Nasional

Rupiah Melemah Hingga Rp17 Ribu Dipicu Ketegangan Konflik Internasional Yang Meningkat

Danang Ismail
×

Rupiah Melemah Hingga Rp17 Ribu Dipicu Ketegangan Konflik Internasional Yang Meningkat

Sebarkan artikel ini

Nilai tukar rupiah kembali terpuruk di level Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Sentimen negatif dari gejolak regional ini langsung berimbas pada performa mata uang domestik yang terus berada di bawah tekanan.

Rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,13% pada perdagangan Senin, dari level sebelumnya di Rp16.980 menjadi Rp17.002 per USD. Sementara kurs JISDOR yang diterbitkan Bank Indonesia juga mencatatkan kenaikan ke level Rp16.993 per USD, naik dari sebelumnya Rp16.957. Pelemahan ini mencerminkan keresahan pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang semakin luas.

Dinamika Konflik Timur Tengah dan Dampaknya pada Rupiah

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Serangan yang dilancarkan kelompok Houthi dari Yaman ke Israel membuka kemungkinan semakin melebarnya konflik. Houthi, yang memiliki keterkaitan erat dengan Iran, menyatakan akan terus melancarkan serangan sampai Israel menghentikan agresinya di Palestina dan Lebanon.

1. Serangan Houthi ke Israel

Houthi menyerang Israel dengan rudal untuk kedua kalinya dalam sehari. Serangan ini merupakan bagian dari solidaritas mereka dengan Iran yang menjadi sasaran serangan gabungan AS-Israel beberapa waktu lalu. Gerakan Ansar Allah Yaman atau Houthi menyebut serangan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai “perang terhadap Islam dan umat Muslim”.

2. Iran Siap Hadapi Ancaman

Iran tidak tinggal diam. Meski belum melancarkan serangan besar, sikap keras Tehran menunjukkan bahwa mereka siap menghadapi ancaman invasi atau tekanan dari AS dan sekutunya. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran masih berjalan, namun tidak memberikan batas waktu pasti. Ketidakpastian ini menambah volatilitas pasar global.

3. Sentimen Negatif Pasar Global

Selain faktor geopolitik, sentimen negatif juga datang dari Serikat. Survei dari Universitas Michigan menunjukkan bahwa Sentimen Konsumen AS pada Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3. Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan juga naik dari 3,4% menjadi 3,8%. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian serius di tengah ketidakpastian global.

Mengapa Rupiah Rentan terhadap Gejolak Global?

Rupiah memang kerap menjadi korban saat ketegangan global meningkat. Ada beberapa alasan mengapa mata uang ini rentan terhadap gejolak luar negeri.

1. Ketergantungan pada Arus Modal Asing

sangat bergantung pada arus , terutama dari portofolio. Ketika situasi global tidak menentu, investor cenderung memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.

2. Defisit Neraca Perdagangan

Neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit, yang membuat tekanan tambahan pada mata uang lokal. Impor yang tinggi, terutama dari komoditas , membuat kebutuhan dolar semakin besar.

3. Kebijakan Moneter yang Belum Sepenuhnya Stabil

Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas rupiah, namun kebijakan moneter yang diambil belum sepenuhnya mampu menahan tekanan dari luar. Kenaikan acuan BI menjadi langkah yang diambil, tapi efeknya baru akan terlihat dalam jangka panjang.

Perbandingan Nilai Tukar Rupiah dalam 1 Tahun Terakhir

Berikut adalah data pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam satu tahun terakhir:

Bulan Kurs Rata-Rata (Rp per USD)
April 2025 15.850
Mei 2025 16.020
Juni 2025 16.110
Juli 2025 16.230
Agustus 2025 16.350
September 2025 16.480
Oktober 2025 16.570
November 2025 16.660
Desember 2025 16.780
Januari 2026 16.850
Februari 2026 16.920
Maret 2026 17.000

Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar dan faktor eksternal lainnya.

Langkah yang Bisa Ditempuh untuk Mengurangi Risiko

Menghadapi tekanan rupiah, ada beberapa langkah yang bisa menjadi pertimbangan, baik bagi pemerintah maupun masyarakat.

1. Diversifikasi Mata Uang dalam Transaksi Internasional

Mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam bisa menjadi solusi jangka panjang. Penggunaan mata uang lokal atau mata uang kuat lainnya seperti euro atau yuan bisa mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.

2. Penguatan Sektor Ekspor

Mendorong peningkatan kapasitas ekspor nasional akan membantu menyeimbangkan neraca perdagangan. Produk lokal yang kompetitif bisa menjadi andalan untuk menarik devisa dan mengurangi tekanan pada rupiah.

3. Pengelolaan Cadangan Devisa yang Lebih Efektif

Cadangan devisa yang besar dan dikelola secara efektif bisa menjadi tameng saat tekanan nilai tukar terjadi. BI perlu terus memperkuat posisi ini untuk menjaga stabilitas jangka pendek.

Penutup

Rupiah yang menyentuh level Rp17.000 per dolar AS mencerminkan betapa rapuhnya mata uang domestik di tengah gejolak global. Ketegangan di Timur Tengah menjadi pemicu utama, namun bukan satu-satunya faktor. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak bisa lepas dari dinamika internasional.

Meski demikian, tantangan ini juga bisa menjadi peluang untuk memperkuat struktur ekonomi dalam negeri. Dengan kebijakan yang tepat dan antisipasi yang baik, tekanan terhadap rupiah bisa diminimalkan di masa depan. Yang , langkah tersebut diambil sebelum situasi semakin memburuk.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.