Nasional

Harga Minyak Global Turun Menjadi USD89 per Barel Akibat Koreksi Pasar

Rista Wulandari
×

Harga Minyak Global Turun Menjadi USD89 per Barel Akibat Koreksi Pasar

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Global Turun Menjadi USD89 per Barel Akibat Koreksi Pasar

Harga minyak dunia kembali turun, kali ini menyentuh level USD 89 per barel. Pergerakan ini terjadi setelah tekanan dari beberapa faktor eksternal, termasuk langkah antisipatif oleh lembaga energi internasional dan yang mulai waspada terhadap risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Minyak mentah jenis Brent yang biasa digunakan sebagai acuan harga global berada di angka USD 89,23 per barel, turun dari level awal yang mencatatkan angka USD 91,09. itu, West Texas Intermediate (WTI), benchmark minyak AS, juga mengalami ke level USD 85,32 per barel dari pembukaan USD 87,29. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa pasar sedang mencerna sejumlah informasi penting, terutama soal pasokan dan ekspektasi permintaan global.

Dinamika Pasar Minyak Global

Pergerakan harga minyak tidak hanya ditentukan oleh faktor penawaran dan permintaan. Ada banyak variabel lain, termasuk kondisi geopolitik, energi negara produsen besar, dan indikator ekonomi makro seperti inflasi. Dalam beberapa hari terakhir, fokus pasar tertuju pada dua hal utama: rencana IEA untuk melepas cadangan minyak darurat dan situasi ketegangan di Selat Hormuz.

1. Rencana Pelepasan Cadangan Minyak oleh IEA

International Energy Agency (IEA) dikabarkan akan melepaskan cadangan minyak nasional dalam besar. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas harga energi global dan mencegah lonjakan harga yang bisa memicu gejolak inflasi.

Langkah ini diambil sebagai respons atas gangguan pasokan yang sempat terjadi karena ketegangan di Selat Hormuz. Wilayah tersebut merupakan jalur strategis bagi distribusi minyak global, sehingga ketidakpastian di sana bisa langsung berdampak pada harga minyak dunia.

2. Sentimen Geopolitik di Timur Tengah

Ketegangan di kawasan Teluk Persia, khususnya di sekitar Selat Hormuz, sempat membuat harga minyak naik tajam. Pasalnya, sebagian besar minyak mentah diekspor melalui jalur ini. Gangguan bahkan dalam skala kecil pun bisa memengaruhi arus pasokan global.

Namun, dengan adanya intervensi dari badan-badan internasional dan diplomasi lintas negara, ketegangan ini mulai reda. Hal inilah yang kemudian memberikan ruang bagi harga minyak untuk kembali turun.

Faktor-Faktor Pendukung Koreksi Harga

Penurunan harga minyak bukan datang begitu saja. Ada beberapa alasan kuat mengapa pasar bereaksi dengan koreksi harga di pekan ini.

1. Data Inflasi AS yang Akan Dirilis

Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat menjadi sorotan para pelaku pasar. Data ini akan memberikan gambaran apakah Federal Reserve akan menunda langkah pemotongan suku bunga atau tidak. Jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, investor bisa jadi akan menggeser fokus ke aset berisiko termasuk komoditas energi.

Sebaliknya, jika data menunjukkan inflasi tetap tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa meningkat, yang pada akhirnya membuat pasar dan komoditas termasuk minyak menjadi kurang menarik.

2. Permintaan Global yang Lambat

Permintaan minyak global belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi. Meski China dan India menunjukkan pertumbuhan permintaan yang positif, negara-negara maju masih berhati-hati dalam penggunaan energi fosil karena energi yang semakin ketat.

Belum lagi, adopsi kendaraan listrik yang terus meningkat secara perlahan mulai mengurangi kebutuhan bahan bakar minyak jangka panjang. Ini semua ikut menekan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global.

3. Produksi Minyak yang Stabil

Negara-negara anggota OPEC+ diketahui masih mempertahankan kebijakan produksi yang terbatas. Namun, produksi dari Amerika Serikat dan Kanada yang terus meningkat membantu menjaga pasokan global tetap stabil.

Dengan pasokan yang cukup dan permintaan yang belum benar-benar melesat, tekanan pada harga minyak pun mulai berkurang.

Perbandingan Harga Minyak Mentah Utama

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah perbandingan harga minyak mentah utama pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026:

Jenis Minyak Harga Awal (USD/Barel) Harga Terkini (USD/Barel) Rentang Harian (USD/Barel)
Brent 91,09 89,23 88,58 – 91,09
WTI 87,29 85,32 81,82 – 87,29

Data di atas menunjukkan bahwa kedua jenis minyak mengalami koreksi yang cukup signifikan. WTI bahkan menyentuh level terendah harian di angka USD 81,82 per barel.

Proyeksi Harga Minyak Mendatang

Meskipun saat ini harga sedang turun, tidak serta merta berarti tren akan terus bearish. Banyak analis percaya bahwa volatilitas akan tetap tinggi dalam beberapa pekan mendatang, terutama karena faktor-faktor berikut:

1. Kebijakan Bank Sentral Dunia

Langkah bank sentral besar seperti Federal Reserve, ECB, dan Bank of Japan akan sangat menentukan arah pasar keuangan termasuk harga komoditas. Jika suku bunga diturunkan, investor cenderung lebih berani mengambil risiko.

2. Perkembangan Situasi di Timur Tengah

Masalah geopolitik di kawasan Teluk Persia masih menjadi ancaman laten. Setiap eskalasi baru bisa langsung memicu lonjakan harga minyak dalam hitungan .

3. Data Ekonomi Makro Global

Selain CPI AS, data kerja, pertumbuhan PDB, dan indeks keyakinan konsumen juga akan menjadi pendorong utama pergerakan harga minyak. Semakin kuat data ekonomi, semakin besar kemungkinan permintaan energi meningkat.

Kesimpulan

Harga minyak dunia saat ini berada di zona koreksi setelah sempat melonjak tajam. Tekanan dari rencana IEA untuk melepas cadangan, redanya ketegangan geopolitik, serta ekspektasi data ekonomi makro menjadi pendorong utama penurunan harga.

Namun, pasar minyak tetap dinamis. Koreksi saat ini belum tentu akan berlangsung lama. Investor dan pelaku industri harus tetap waspada terhadap perubahan cepat yang bisa terjadi kapan saja.

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika pasar global. Harga minyak sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang tidak selalu dapat diprediksi.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.