Kredit perbankan nasional pada Januari 2026 mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 9,96% menjadi Rp8.557 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan posisi akhir tahun lalu yang mencapai Rp8.586 triliun. Meski begitu, sektor investasi tetap menjadi andalan utama dalam mendorong pertumbuhan kredit, dengan kenaikan mencapai 22,38% secara tahunan.
Pertumbuhan kredit konsumsi dan modal kerja juga terus berlanjut, meskipun pada laju yang lebih moderat. Kredit konsumsi naik 6,58% YoY, sementara kredit modal kerja tumbuh 4,13% YoY. Dari sisi debitur korporasi, kredit tumbuh 16,07% YoY, dengan bank BUMN mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 13,43% secara tahunan.
Simpanan Naik Tipis, LDR Stabil
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp10.076 triliun pada Januari 2026, naik 13,48% secara tahunan. Secara bulanan, pertumbuhan DPK hanya mencatat peningkatan tipis sebesar 0,17%. Meskipun begitu, kenaikan ini cukup membantu menjaga stabilitas rasio loan to deposit ratio (LDR) pada level 84,93%, hampir setara dengan posisi Desember 2025 yang mencatatkan LDR sebesar 85,35%.
Rasio ini menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki kapasitas untuk menyalurkan kredit lebih lanjut tanpa mengorbankan likuiditas. Kenaikan DPK yang sebagian besar berasal dari simpanan masyarakat menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap sistem perbankan tetap tinggi.
Kondisi Permodalan dan Profitabilitas
Permodalan perbankan tetap solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,87% pada akhir Januari 2026, sama dengan posisi Desember. Angka ini jauh di atas ambang batas minimum 8% yang ditetapkan regulator, menunjukkan bahwa perbankan memiliki bantalan modal yang cukup kuat menghadapi potensi risiko.
Namun, dari sisi profitabilitas, perbaikan masih terbatas. Net interest margin (NIM) naik tipis dari 4,56% menjadi 4,63%. Sementara itu, return on assets (ROA) sedikit turun dari 2,53% menjadi 2,49%. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pendapatan bunga meningkat, efisiensi operasional masih menjadi tantangan.
Risiko Kredit dan Likuiditas
Rasio kredit bermasalah (NPL gross) naik dari 2,05% menjadi 2,14% pada Januari 2026. Meski terlihat meningkat, angka ini masih berada dalam batas wajar. NPL net sendiri tercatat di level 0,82%, menunjukkan bahwa bank telah melakukan cukup banyak penyaluran dana cadangan untuk menanggulangi risiko kredit macet.
Rasio pencadangan atau loan at risk (LAR) berada di level 9,01%, menunjukkan bahwa bank masih memiliki kapasitas untuk menangani potensi risiko kredit di masa depan. Likuiditas perbankan juga tetap terjaga dengan baik. Alat likuid mencapai Rp2.775 triliun, dengan rasio AL/NCD sebesar 121,23% dan AL/DPK sebesar 27,54%.
Perbandingan Kinerja Perbankan: Desember 2025 vs Januari 2026
| Indikator | Desember 2025 | Januari 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Total Kredit | Rp8.586 T | Rp8.557 T | -0,33% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | Rp10.059 T | Rp10.076 T | +0,17% |
| LDR | 85,35% | 84,93% | -0,42% |
| CAR | 25,87% | 25,87% | Stabil |
| NIM | 4,56% | 4,63% | +0,07% |
| ROA | 2,53% | 2,49% | -0,04% |
| NPL Gross | 2,05% | 2,14% | +0,09% |
| LCR | 195,10% | 197,92% | +2,82% |
Likuiditas Perbankan Tetap Kuat
Likuiditas perbankan nasional tetap berada pada posisi yang kuat. Rasio liquidity coverage ratio (LCR) tercatat sebesar 197,92%, jauh di atas ambang batas minimum 100%. Angka ini menunjukkan bahwa bank memiliki cukup aset likuid untuk memenuhi kewajiban jangka pendek selama periode stres.
Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa sektor perbankan siap menghadapi potensi gejolak eksternal, baik dari tekanan ekonomi global maupun perubahan kebijakan moneter. Likuiditas yang tinggi juga memberikan ruang bagi bank untuk terus menyalurkan kredit secara berkelanjutan.
Tantangan di Tengah Pertumbuhan
Meskipun pertumbuhan kredit investasi menjadi pendorong utama, bank tetap harus waspada terhadap risiko kredit yang mulai meningkat. Kenaikan NPL gross menjadi sinyal bahwa kualitas peminjam perlu terus dipantau secara ketat. Terlebih lagi, sektor swasta yang menjadi bagian besar dari debitur investasi harus tetap menjaga kinerja usaha agar tidak membebani portofolio kredit bank.
Selain itu, meskipun NIM naik tipis, tekanan pada margin tetap ada. Bank perlu terus meningkatkan efisiensi operasional dan diversifikasi pendapatan agar tidak terlalu bergantung pada pendapatan bunga.
Prospek Kredit di Tahun 2026
Pertumbuhan kredit yang masih positif di awal tahun menjadi sinyal optimis bagi prospek sektor perbankan sepanjang 2026. Terutama sektor investasi yang menjadi andalan, menunjukkan bahwa sektor riil masih memiliki potensi untuk berkembang. Namun, bank juga perlu terus menjaga kualitas aset dan likuiditas agar tetap tahan terhadap potensi risiko.
Dengan rasio CAR yang tinggi dan LCR yang jauh di atas ambang batas, sektor perbankan memiliki fondasi yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Tantangan utama akan datang dari pengelolaan risiko kredit dan efisiensi operasional di tengah persaingan yang semakin ketat.
Disclaimer
Data yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026. Angka-angka yang ditampilkan dapat berubah seiring dengan perkembangan kondisi makroekonomi dan kebijakan regulator. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terkini.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













