Nasional

Rupiah Melemah pada Perdagangan Jumat Sore Menuju Level Rp16.979 per Dolar AS

Herdi Alif Al Hikam
×

Rupiah Melemah pada Perdagangan Jumat Sore Menuju Level Rp16.979 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah pada Perdagangan Jumat Sore Menuju Level Rp16.979 per Dolar AS

Ilustrasi. Foto: dok MI.

rupiah terhadap Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat sore, 27 Maret 2026, kembali melemah. Pelemahan ini terjadi menjelang akhir pekan dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internal.

Menurut data Bloomberg, rupiah melemah 75,5 poin atau sekitar 0,45 persen ke level Rp16.979 per USD. Posisi ini lebih lemah dibandingkan pembukaan perdagangan pagi yang berada di kisaran Rp16.930 per USD.

Sementara itu, data dari Yahoo Finance mencatat rupiah melemah 62 poin atau 0,06 persen menjadi Rp16.960 per USD dari posisi sebelumnya di Rp16.898 per USD. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih terasa di akhir perdagangan.

Bank Indonesia () mencatat kurs referensi JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) berada di level Rp16.957 per USD. Kurs ini menjadi acuan dalam transaksi valuta asing di pasar keuangan domestik.

Volatilitas Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu Utama

Pelemahan rupiah tidak terlepas dari dinamika global, terutama volatilitas harga minyak dunia. Kondisi ini memicu sentimen negatif di pasar keuangan, termasuk di Indonesia.

Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara, menyebut bahwa fluktuasi harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah. Ketidakpastian terkait juga turut memperburuk situasi.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp16.870-Rp16.920 dipengaruhi oleh volatilitas harga minyak dunia yang masih tinggi dan ketidakpastian berakhirnya perang AS-Israel dengan Iran,” ujar Rully.

Ketegangan Iran Picu Kekhawatiran Pasar

Salah satu isu geopolitik yang berimbas pada harga minyak adalah langkah Iran terkait Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.

Anggota parlemen Iran, Mohammadreza Rezaei Kouchi, menyatakan bahwa pihaknya ingin melegalkan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk memperkuat posisi tawar Iran di tengah ketegangan regional.

Sebelumnya, pada 24 Maret 2026, Bloomberg melaporkan bahwa Iran telah mulai mengenakan biaya sebesar USD2 juta atau sekitar Rp33,8 miliar per kapal dagang yang melintas. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya blokade de facto di kawasan tersebut.

Dampak pada Produksi dan Ekspor Minyak Global

Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global. Ketegangan di kawasan ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia.

Eskalasi yang terjadi di sekitar Iran turut memengaruhi produksi dan ekspor minyak di kawasan. Hal ini mendorong kenaikan harga minyak di pasar internasional.

Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada biaya produksi di berbagai sektor. Dari industri manufaktur hingga transportasi, semua merasakan tekanan dari lonjakan biaya energi.

Sentimen Domestik: Inflasi dan Defisit Anggaran

Di sisi dalam negeri, pasar mulai waspada terhadap potensi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak. Tren inflasi yang sudah mulai naik sebelum Iran-Israel kini semakin diperparah.

“Sebelum pecah perang AS-Israel dan Iran, tren inflasi sudah mulai meningkat. Ditambah kenaikan harga minyak yang akan menambah biaya produksi industri dan harga jual barang,” ujar Rully.

Selain itu, potensi defisit anggaran juga menjadi perhatian. Pemerintah diingatkan untuk menjaga keseimbangan fiskal agar tidak melebihi batas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Langkah Pemerintah untuk Menjaga Stabilitas

Menghadapi tekanan ekonomi ini, pemerintah memiliki beberapa opsi kebijakan. Salah satunya adalah menjaga daya beli masyarakat melalui program .

Program bantuan tunai dan insentif listrik menjadi salah satu cara untuk menahan laju inflasi. Selain itu, penghematan di lembaga dan kementerian juga bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan anggaran.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat meredam dampak negatif dari kenaikan harga minyak dan tekanan eksternal lainnya.

Perbandingan Data Kurs Rupiah terhadap USD

Berikut adalah perbandingan data AS dari berbagai sumber pada Jumat, 27 Maret 2026:

Sumber Data Kurs (Rp/USD) Perubahan (Poin) Perubahan (%)
Bloomberg 16.979 -75,5 -0,45%
Yahoo Finance 16.960 -62 -0,06%
JISDOR (BI) 16.957

Disclaimer: Data di atas bersifat mengambang dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar. Nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor dan domestik.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah

Selain harga minyak dan ketegangan geopolitik, ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi nilai tukar rupiah. Antara lain adalah kebijakan moneter bank sentral AS, aliran asing, dan sentimen investor global.

Bank Indonesia terus memantau perkembangan ini dan siap melakukan intervensi jika diperlukan. Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu prioritas utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Proyeksi ke Depan: Apa yang Harus Diwaspadai?

Ke depan, pasar akan terus memperhatikan perkembangan konflik di Timur Tengah. Setiap eskalasi berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan melemahkan rupiah lebih lanjut.

Selain itu, kebijakan moneter The Federal Reserve juga menjadi sorotan. Kenaikan suku bunga AS atau perubahan kebijakan lainnya bisa memengaruhi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Investor dan pelaku pasar disarankan untuk terus memantau indikator ekonomi makro, baik domestik maupun global. Kesiapan menghadapi volatilitas menjadi kunci dalam menjaga portofolio tetap stabil.

Tags: rupiah, harga minyak dunia, dolar as, rupiah melemah

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.