Harga emas dunia sempat bersinar terang sebelum akhirnya kembali melemah di tengah ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen pasar yang sebelumnya positif terhadap logam mulia mulai goyah seiring munculnya ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memicu lonjakan harga energi dan inflasi.
Peristiwa penyitaan kapal kargo Iran oleh pasukan AS akhir pekan lalu menjadi pemicu utama volatilitas pasar. Meski emas biasanya dianggap sebagai pelindung nilai di masa krisis, kenaikan suku bunga yang diprediksi sebagai respons bank sentral terhadap potensi inflasi justru membuat logam mulia ini kurang menarik di mata investor jangka pendek.
Dinamika Pasar Emas di Tengah Ketegangan AS-Iran
Pergerakan harga emas dunia akhir-akhir ini mencerminkan situasi yang cukup rumit. Biasanya, ketika ketegangan geopolitik meningkat, investor beralih ke emas sebagai aset aman. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.
1. Penyitaan Kapal Iran Picu Ketidakpastian
Pada akhir pekan lalu, militer AS menembak dan menyita kapal kargo Iran, M/V Touska, setelah kapal tersebut tidak merespons peringatan selama enam jam. Tindakan ini langsung memicu reaksi tajam dari Iran yang mengancam akan membalas.
Presiden Donald Trump membenarkan penyitaan tersebut melalui media sosial. Namun, respons dari pihak Iran justru semakin memperkeruh suasana. Ketegangan yang terus meningkat membuat investor mulai waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
2. Perundingan Perdamaian yang Kabur
Berita mengenai perundingan perdamaian antara AS dan Iran juga datang dengan versi yang berbeda-beda. Ada laporan yang menyebut Wakil Presiden JD Vance akan berangkat ke Pakistan pada Senin, sementara sumber lain menyebut keberangkatan akan terjadi pada Selasa.
Ketidakkonsistenan informasi ini menambah ketidakpastian pasar. Investor cenderung menunda keputusan investasi sampai situasi lebih jelas. Padahal, tenggat gencatan senjata antara kedua negara hanya tinggal beberapa hari lagi.
3. Lonjakan Harga Minyak Tekan Harga Emas
Penutupan sebagian Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak global, memicu lonjakan harga energi. Lonjakan ini membuka kemungkinan munculnya inflasi baru yang lebih luas.
Investor mulai khawatir bahwa bank sentral global, termasuk Federal Reserve, akan kembali menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi. Kenaikan suku bunga ini justru membuat emas yang tidak menghasilkan bunga menjadi kurang menarik dibandingkan aset berbunga.
Perbandingan Kinerja Emas dan Saham Pasca-Konflik
Sejak awal April, harga emas spot naik sekitar 7,3 persen. Angka ini terlihat solid, tapi jauh tertinggal dibandingkan kenaikan indeks S&P 500 yang mencatatkan lonjakan hingga 11,6 persen dalam periode yang sama.
| Indikator | Kenaikan (%) |
|---|---|
| Harga Emas Spot (April 2026) | 7,3% |
| Indeks S&P 500 (April 2026) | 11,6% |
Perbedaan ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih aset berisiko tinggi seperti saham dibandingkan emas. Harapan akan pemulihan ekonomi dan optimisme terhadap sektor teknologi dan infrastruktur AI menjadi alasan utama rotasi investasi ini.
Faktor yang Membuat Emas Tertinggal
Jake Behan, Kepala Pasar Modal Direxion, menjelaskan bahwa emas tidak kehilangan statusnya sebagai safe haven. Namun, dalam situasi saat ini, investor lebih memilih likuiditas dan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.
1. Suku Bunga yang Meningkat
Kenaikan suku bunga membuat investor lebih tertarik pada instrumen berbunga seperti obligasi atau saham perusahaan besar. Emas yang tidak memberikan bunga jadi kurang diminati.
2. Optimisme Terhadap AI dan Infrastruktur
Cerita investasi baru di sektor kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital memberikan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi. Ini menarik investor untuk kembali ke pasar saham.
3. Ketidakpastian Inflasi Jangka Pendek
Meski inflasi menjadi risiko, dampak jangka pendeknya masih belum jelas. Investor lebih memilih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum kembali ke emas.
Apa Kata Ahli?
Jake Behan menambahkan bahwa saat ini investor sedang dalam fase transisi. Di satu sisi, ada kekhawatiran terhadap konflik Timur Tengah. Di sisi lain, ada optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor teknologi.
“Konflik di Iran masih sangat nyata. Namun, investor juga melihat peluang di sektor lain. Ini bukan berarti emas tidak penting, tapi saat ini bukan saat yang tepat untuk menggebrak investasi di logam mulia,” ujarnya.
Perlukah Masih Investasi Emas?
Meski harga emas sedang melemah, tidak berarti emas kehilangan nilainya sebagai instrumen investasi. Emas tetap menjadi pilihan utama saat ketidakpastian benar-benar melonjak dan pasar mulai panik.
Namun, saat ini investor lebih memilih menunggu perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan bank sentral sebelum kembali menimbun emas dalam portofolio mereka.
Disclaimer
Data harga emas dan informasi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, dan sentimen investor global. Informasi dalam artikel ini disajikan berdasarkan data hingga April 2026 dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













