Saham Amerika Serikat kembali menguat tipis menjelang akhir pekan perdagangan Kamis, 2 April 2026. Penguatan ini terjadi meski suasana pasar masih diselimuti ketidakpastian. Harapan akan de-escalasi ketegangan di Selat Hormuz sempat memicu reli pada awal pekan, namun sentimen positif itu mulai redup setelah pernyataan keras Presiden Donald Trump yang menyebut rencana serangan terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan.
Sentimen akhirnya kembali membaik menjelang penutupan perdagangan, berkat pernyataan dari media pemerintah Iran yang menyebut tengah menyusun protokol dengan Oman terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Meski begitu, investor tetap berhati-hati, terutama menjelang libur panjang Jumat Agung.
Indeks Saham AS Pulih Tipis di Akhir Perdagangan
Perdagangan Kamis menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Indeks S&P 500 yang sempat terperosok hingga 1,5% akhirnya berhasil pulih dan menutup naik tipis 0,1% di level 6.582,70 poin. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga menghapus kerugian dan naik 0,2% ke posisi 21.879,18 poin. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average tercatat turun tipis 0,1% di 46.504,60 poin, meski sempat anjlok hingga 1,4% di sesi awal.
Pasar saham saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, terutama yang berkaitan dengan minyak dan jalur pasokan energi global. Pergerakan harga minyak menjadi salah satu indikator utama yang dipantau pelaku pasar.
1. Sentimen Membaik Berkat Rencana Protokol Iran-Oman
Media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa Iran tengah menyusun protokol bersama Oman untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk memastikan pelayaran aman tanpa membatasi akses jalur strategis tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa protokol ini lebih ditujukan untuk memberikan layanan yang lebih baik bagi kapal-kapal yang melintas, bukan untuk membatasi akses. Namun, pihaknya juga menyebut akan menerapkan tarif bagi kapal yang melewati selat tersebut, langkah yang sebelumnya dianggap tidak dapat diterima oleh AS.
2. Harga Minyak Tetap Tinggi Meski Ada Harapan
Meski ada sinyal positif dari Iran, harga minyak tetap tinggi. Brent naik lebih dari 8% dan WTI melonjak sekitar 12% pada sesi Kamis. Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Trump yang menyebut akan menyerang Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Mark Luschini dari Janney Montgomery Scott menyebut bahwa investor masih menunggu kejelasan dari konflik ini. Meski ada harapan akan pembukaan kembali Selat Hormuz, tekanan pada harga minyak kemungkinan akan terus berlanjut dalam jangka pendek.
3. Trump Ancam Serang Iran dalam Beberapa Minggu
Dalam pidato dari Gedung Putih, Presiden Trump menyatakan bahwa AS akan meningkatkan operasi militer terhadap Iran dalam beberapa minggu mendatang. Ia menyebut bahwa Washington hampir mencapai tujuan utamanya dalam menghadapi rezim Iran.
Pernyataannya yang menyebut akan membawa Iran "kembali ke zaman batu" memicu lonjakan harga minyak dan kembali membuat investor was-was. Pasar saham sempat terperosok, namun akhirnya pulih menjelang akhir perdagangan.
Sentimen Pasar Dipengaruhi oleh Geopolitik dan Data Domestik
Pekan ini menjadi salah satu pekan paling volatil di Wall Street sepanjang tahun. Saham sempat melesat pada hari Selasa setelah ada sinyal bahwa Trump terbuka untuk mengakhiri konflik meski Selat Hormuz masih tertutup sebagian. Nasdaq bahkan mencatatkan kenaikan hampir 4% dalam satu hari.
Namun, sentimen berubah drastis setelah pidato Trump yang tidak memberikan jadwal pasti untuk mengakhiri konflik. Investor kembali waspada, dan pergerakan indeks pun terus berfluktuasi.
1. Saham Melesat Awal Pekan, Didorong Harapan Damai
Selama dua hari pertama pekan ini, tiga indeks utama AS mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan. S&P 500 naik 3%, Nasdaq naik hampir 4%, dan Dow Jones naik 3%. Reli ini dipicu oleh optimisme bahwa konflik di Selat Hormuz bisa segera berakhir.
2. Pidato Trump Jadi Pembawa Perubahan Sentimen
Pidato Trump pada Rabu malam menjadi titik balik sentimen pasar. Meski menyebutkan bahwa AS hampir mencapai tujuan, ia tidak memberikan detail konkret mengenai langkah selanjutnya. Pasar saham langsung bereaksi negatif, namun kembali pulih menjelang akhir perdagangan Kamis.
3. Investor Tetap Waspada Menjelang Libur Panjang
Menjelang libur Jumat Agung, investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi. Banyak yang memilih menunggu data penting seperti laporan penggajian non-pertanian yang akan dirilis pada Jumat, meski pasar dalam kondisi libur.
Data Tenaga Kerja Jadi Sorotan
Meski fokus pasar saat ini tertuju pada ketegangan geopolitik, data domestik tetap menjadi perhatian. Pekan ini dibuka dengan laporan JOLTS yang menunjukkan penurunan lowongan pekerjaan dan tingkat perekrutan yang turun ke level terendah sejak April 2020.
1. Klaim Pengangguran Turun dari Perkiraan
Data klaim pengangguran awal dalam seminggu terakhir menunjukkan angka yang lebih rendah dari yang diperkirakan. Ini menjadi sinyal positif bagi pasar tenaga kerja, meski belum cukup kuat untuk menggerakkan sentimen secara signifikan.
2. Pemutusan Kerja Naik di Februari
Laporan dari Challenger, Gray & Christmas menyebutkan bahwa jumlah pemutusan kerja di AS naik 25% secara bulanan menjadi 60.620 pada bulan Februari. Lonjakan ini menjadi perhatian tersendiri, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
3. Laporan Non-Farm Payrolls Jadi Penentu Sentimen
Laporan penggajian non-pertanian untuk bulan Maret akan menjadi data penting yang menentukan arah pasar di pekan depan. Investor akan mengamati apakah pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan eksternal.
Perbandingan Kinerja Indeks Saham AS Selama Pekan Ini
| Indeks | Kenaikan Pekan Ini (%) |
|---|---|
| S&P 500 | 3,4% |
| Nasdaq Composite | 4,4% |
| Dow Jones Industrial Average | 3,0% |
Meski volatil, ketiga indeks berhasil menutup pekan dengan kenaikan yang solid. Nasdaq yang didominasi saham teknologi menjadi yang paling agresif naik, mencerminkan optimisme investor terhadap sektor tersebut di tengah ketidakpastian makroekonomi.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan ekonomi global. Pergerakan harga saham dan indeks dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang tidak dapat diprediksi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













