sesuai dengan kontribusi dan masa kerja pegawai.
Masa Kerja
Semakin lama masa kerja seorang ASN, semakin besar pula THR yang diterima. Ini adalah bentuk apresiasi terhadap loyalitas dan pengalaman kerja yang dimiliki.
Tunjangan Jabatan
ASN yang menduduki jabatan struktural atau fungsional tertentu juga mendapatkan tambahan THR. Jabatan yang lebih tinggi berarti tanggung jawab lebih besar, dan ini tercermin dalam komponen THR.
Tunjangan Kinerja
Tidak semua ASN mendapat tunjangan kinerja, tapi bagi yang mendapat, ini juga menjadi bagian dari perhitungan THR. Tunjangan ini biasanya diberikan kepada ASN yang memiliki kinerja di atas rata-rata.
Pencairan THR: Tahapan dan Waktu
Pencairan THR tidak dilakukan sekaligus. Ada tahapan yang dilalui agar proses bisa berjalan lancar dan tepat sasaran. Tahapan ini juga memastikan bahwa setiap ASN mendapatkan haknya secara adil.
1. Verifikasi Data Pegawai
Sebelum pencairan dimulai, data ASN harus diverifikasi terlebih dahulu. Ini mencakup status kepegawaian, masa kerja, dan golongan yang dimiliki.
2. Penetapan Skema THR
Setelah data diverifikasi, skema THR ditetapkan berdasarkan golongan, masa kerja, dan tunjangan yang berlaku. Skema ini menjadi dasar perhitungan pencairan.
3. Penyaluran ke Rekening ASN
THR kemudian disalurkan ke rekening masing-masing ASN. Proses ini dilakukan secara bertahap agar tidak terjadi overload di sistem perbankan.
4. Evaluasi dan Pelaporan
Setelah pencairan selesai, Kemenkeu melakukan evaluasi untuk memastikan tidak ada ASN yang tertinggal. Pelaporan juga dilakukan untuk transparansi publik.
Tantangan dalam Penyaluran THR
Meski pencairan THR sudah berjalan, tidak sedikit tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah jumlah ASN yang sangat besar. Dengan lebih dari 2,2 juta ASN di seluruh Indonesia, koordinasi antar instansi harus berjalan dengan baik agar tidak ada yang tertinggal.
Selain itu, perbedaan sistem kepegawaian antar daerah juga menjadi tantangan tersendiri. ASN di lingkungan pemerintah pusat dan daerah memiliki skema THR yang berbeda. Ini membutuhkan sinkronisasi data yang ketat.
Kesimpulan
THR tahun 2026 telah mulai cair, dengan total anggaran mencapai Rp55 triliun. Hingga awal Maret, baru sekitar Rp3 triliun yang disalurkan ke 631.000 ASN. Golongan tertinggi seperti IV/e, IV/d, III/d, dan III/c menjadi penerima THR dengan nominal terbesar.
Pencairan THR bukan hanya soal angka. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap kerja keras ASN selama setahun. Namun, proses ini juga membutuhkan ketelitian agar setiap pegawai mendapatkan haknya secara adil dan tepat waktu.
Disclaimer: Data dan nominal yang disebutkan dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan pemerintah atau regulasi terbaru.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













