PT Bank Panin Tbk. (PNBN) mencatat pencapaian laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,87 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini naik tipis 0,13% dibandingkan laba tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,86 triliun. Meski pertumbuhan terlihat kecil, pencapaian ini tetap menunjukkan konsistensi bank dalam menjaga kinerja keuangan di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
Salah satu pendorong utama kenaikan laba adalah peningkatan pendapatan dari jasa atau fee-based income. Komponen ini tumbuh 3,47% secara tahunan, atau naik sebesar Rp2,30 triliun dibanding periode yang sama di 2024. Ini menunjukkan bahwa Panin Bank semakin fokus pada diversifikasi pendapatan di luar bunga, yang umumnya lebih fluktuatif.
Pendapatan Bunga dan Biaya Operasional
Pendapatan bunga bersih juga turut menyokong kinerja laba. Pada 2025, pendapatan ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,19% YoY menjadi Rp8,95 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan strategi bank dalam mengelola portofolio pinjaman yang tetap produktif meski volume kredit sedikit menyusut.
Di sisi lain, beban operasional mengalami penurunan. Total beban operasional pada 2025 mencapai Rp5,02 triliun, turun 2,83% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan angka Rp5,16 triliun. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk efisiensi biaya dan pengurangan pengeluaran promosi.
1. Penurunan Beban Promosi yang Signifikan
Salah satu komponen beban operasional yang turun cukup dalam adalah beban promosi. Pada 2025, beban ini hanya mencapai Rp30,70 miliar, turun drastis 49,33% dari angka Rp60,59 miliar di 2024. Ini menunjukkan bahwa Panin Bank mulai lebih selektif dalam pengeluaran non-operasional.
2. Impairment Lebih Rendah
Impairment atau kerugian karena penurunan nilai aset juga mengalami penurunan. Pada akhir 2025, impairment Panin Bank turun 14,79% menjadi Rp1,433 triliun dibandingkan Rp1,68 triliun di tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan manajemen risiko yang lebih baik dan kualitas aset yang lebih stabil.
Laba Operasional dan Nonoperasional
Laba operasional Panin Bank tumbuh 4,34% YoY, mencapai Rp3,92 triliun pada 2025, naik dari Rp3,76 triliun di 2024. Sementara itu, laba nonoperasional juga membaik. Jika pada 2024 bank mencatatkan kerugian sebesar Rp109,42 miliar, di 2025 laba nonoperasional mencapai Rp8,25 miliar.
Peningkatan laba nonoperasional ini bisa menjadi indikator bahwa bank berhasil memperbaiki posisi investasinya atau mengurangi kerugian dari aktivitas di luar bisnis inti. Ini juga menunjukkan bahwa strategi pengelolaan risiko mulai membuahkan hasil.
Kredit dan Kualitas Aset
Volume kredit Panin Bank pada akhir 2025 mencapai Rp145,08 triliun, turun 2,56% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan Rp148,90 triliun. Penurunan ini terjadi meski bank terus berupaya menjaga kualitas pinjaman yang diberikan.
3. Penurunan NPL Berkat Manajemen Risiko yang Ketat
Meski volume kredit menyusut, kualitasnya justru membaik. NPL (non-performing loan) bruto turun dari 3,05% di 2024 menjadi 2,82% di akhir 2025. Sementara itu, NPL bersih mencatatkan angka 1,04%. Penurunan ini didukung oleh penerapan prosedur penilaian risiko yang ketat dan upaya pemulihan kredit yang direstrukturisasi.
4. Dana Pihak Ketiga Naik
Dana pihak ketiga (DPK) Panin Bank mencapai Rp156,91 triliun pada akhir 2025, naik 2,98% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan Rp152,37 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mempercayai bank dalam menyimpan dana mereka, meski volume kredit sedikit turun.
Perbandingan Kinerja Keuangan Panin Bank 2024 vs 2025
Berikut adalah ringkasan kinerja keuangan Panin Bank dari tahun ke tahun:
| Komponen | 2024 | 2025 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp2,86 T | Rp2,87 T | +0,13% |
| Pendapatan Bunga Bersih | Rp8,93 T | Rp8,95 T | +0,19% |
| Fee-Based Income | Rp2,22 T | Rp2,30 T | +3,47% |
| Beban Operasional | Rp5,16 T | Rp5,02 T | -2,83% |
| Impairment | Rp1,68 T | Rp1,43 T | -14,79% |
| Laba Operasional | Rp3,76 T | Rp3,92 T | +4,34% |
| Laba Nonoperasional | -Rp109,42 M | +Rp8,25 M | — |
| Volume Kredit | Rp148,90 T | Rp145,08 T | -2,56% |
| DPK | Rp152,37 T | Rp156,91 T | +2,98% |
Strategi Jangka Panjang Panin Bank
Dari pencapaian ini, terlihat bahwa Panin Bank tidak hanya fokus pada pertumbuhan kuantitatif, tetapi juga pada kualitas aset dan efisiensi biaya. Langkah-langkah seperti pengurangan beban promosi dan peningkatan pendapatan non-bunga menunjukkan bahwa bank ini sedang menata ulang strategi bisnisnya agar lebih tahan terhadap volatilitas pasar.
Selain itu, penurunan NPL dan kenaikan DPK menunjukkan bahwa bank masih bisa mempertahankan kepercayaan nasabah meski volume kredit sedikit turun. Ini adalah sinyal positif untuk stabilitas jangka panjang.
Disclaimer
Data yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan keuangan resmi Panin Bank untuk tahun 2025. Angka-angka dan persentase pertumbuhan dapat berubah seiring dengan adanya pembaharuan atau koreksi dari pihak bank. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terkini.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













