Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, dikenal sebagai Danantara Indonesia, tengah menjalani transformasi besar dalam pengelolaan portofolio Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah ini diambil untuk memperkuat tata kelola perusahaan dan meningkatkan kualitas aset hingga laba yang dihasilkan. Fokus utamanya bukan hanya pada pertumbuhan nominal, tapi pada kualitas kinerja yang berkelanjutan dan berbasis nilai ekonomi nyata.
Transformasi ini dilakukan secara menyeluruh dan terstruktur melalui entitas operasional Danantara Asset Management. Evaluasi menyeluruh mencakup kebijakan akuntansi, pencatatan aset, hingga sistem tata kelola dan manajemen risiko. Tujuannya jelas: memastikan praktik pengelolaan yang transparan, akuntabel, dan sejalan dengan standar global.
Penguatan Tata Kelola dan Fundamental BUMN
Langkah awal dalam proses ini dimulai dari kelompok Perusahaan Karya, lalu secara bertahap diperluas ke sektor-sektor lain dalam portofolio BUMN. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap entitas BUMN memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi pencatatan aset maupun pelaporan keuangan.
Fokusnya adalah pada normalisasi dan peningkatan kualitas aset, penyelarasan pencatatan yang akurat, serta penerapan praktik pelaporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku secara internasional. Dengan begitu, kondisi keuangan perusahaan bisa tercerminkan secara aktual dan dapat diandalkan.
1. Evaluasi Kebijakan Akuntansi
Langkah pertama dalam proses ini adalah evaluasi kebijakan akuntansi yang selama ini diterapkan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pencatatan keuangan mencerminkan kondisi sebenarnya, bukan hanya angka yang terlihat besar di neraca.
2. Penataan Kualitas dan Pencatatan Aset
Selanjutnya, dilakukan penataan ulang terhadap kualitas dan pencatatan aset. Ini mencakup identifikasi aset produktif, penghapusan aset tidak produktif, serta penyesuaian nilai buku agar sesuai dengan nilai pasar aktual.
3. Penguatan Sistem Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Tata kelola yang kuat menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kredibilitas dan kinerja BUMN. Oleh karena itu, sistem tata kelola dan manajemen risiko yang terintegrasi mulai diterapkan secara menyeluruh.
Fokus pada Kualitas Laba dan Arus Kas
Selain tata kelola, Danantara Indonesia juga menekankan pada penguatan fundamental keuangan yang berbasis pada kualitas laba dan arus kas operasional yang kuat. Ini bukan sekadar angka yang terlihat di laporan keuangan, tapi angka yang mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan uang secara konsisten.
Langkah-langkah yang diambil mencakup peningkatan EBITDA yang berkelanjutan, disiplin belanja modal, serta struktur permodalan yang sehat. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan return on assets (ROA), margin operasional, dan kapasitas pemenuhan kewajiban finansial.
4. Peningkatan EBITDA dan Disiplin Belanja Modal
EBITDA yang kuat menjadi indikator kinerja operasional yang baik. Dengan disiplin dalam belanja modal, BUMN bisa menghindari pemborosan dan fokus pada investasi yang memberi nilai tambah nyata.
5. Pengelolaan Likuiditas yang Konservatif
Likuiditas yang terjaga memastikan bahwa BUMN mampu memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa mengganggu operasional. Pendekatan konservatif ini penting untuk menjaga stabilitas jangka panjang.
Membangun Fundamental yang Menghasilkan Nilai Nyata
Menurut Managing Director Stakeholder Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, ukuran keberhasilan ke depan bukan lagi pada besarnya angka di neraca, tapi pada kualitas laba, kekuatan arus kas, dan kemampuan menciptakan nilai ekonomi yang nyata.
"Fokus kami adalah membangun fundamental yang menghasilkan uang riil dan dividen berkelanjutan bagi negara," ujar Rohan. Ia menekankan bahwa pertumbuhan yang sehat harus berbasis pada produktivitas dan kinerja operasional, bukan hanya ekspansi fisik atau akuisisi semata.
6. Peningkatan Return on Equity (ROE)
ROE yang tinggi menunjukkan bahwa BUMN mampu menghasilkan keuntungan yang optimal dari modal yang disetor. Ini menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur efisiensi penggunaan dana negara.
7. Optimalisasi Pembagian Dividen
Dengan kinerja yang solid, BUMN diharapkan bisa memberikan kontribusi nyata dalam bentuk dividen yang berkelanjutan. Ini merupakan bentuk penghargaan langsung bagi negara sebagai pemilik saham.
Pendekatan Sistematis dan Bertahap
Proses transformasi ini dilakukan secara sistematis dan bertahap. Tujuannya agar stabilitas operasional tetap terjaga, sementara kualitas pengelolaan terus meningkat. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari transformasi institusional jangka panjang untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Langkah-langkah yang diambil tidak hanya berorientasi pada perbaikan jangka pendek, tapi juga pada keberlanjutan jangka panjang. Ini mencakup peningkatan kapasitas SDM, penguatan sistem teknologi informasi, serta optimalisasi struktur organisasi.
8. Penyelarasan dengan Standar Akuntansi Internasional
Penyelarasan ini dilakukan agar laporan keuangan BUMN dapat dibaca dan dipercaya oleh investor global. Ini juga membuka peluang lebih besar dalam akses pendanaan dari pasar modal internasional.
9. Penguatan Kapasitas SDM dan Teknologi
SDM yang kompeten dan sistem teknologi yang andal menjadi pilar penting dalam mendukung tata kelola yang baik. Investasi dalam dua hal ini menjadi prioritas dalam tahap transformasi awal.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat valid hingga Maret 2026. Kebijakan, data, dan langkah-langkah yang disebutkan dapat berubah seiring dengan dinamika pengelolaan portofolio BUMN oleh Danantara Indonesia. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terbaru.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













