Nasional

Dana Korban Penipuan Senilai Rp167 Miliar Dipastikan Dikembalikan pada Februari 2026 Mendatang

Retno Ayuningrum
×

Dana Korban Penipuan Senilai Rp167 Miliar Dipastikan Dikembalikan pada Februari 2026 Mendatang

Sebarkan artikel ini
Dana Korban Penipuan Senilai Rp167 Miliar Dipastikan Dikembalikan pada Februari 2026 Mendatang

Sejak resmi beroperasi pada November 2024 lalu, Indonesia Anti-Scam Center (IASC) telah berhasil mengembalikan dana korban penipuan digital sebesar Rp167 miliar hingga akhir 2026. Dana tersebut berasal dari 1.072 korban yang uangnya sempat diblokir dari 15 bank berbeda. Langkah ini menunjukkan komitmen serius dan (OJK) dalam melindungi masyarakat dari modus penipuan daring.

Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan OJK, menjelaskan bahwa sejak peluncuran IASC, jumlah penipuan yang masuk terus meningkat. Hingga Februari 2026, total laporan mencapai 477.600 kasus dengan yang dilaporkan sebanyak 809.355. Dari jumlah tersebut, 243.323 laporan berasal dari bank dan penyedia sistem pembayaran, sedangkan sisanya langsung dikirim oleh korban melalui sistem IASC.

Pengawasan dan Pemblokiran Rekening Korban Penipuan

Untuk mengantisipasi penyebaran penipuan digital, IASC telah memblokir ribuan rekening dan nomor telepon yang terlibat. Data menunjukkan bahwa total rekening yang diblokir mencapai 436.727 buah dengan nilai dana yang terkandung di dalamnya mencapai Rp566,1 miliar. Selain itu, sebanyak 75.711 nomor telepon juga telah diblokir melalui dengan Kementerian Komunikasi dan Digital.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pencegahan agar dana korban tidak dipindahkan atau dicairkan oleh pelaku. Blokir rekening dan nomor telepon ini juga menjadi salah satu cara untuk mempersempit ruang gerak pelaku penipuan.

Pengaduan dan Penanganan Konsumen

Seiring dengan peningkatan kasus penipuan, jumlah pengaduan yang masuk ke OJK juga terus bertambah. Dalam periode 1 Januari hingga 5 Februari 2026 saja, OJK mencatat ada 65.139 layanan melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen. Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.323 merupakan pengaduan aktif terkait .

Berikut rincian pengaduan berdasarkan sektor:

Sektor Jumlah Pengaduan
Perbankan 3.169
Fintech 3.914
Pembiayaan 1.914
Asuransi 208
Pasar Modal & Nonbank Lainnya 1.037

Penegakan Hukum dan Sanksi terhadap Pelaku

Untuk memperkuat perlindungan konsumen, OJK tidak hanya berfokus pada pengembalian dana, tetapi juga pada pencegahan dan penindakan. Sejak awal tahun 2026, OJK telah memberikan berbagai sanksi administratif terhadap pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) yang terlibat dalam praktik mencurigakan. Sanksi tersebut meliputi:

  1. Peringatan tertulis kepada 16 PUJK
  2. Instruksi tertulis kepada 2 PUJK
  3. Denda administratif kepada 10 PUJK sebanyak 12 kali

Selain itu, Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) juga telah menghentikan operasional 951 entitas pinjaman daring ilegal dan dua penawaran investasi ilegal sejak awal tahun hingga Februari 2026. Sebanyak 6.792 pengaduan terkait entitas ilegal juga telah diterima selama periode yang sama.

Edukasi dan Peran Masyarakat

Edukasi menjadi pilar penting dalam pencegahan penipuan digital. OJK terus mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap penawaran yang terlalu menggiurkan, terutama yang datang dari sumber tidak dikenal. Penggunaan aplikasi resmi dan pengecekan keabsahan platform investasi atau pinjaman daring juga sangat dianjurkan.

Masyarakat juga didorong untuk melaporkan setiap indikasi penipuan melalui saluran resmi seperti aplikasi IASC atau Portal Pelindungan Konsumen OJK. Semakin cepat laporan masuk, semakin besar kemungkinan dana korban dapat diselamatkan.

Tantangan dan Upaya Ke Depan

Meski pencapaian pengembalian dana dan pemblokiran rekening cukup signifikan, tantangan tetap ada. Modus penipuan terus berkembang dan pelaku semakin canggih dalam menyamarkan identitas. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah dan lembaga teknologi, menjadi kunci keberhasilan program ini.

OJK juga terus mengembangkan sistem deteksi dini dan memperkuat jaringan pelaporan lintas platform. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan jumlah korban penipuan digital bisa terus menurun.

Disclaimer

Data yang disajikan dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan investigasi dan pelaporan dari masyarakat. Angka yang dilaporkan hingga Februari 2026 merupakan hasil akumulasi dari berbagai sumber resmi termasuk OJK dan IASC.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.