Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali mencatatkan kinerja keuangan yang solid di tahun 2025. Laba bersih konsolidasian bank ini mencapai Rp57,13 triliun, menunjukkan pertumbuhan yang konsisten meski menghadapi dinamika pasar yang cukup ketat. Angka ini sedikit turun dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang mencapai Rp60,3 triliun, tetapi tetap menempatkan BRI sebagai salah satu bank terbesar dengan profit yang solid di Tanah Air.
Salah satu kabar menarik yang muncul usai pelaporan keuangan ini adalah bocoran terkait rencana pembagian dividen tahun buku 2025. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, memberikan sinyal kuat bahwa bank bakal mempertimbangkan payout ratio yang lebih tinggi. Langkah ini diambil berdasarkan posisi permodalan BRI yang sangat kuat, dengan CAR (Capital Adequacy Ratio) mencapai 23,53% di akhir tahun lalu. Angka ini jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan regulator, memberikan ruang gerak lebih besar untuk membagikan keuntungan kepada para pemegang saham.
Kinerja Keuangan BRI Tahun 2025
Sebelum membahas lebih lanjut soal dividen, penting untuk melihat lebih dekat bagaimana BRI mencatatkan laba sebesar Rp57,13 triliun. Pendapatan bunga menjadi tulang punggung utama, mencapai Rp207,78 triliun, naik 4,27% secara tahunan dari tahun sebelumnya. Meski beban bunga juga naik menjadi Rp57,28 triliun, pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) tetap positif, mencatatkan angka Rp150,50 triliun atau naik 5,52% YoY.
1. Pertumbuhan Kredit dan Pembiayaan Syariah
Salah satu indikator utama kesehatan bank adalah pertumbuhan kredit. Di tahun 2025, total kredit dan pembiayaan syariah BRI mencapai Rp1.517,07 triliun, naik 12,67% dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp1.348,2 triliun. Kredit konvensional menyumbang Rp1.460,72 triliun, naik 12,5% YoY dari Rp1.298,31 triliun. Sementara itu, pembiayaan syariah juga menunjukkan pertumbuhan positif, naik 12,9% menjadi Rp56,35 triliun.
2. Penghimpunan Dana yang Terus Meningkat
Dana pihak ketiga (DPK) BRI juga mencatatkan pertumbuhan yang solid, yakni mencapai Rp1.466,84 triliun atau naik 7,42% dibandingkan tahun 2024 yang mencatatkan angka Rp1.365,45 triliun. Rinciannya terdiri dari:
- Giro: Rp448,20 triliun (naik 19,66% YoY)
- Tabungan: Rp587,58 triliun (naik 7,93% YoY)
- Deposito: Rp431,05 triliun (turun tipis dari Rp446,46 triliun)
Peningkatan signifikan pada giro menunjukkan bahwa BRI berhasil menarik lebih banyak dana dari kalangan korporasi dan nasabah premium, yang umumnya memiliki likuiditas tinggi.
Rencana Dividen BRI 2025
Dengan kondisi permodalan yang kuat dan kinerja keuangan yang solid, BRI dikabarkan akan mempertimbangkan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hery Gunardi menyebut bahwa langkah ini tidak hanya untuk memberikan apresiasi kepada pemegang saham, tetapi juga sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan return on equity (ROE) bank.
3. Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Dividen
Beberapa faktor menjadi pertimbangan utama dalam menentukan besaran dividen yang akan dibagikan:
- Capital Adequacy Ratio (CAR): BRI memiliki CAR sebesar 23,53%, jauh di atas ambang batas minimum 8% yang ditetapkan Bank Indonesia.
- Rencana Pertumbuhan Bisnis: Meski CAR tinggi, BRI tetap perlu menjaga modal untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
- Kebutuhan Regulator: Bank tetap harus memenuhi ketentuan prudensial yang berlaku.
- Harapan Return Pemegang Saham: Dividen yang kompetitif menjadi salah satu cara menarik investor jangka panjang.
4. Perbandingan Dividen BRI dengan Bank Lain
Untuk memberikan gambaran, berikut adalah estimasi payout ratio dan dividen tunai per saham dari beberapa bank besar di tahun 2025:
| Bank | Laba Bersih 2025 | Payout Ratio (%) | Dividen per Saham (Rp) |
|---|---|---|---|
| BRI | Rp57,13 T | 40–50% | Rp250–Rp300 |
| BCA | Rp61,40 T | 35–45% | Rp500–Rp600 |
| Mandiri | Rp55,80 T | 40–50% | Rp300–Rp350 |
| BNI | Rp22,50 T | 30–40% | Rp150–Rp200 |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung kebijakan dewan komisaris dan regulator.
Strategi Jangka Panjang BRI
Langkah meningkatkan payout ratio bukan berarti BRI mengabaikan pengembangan bisnis. Sebaliknya, bank ini terus berinvestasi dalam digitalisasi, layanan nasabah, dan ekspansi jaringan. Termasuk peluncuran produk-produk baru seperti ETF Emas BRI Manajemen Investasi yang direncanakan meluncur pada April 2026 mendatang.
5. Fokus pada Digitalisasi dan Inklusi Keuangan
BRI terus mengembangkan layanan digital seperti BRImo, BRI Mobile, dan BRI Link untuk mendukung inklusi keuangan. Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjangkau lebih banyak nasabah, terutama di daerah pelosok yang belum terlayani bank lain.
6. Penguatan Bisnis Syariah
Pertumbuhan pembiayaan syariah yang mencapai 12,9% menunjukkan bahwa BRI terus memperkuat segmen ini. Bank juga terus mengembangkan produk-produk syariah yang inovatif untuk menarik minat masyarakat yang lebih menyukai sistem keuangan berbasis prinsip syariah.
Disclaimer
Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga Februari 2026. Angka-angka dan rencana dividen yang disebutkan bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan dewan komisaris, kondisi makroekonomi, serta regulasi dari Bank Indonesia. Pembaca disarankan untuk merujuk pada pengumuman resmi dari BRI atau laporan keuangan terkini untuk informasi yang akurat dan terbaru.
Investasi pada saham selalu memiliki risiko. Keputusan investasi sebaiknya diambil setelah mempertimbangkan kondisi keuangan pribadi dan konsultasi dengan penasihat keuangan profesional.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













