Nasional

Harga Ayam Potong Diprediksi Naik hingga 15 Persen pada Tahun 2026 karena Lonjakan Permintaan di Wilayah Jawa dan Sumatera

Danang Ismail
×

Harga Ayam Potong Diprediksi Naik hingga 15 Persen pada Tahun 2026 karena Lonjakan Permintaan di Wilayah Jawa dan Sumatera

Sebarkan artikel ini
Harga Ayam Potong Diprediksi Naik hingga 15 Persen pada Tahun 2026 karena Lonjakan Permintaan di Wilayah Jawa dan Sumatera

Harga ayam hidup (LB) sempat terpuruk akibat lonjakan pasokan yang tak terkendali. Fenomena ini kerap terjadi menjelang masa panen raya, saat banyak peternak menjual hasil ternaknya secara bersamaan. Padahal, produksi ayam sebenarnya berjalan normal. Masalahnya ada di kurangnya antara jumlah ayam yang dipasok dan daya serap pasar.

Ketika pasokan melonjak, harga langsung terjun bebas. Bahkan, banyak peternak terpaksa menjual ayam di bawah biaya produksi. Kondisi ini bukan hal baru. Setiap tahun, kisah serupa muncul dan membuat peternak kecil menanggung kerugian besar. Tidak hanya soal timing, pola produksi yang tidak terencana juga menjadi pemicu utama.

Penyebab Fluktuasi Harga Ayam Hidup

Fluktuasi harga ayam hidup bukan sekadar soal naik-turunnya angka di pasar. Ada sejumlah faktor yang saling terkait dan memengaruhi. Dari pola produksi hingga sistem distribusi, semuanya harus bekerja seimbang agar peternak tidak terjebak kerugian.

1. Produksi yang Tidak Terkendali

Banyak peternak meningkatkan populasi ayam saat harga sedang tinggi. Tapi tanpa perhitungan jangka panjang, lonjakan produksi justru membuat pasar jenuh. Dalam waktu singkat, penawaran melampaui permintaan. Hasilnya, harga langsung anjlok.

2. Kurangnya Sistem Pengendalian Nasional

Heri Irawan, Sekretaris Jenderal Permindo, menyebut bahwa Indonesia belum memiliki sistem kontrol produksi yang . Data produksi dan distribusi masih terpencar. Peternak tidak punya gambaran realistis tentang kondisi pasar secara nasional.

3. Ketergantungan pada Pengepul

Peternak kecil seringkali hanya bisa menjual hasil ternaknya kepada pengepul lokal. Mereka tidak punya akses langsung ke pasar besar atau konsumen akhir. Ini membuat posisi tawar peternak sangat lemah. Harga bisa turun drastis, konsumen tetap membayar mahal.

Dampak pada Peternak Rakyat

Ketika harga ayam hidup terus berada di bawah ambang kewajaran, dampaknya langsung dirasakan oleh peternak kecil. Mereka yang tidak punya cadangan terpaksa menghentikan usaha atau mengurangi skala produksi.

Banyak yang terjebak dalam siklus ini. Saat harga naik, mereka menambah populasi ayam. Tapi begitu pasokan melonjak, harga langsung turun. Kerugian pun tak terhindarkan. Tanpa intervensi yang tepat, kondisi ini akan terus berulang.

Langkah Strategis untuk Stabilisasi Pasar

Menyeimbangkan antara produksi dan pasokan bukan hal yang mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil untuk memperbaiki sistem dan melindungi peternak dari risiko kerugian besar.

1. Sinkronisasi Data Produksi

Permindo menyarankan agar pemerintah membangun sistem data produksi yang terintegrasi. Dengan begitu, peternak bisa melihat kondisi pasar secara real time. Informasi ini untuk menentukan kapan waktu terbaik memasarkan hasil ternak.

2. Pengaturan Jadwal Panen

Salah satu solusi jangka menengah adalah mengatur jadwal panen secara nasional. Dengan sistem rotasi, pasokan tidak akan bertumpuk di waktu yang bersamaan. Ini bisa membantu menjaga harga tetap stabil.

3. Penguatan Distribusi Langsung

Peternak perlu didorong untuk memiliki akses langsung ke pasar konsumen. Program seperti bazaar ternak atau kerja sama dengan supermarket bisa menjadi solusi. Tujuannya, mengurangi ketergantungan pada pengepul dan meningkatkan nilai jual.

Peran Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Harga

Tanpa intervensi pemerintah, siklus harga yang fluktuatif akan terus terjadi. Peternak kecil tidak punya kemampuan untuk mengendalikan pasar. Mereka butuh regulasi yang melindungi dan sistem yang memberi kepastian.

Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:

  • Subsidi untuk sistem informasi pasar
  • Program pelatihan manajemen produksi
  • bagi peternak yang mengikuti jadwal panen terkoordinasi
  • Regulasi harga dasar untuk melindungi peternak dari kerugian besar

Tantangan di Tengah Perubahan Iklim dan Permintaan

Selain masalah internal seperti produksi dan distribusi, peternak juga menghadapi tantangan . Perubahan iklim bisa memengaruhi siklus ternak. Sementara permintaan konsumen terus berubah seiring tren pangan yang lebih sehat.

Peternak harus siap beradaptasi. Tapi tanpa yang mendukung, perubahan ini justru bisa memperburuk kondisi. Edukasi dan akses teknologi menjadi kunci agar peternak bisa tetap .

Perbandingan Harga Ayam Hidup (LB) Sebelum dan Sesudah Intervensi

Berikut adalah simulasi perbandingan harga ayam hidup dalam dua skenario berbeda. Data ini bersifat estimasi dan bisa berubah tergantung kondisi pasar.

Skenario Rata-Rata Harga (Rp/kg) Frekuensi Fluktuasi Dampak pada Peternak
Tanpa Intervensi 22.000 – 28.000 Tinggi Kerugian besar saat panen bersamaan
Dengan Intervensi 25.000 – 27.000 Rendah Stabil, keuntungan lebih terjamin

Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan faktor eksternal lainnya.

Kesimpulan

Menyeimbangkan produksi dan pasokan ayam bukan soal kontrol ketat, tapi kolaborasi sistemik. Peternak butuh informasi, akses pasar, dan regulasi yang melindungi. Tanpa itu, mereka akan terus terjebak dalam siklus harga yang merugikan.

Permindo terus mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Karena jika dibiarkan, bukan hanya peternak yang terdampak, tapi juga pangan nasional. Dan itu bukan hal yang bisa ditunda-tunda.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.