Nasional

Produksi Energi Bersih Biomassa PLN IP Meningkat 16 Persen Menjadi 1.101,59 GWh

Retno Ayuningrum
×

Produksi Energi Bersih Biomassa PLN IP Meningkat 16 Persen Menjadi 1.101,59 GWh

Sebarkan artikel ini
Produksi Energi Bersih Biomassa PLN IP Meningkat 16 Persen Menjadi 1.101,59 GWh

Tahun 2025 menjadi tahun bagi PLN Indonesia Power (PLN IP) dalam upaya energi nasional. Perusahaan mencatatkan produksi energi bersih berbasis biomassa sebesar 1.101,59 GWh, tumbuh 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didukung oleh program co-firing biomassa di seluruh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dikelola.

Direktur Utama PLN IP, Bernadus Sudarmanta, menyebut capaian ini sebagai wujud perusahaan dalam menghadirkan solusi transisi energi yang terukur dan berkelanjutan. Biomassa yang dimanfaatkan berasal dari berbagai limbah pertanian dan industri, seperti serbuk kayu, cangkang sawit, sekam padi, hingga limbah industri kertas. Penggunaan bahan bakar ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mendukung prinsip ekonomi sirkular.

Pemanfaatan Biomassa dan Capaian Energi Bersih

Pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi memberikan dampak ganda: mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengelola limbah secara produktif. Dalam setahun, PLN IP berhasil memanfaatkan lebih dari 1,1 juta ton biomassa dari berbagai sumber. Berikut rinciannya:

Jenis Biomassa Sumber Limbah
Serbuk kayu (sawdust) kayu
Cangkang sawit Limbah pabrik kelapa sawit
Pellet tandan kosong Limbah perkebunan kelapa sawit
Sekam padi Limbah pertanian padi
Woodchip Limbah industri kayu
Wood pellet Limbah kayu terkompresi
Bonggol Limbah pertanian jagung
Limbah industri kertas Pengolahan uang kertas

1. Pengurangan Emisi Karbon Melalui Co-Firing

Program co-firing atau pembakaran bersama antara batu bara dan biomassa menjadi andalan utama dalam upaya pengurangan emisi karbon. Hingga akhir 2025, PLN IP berhasil menghindari emisi sebesar 1.259.696 ton CO2, naik 16 persen dari tahun sebelumnya. Langkah ini sejalan dengan nasional untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan proporsi energi baru terbarukan (EBT).

2. Stabilitas Pasokan Listrik Tetap Terjaga

Meski beralih ke energi bersih, PLN IP tetap menjaga keandalan pasokan listrik nasional. Co-firing dilakukan secara bertahap dan berbasis manajemen risiko agar proses dekarbonisasi tidak mengganggu stabilitas sistem kelistrikan. Pendekatan ini memastikan bahwa transisi energi tidak mengorbankan ketersediaan listrik yang andal.

3. Penguatan Rantai Pasok Domestik

Selain dampak lingkungan, pemanfaatan biomassa juga memberikan manfaat ekonomi. Program ini mendorong penguatan rantai pasok domestik, terutama dari sektor pertanian dan industri pengolahan limbah. Dengan membeli limbah dari petani dan pengusaha lokal, PLN IP menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru di daerah.

4. Pengembangan Infrastruktur dan Teknologi

Untuk mendukung program co-firing, PLN IP terus mengembangkan infrastruktur dan teknologi pembangkit. Termasuk di antaranya adalah modifikasi peralatan PLTU agar kompatibel dengan biomassa, serta peningkatan penyimpanan dan distribusi bahan bakar terbarukan. Langkah ini memastikan efisiensi operasional dan keberlanjutan jangka panjang.

5. Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan

Transisi energi membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. PLN IP menjalin kolaborasi dengan pemerintah, pelaku industri, dan komunitas lokal untuk mempercepat adopsi energi bersih. Program ini juga menjadi bagian dari komitmen korporasi dalam menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang dan masyarakat luas.

6. Roadmap Menuju Energi Bersih Jangka Panjang

Ke depan, PLN IP akan terus meningkatkan skala dan kualitas implementasi co-firing sebagai bagian dari roadmap transisi energi. Targetnya adalah memperbesar kontribusi energi bersih dalam bauran energi nasional, sejalan dengan visi dekarbonisasi jangka panjang Indonesia.

Dampak dan Prospek Ke Depan

Dengan pencapaian ini, PLN IP semakin menegaskan perannya sebagai perusahaan pembangkit yang adaptif dan berkelanjutan. Integrasi antara keandalan operasional dan tanggung jawab lingkungan menjadi fondasi dalam setiap strategi bisnisnya. Tidak hanya sebagai penyedia listrik, PLN IP kini juga menjadi agen dalam transisi energi hijau.

Namun, perlu dicatat bahwa data dan pencapaian ini bersifat dinamis dan dapat berubah seiring kebijakan dan kondisi operasional di masa depan. Informasi yang disajikan merupakan hasil terkini hingga akhir tahun 2025.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.