Perbankan

Induk BCA Dwimuria Investama Catatkan Keuntungan Bersih Rp31,6 Triliun Didorong Kinerja BBCA

Rista Wulandari
×

Induk BCA Dwimuria Investama Catatkan Keuntungan Bersih Rp31,6 Triliun Didorong Kinerja BBCA

Sebarkan artikel ini
Induk BCA Dwimuria Investama Catatkan Keuntungan Bersih Rp31,6 Triliun Didorong Kinerja BBCA

PT Dwimuria Investama Andalan mencatatkan kinerja keuangan yang solid di tahun buku . Entitas induk pemegang saham mayoritas Bank Central Asia (BCA) ini membukukan laba bersih sebesar Rp31,64 triliun, naik 6,3% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan laba Rp29,74 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan BCA yang tetap menjaga momentum pertumbuhan meski di tengah dinamika ekonomi yang kompetitif.

Dwimuria Investama Andalan memiliki saham sebesar 54,94% di BCA sejak akhir 2024 dan 2025. Laba yang diraih mencerminkan kinerja operasional yang konsisten serta strategi bisnis jangka panjang yang terus dikembangkan oleh manajemen BCA.

Pendapatan Bunga dan Syariah Naik Tajam

Salah satu pendorong utama laba Dwimuria berasal dari performa dan syariah BCA. Total pendapatan bunga dan syariah bruto mencapai Rp100,19 triliun, naik 4,6% dari Rp95,78 triliun di tahun sebelumnya.

  1. Pendapatan bunga naik 4,% menjadi Rp99,25 triliun.
  2. Pendapatan syariah melonjak 17,5% menjadi Rp946,02 miliar.

Namun, beban bunga dan syariah juga mengalami kenaikan. Beban bunga naik 6,1% menjadi Rp12,87 triliun, sementara beban syariah melonjak 29% menjadi Rp509,26 miliar. Meski begitu, pendapatan bersih dari bunga dan syariah tetap tumbuh positif sebesar 4,2% menjadi Rp86,81 triliun.

Pendapatan Operasional Lainnya Tumbuh Signifikan

Selain pendapatan bunga, BCA juga mencatatkan pertumbuhan yang kuat pada pendapatan operasional lainnya. Ini menunjukkan diversifikasi pendapatan yang semakin luas dan strategi monetisasi yang efektif.

  1. Pendapatan provisi dan komisi bersih naik 11% menjadi Rp19,89 triliun.
  2. Pendapatan transaksi yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi melonjak 111,8% menjadi Rp3,18 triliun.
  3. Pos lain-lain naik 52,2% menjadi Rp3,44 triliun.

Total pendapatan operasional lainnya mencapai Rp26,50 triliun, naik 22,3% dari tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa BCA tidak hanya bergantung pada pendapatan bunga, tapi juga terus mengembangkan sumber pendapatan alternatif.

Pencadangan dan Beban Operasional

Peningkatan beban pencadangan menjadi salah satu catatan penting dalam tahun ini. Beban penyisihan kerugian penurunan nilai melonjak 118,5% menjadi Rp4,45 triliun dari Rp2,03 triliun di tahun sebelumnya.

  1. Beban operasional lainnya naik 3,2% menjadi Rp37,55 triliun.
  2. Beban karyawan naik 3,1% menjadi Rp18,03 triliun.
  3. Beban umum dan administrasi naik 2,91% menjadi Rp17,39 triliun.
  4. Beban lain-lain naik 6,9% menjadi Rp2,13 triliun.

Meski ada peningkatan beban, laba sebelum pajak tetap tumbuh 5,3% menjadi Rp71,46 triliun. Beban pajak naik tipis sebesar 2,9% menjadi Rp13,79 triliun.

Neraca Keuangan dan Aset

Dari sisi neraca, total aset konsolidasian Dwimuria mencapai Rp1.736,92 triliun, naik 9% dari Rp1.592,36 triliun di akhir 2024.

  1. Kredit yang diberikan setelah cadangan naik 8,1% menjadi Rp939,82 triliun.
  2. Efek untuk tujuan investasi naik 11,1% menjadi Rp413,37 triliun.
  3. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi melonjak 75,6% menjadi Rp47,94 triliun.

Sementara itu, simpanan nasabah mencapai Rp1.233,76 triliun, naik 10,1% dari tahun sebelumnya. Total liabilitas juga naik 10,2% menjadi Rp1.296,53 triliun.

Ekuitas dan Laba yang Dapat Diperhitungkan

Total ekuitas naik 5,7% menjadi Rp429,76 triliun dari Rp406,40 triliun. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 5,4% menjadi Rp303,07 triliun.

Berikut rincian laba bersih Dwimuria dan BCA dalam beberapa tahun terakhir:

Tahun Laba Bersih Dwimuria (triliun) Pertumbuhan Tahunan
2023 Rp27,90
2024 Rp29,74 6,6%
2025 Rp31,64 6,3%

Disclaimer: di atas bersifat estimasi berdasarkan laporan tahunan dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi makroekonomi dan regulasi yang berlaku.

Kinerja BCA Dalam Konteks Industri Perbankan

Peningkatan laba Dwimuria tidak lepas dari performa BCA yang konsisten. Di tengah persaingan ketat antarbank besar seperti BRI, Mandiri, dan BNI, BCA tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai bank dengan profitabilitas tertinggi.

Dengan pendapatan bunga yang stabil dan pendapatan non-bunga yang terus bertumbuh, BCA menunjukkan ketahanan bisnis yang baik. Ditambah lagi dengan pertumbuhan aset dan simpanan yang sehat, kinerja BCA di 2025 mencerminkan strategi jangka panjang yang terus dijalankan.

Penutup

Tahun 2025 menjadi tahun yang solid bagi Dwimuria Investama Andalan dan BCA. Dengan laba bersih yang terus meningkat dan struktur neraca yang sehat, kinerja keuangan BCA tetap menjadi salah satu yang terbaik di Air. Meski tantangan di tahun depan masih menanti, performa tahun ini memberikan landasan yang kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan.

Disclaimer: Angka dan data dalam artikel ini bersifat referensial dan dapat berubah tergantung pada laporan resmi yang diterbitkan oleh pihak terkait.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.