Harga emas dunia sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan kecil di tengah ketegangan geopolitik yang masih mengganjal. Pasca-dilaporkan adanya perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, logam mulia ini sedikit naik. Namun, penguatan dolar AS dan kekhawatiran terhadap blokade Selat Hormuz kembali menekan pergerakannya.
Di tengah situasi ini, harga emas spot berada di kisaran USD4.676,04 per ons, turun sekitar 2,2 persen. Sementara harga emas berjangka mencatat penurunan lebih dalam, sebesar 2,8 persen, menjadi USD4.713,04 per ons. Meski sempat rebound dari level terendah sebulan sebelumnya di USD4.100, momentum kenaikan emas kini mulai melemah.
Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Harga Emas
Harga emas selalu punya hubungan erat dengan isu geopolitik global. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung mencari aset safe haven. Sayangnya, kali ini dolar AS justru menjadi pilihan utama, bukan emas. Penguatan greenback secara otomatis membuat emas terlihat kurang menarik, terutama bagi pembeli dari luar negeri.
1. Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran
Presiden Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Keputusan ini diambil setelah adanya permintaan dari pihak Pakistan agar negosiasi damai bisa berjalan lebih lanjut. Trump menyebut bahwa pemerintah Iran sedang mengalami perpecahan internal, dan ini memberi ruang untuk mencari solusi diplomatis.
Namun, keputusan ini tidak serta merta mengakhiri ketegangan. Media Iran melaporkan bahwa mereka belum memutuskan apakah akan menghadiri pembicaraan yang direncanakan. Salah satu syarat dari Teheran adalah pencabutan blokade terhadap kapal-kapal yang masuk dan keluar pelabuhan mereka.
2. Blokade Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak
Selat Hormuz, jalur krusial bagi perdagangan minyak global, kembali tertutup sebagian. Penutupan ini memicu lonjakan harga minyak, yang berdampak langsung pada inflasi global. Lonjakan harga energi ini bisa memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga, yang tidak menguntungkan emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.
| Komoditas | Harga (USD/ons atau barel) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Emas Spot | 4.676,04 | -2,2% |
| Emas Berjangka | 4.713,04 | -2,8% |
| Minyak Mentah (Brent) | 92,50 | +3,1% |
3. Penguatan Dolar AS dan Sentimen Investor
Dolar AS kembali menguat, mencatat level tertinggi dalam dua pekan. Ini terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan aset safe haven dan pernyataan dari kandidat Ketua The Fed, Kevin Warsh. Penguatan dolar secara langsung membuat emas lebih mahal bagi investor global, sehingga menekan permintaan.
Kebijakan Moneter dan Sentimen Pasar
Kebijakan moneter juga turut memengaruhi harga emas. Investor kini tengah menunggu kejelasan dari The Fed, terutama terkait kepemimpinan bank sentral tersebut.
1. Sidang Konfirmasi Kevin Warsh
Kevin Warsh, yang diusulkan Trump sebagai calon Ketua The Fed berikutnya, menyampaikan pandangan yang dianggap pasar cukup hawkish. Ia menekankan perlunya reformasi besar dalam kebijakan moneter, termasuk perubahan dalam kerangka pengendalian inflasi.
Warsh juga mengkritik kebijakan pembelian obligasi yang dilakukan Fed selama pandemi. Meski mendukung target suku bunga yang lebih rendah, ia tetap menekankan perlunya menjaga independensi bank sentral dari tekanan politik.
2. Dampak Kebijakan pada Harga Emas
Setelah pencalonan Warsh diumumkan, harga emas langsung anjlok dari rekor tertinggi. Pasar bereaksi negatif karena ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka pendek. Hal ini membuat emas, yang tidak menghasilkan bunga, kurang menarik dibandingkan aset berimbal hasil lainnya.
Perbandingan Harga Emas Sebelum dan Sesudah Ketegangan Geopolitik
Berikut adalah perbandingan harga emas sebelum dan sesudah lonjakan ketegangan Timur Tengah serta pencalonan Warsh sebagai Ketua The Fed.
| Periode | Harga Emas (USD/ons) | Kondisi Utama |
|---|---|---|
| Awal Maret 2026 | 4.850,00 | Stabil, tanpa ketegangan besar |
| Akhir Maret 2026 | 4.100,00 | Lonjakan ketegangan Iran-AS |
| Awal April 2026 | 4.676,04 | Perpanjangan gencatan senjata |
| Akhir April 2026 | 4.713,04 | Penguatan dolar dan kebijakan hawkish |
Faktor-Faktor yang Mendukung atau Menekan Harga Emas
Beberapa faktor kunci terus memengaruhi pergerakan harga emas secara global. Tidak hanya geopolitik, tetapi juga kebijakan moneter dan dinamika pasar komoditas.
1. Permintaan Safe Haven
Dalam situasi ketidakpastian tinggi, investor biasanya mencari aset aman. Emas adalah salah satunya. Namun, jika dolar juga dianggap aman dan lebih menguntungkan, maka emas bisa tertinggal.
2. Kebijakan Suku Bunga
Saat suku bunga naik, emas yang tidak memberikan bunga menjadi kurang menarik. Investor lebih memilih instrumen berimbal hasil seperti obligasi atau saham dividen tinggi.
3. Inflasi dan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak bisa memicu inflasi. Jika bank sentral menanggapi dengan menaikkan suku bunga, maka emas akan semakin tertekan. Namun, jika inflasi terus tinggi tanpa penyesuaian suku bunga, emas bisa kembali diminati.
Proyeksi Jangka Pendek Harga Emas
Dalam jangka pendek, harga emas masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan The Fed. Jika gencatan senjata antara AS dan Iran berlanjut dan menunjukkan hasil konkret, emas bisa rebound. Namun, jika ketegangan kembali memanas, dolar bisa tetap kuat dan emas terus tertekan.
Investor juga akan terus memantau proses konfirmasi Ketua The Fed. Jika Warsh akhirnya dikukuhkan dan menjalankan kebijakan yang lebih ketat, emas bisa menghadapi tekanan lebih lanjut.
Disclaimer
Harga emas sangat dinamis dan dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal. Data yang disajikan bersifat terkini hingga April 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, dan dinamika pasar global lainnya.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













