Ilustrasi hilirisasi pertambangan. Foto: MI/Angga Yuniar.
Reporter: Husen Miftahudin
Jakarta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan pengelolaan sumber daya mineral harus diarahkan tidak hanya pada eksploitasi, tetapi pada penciptaan nilai tambah yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Ketua MUI Azrul Tanjung menyampaikan tambang memiliki legitimasi dalam perspektif Islam selama dikelola secara adil, tidak merusak lingkungan, dan memberikan manfaat luas. Dalam konteks kekinian, pendekatan tersebut tercermin melalui kebijakan yang juga didorong oleh peran holding industri pertambangan seperti MIND ID dalam memperkuat nilai tambah dan kedaulatan sumber daya nasional.
"Hilirisasi bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi jalan untuk memastikan kekayaan alam benar-benar kembali kepada rakyat dalam bentuk manfaat nyata," ujar Azrul seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 22 April 2026.
Menurut dia, pengolahan mineral di dalam negeri, seperti pengembangan nikel untuk ekosistem kendaraan listrik atau batu bara menjadi produk turunan seperti DME, mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan, sekaligus membuka lapangan kerja dan memperkuat kemandirian industri nasional.
Namun demikian, Azrul menekankan nilai tambah saja tidak cukup tanpa tata kelola yang baik. Ia mengingatkan praktik harus berjalan transparan, akuntabel, dan sesuai aturan hukum.
"Tambang ilegal, pelanggaran wilayah izin, hingga eksploitasi berlebihan justru bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam," kata dia.
Selain itu, tanggung jawab lingkungan seperti reklamasi pascatambang juga menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan manfaat tambang. Tanpa pemulihan, aktivitas tambang justru berpotensi menimbulkan mudarat yang lebih besar.
Pemanfaatan tambang mesti memberi manfaat bagi kemanusiaan
Senada, Ketua Umum Syarikat Islam Hamdan Zoelva menyebut kekayaan alam merupakan karunia Tuhan yang harus dimanfaatkan secara thoyyib, baik, tidak berlebihan, dan tidak merusak.
Ia menegaskan pemanfaatan tambang diperbolehkan, termasuk oleh organisasi masyarakat, selama dilakukan secara profesional dan berada dalam pengawasan negara.
"Intinya bukan pada siapa yang mengelola, tetapi bagaimana tata kelolanya dijalankan secara benar dan memberi manfaat bagi kemanusiaan," ujar Hamdan.
Dengan demikian, pengelolaan mineral di Indonesia diharapkan tidak lagi berhenti pada ekstraksi, tetapi bergerak menuju model pembangunan berbasis nilai tambah dan keberlanjutan, sehingga tambang benar-benar menjadi instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan umat.
Hilirisasi Tambang: Jalan Panjang Menuju Kemaslahatan Umat
Hilirisasi bukan istilah baru, tapi kini mulai mendapat sorotan serius sebagai solusi jangka panjang untuk pengelolaan sumber daya alam. Dalam konteks pertambangan, hilirisasi adalah proses menambah nilai ekonomi dari bahan mentah menjadi produk jadi atau setengah jadi di dalam negeri, bukan hanya mengekspor bahan baku.
Langkah ini dinilai bisa membuka banyak peluang, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga penguatan industri nasional. Tapi di balik potensi besar itu, ada tantangan yang tak kalah nyata.
1. Definisi Hilirisasi Tambang
Hilirisasi tambang adalah upaya mengolah bahan mentah hasil tambang menjadi produk bernilai tambah tinggi sebelum diedarkan atau diekspor. Tujuannya bukan hanya soal ekonomi, tapi juga memastikan manfaat langsung dirasakan oleh masyarakat.
2. Tujuan Hilirisasi Menurut MUI
MUI melihat hilirisasi sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan ekonomi. Bukan sekadar mencari keuntungan, tapi memastikan bahwa kekayaan alam benar-benar memberi manfaat nyata bagi rakyat.
3. Potensi Tambang Indonesia
Indonesia kaya akan sumber daya mineral. Beberapa di antaranya memiliki potensi besar jika dikelola secara tepat.
- Nikel: Bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
- Batu bara: Bisa diolah menjadi DME (Dimethyl Ether) sebagai bahan bakar ramah lingkungan.
- Bauksit: Bahan dasar alumunium.
- Tembaga: Digunakan dalam berbagai industri, termasuk elektronik.
4. Langkah-Langkah Hilirisasi Tambang
1. Penyusunan Kebijakan Nasional
Langkah awal yang penting adalah menyusun kebijakan yang mendukung pengolahan mineral di dalam negeri. Ini mencakup regulasi yang mendorong investasi dan pengembangan industri hilir.
2. Pengembangan Infrastruktur Pendukung
Infrastruktur yang memadai sangat penting. Termasuk jalur transportasi, listrik, dan fasilitas pengolahan yang memenuhi standar industri modern.
3. Peningkatan Kapasitas SDM
Tanpa SDM yang kompeten, hilirisasi hanya akan menjadi wacana. Pelatihan teknis dan edukasi industri menjadi kunci agar masyarakat lokal bisa ikut serta secara langsung.
4. Pengawasan dan Transparansi
Proses pengelolaan tambang harus transparan dan akuntabel. Ini untuk mencegah praktik korupsi, eksploitasi berlebihan, dan pelanggaran hukum lainnya.
5. Manfaat Hilirisasi Tambang
- Meningkatkan nilai ekonomi dari bahan mentah.
- Menciptakan lapangan kerja baru.
- Mendorong berkembangnya industri pendukung.
- Mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
- Memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
6. Tantangan dalam Hilirisasi Tambang
1. Kebijakan yang Belum Konsisten
Perubahan kebijakan dari waktu ke waktu bisa membuat investor ragu. Konsistensi regulasi sangat dibutuhkan agar hilirisasi bisa berjalan optimal.
2. Kurangnya Investasi
Investasi besar diperlukan untuk membangun pabrik pengolahan. Namun, risiko politik dan ketidakpastian hukum sering kali membuat investor enggan masuk.
3. Isu Lingkungan
Aktivitas tambang dan pengolahan bisa berdampak negatif pada lingkungan. Tanpa mitigasi yang tepat, hilirisasi malah bisa menimbulkan kerusakan ekosistem.
4. Keterbatasan Teknologi
Indonesia masih mengimpor sebagian besar teknologi pengolahan. Meningkatkan kapasitas riset dan pengembangan teknologi lokal menjadi keharusan.
7. Peran Masyarakat dan Negara
MUI menegaskan bahwa pemanfaatan tambang bukan urusan pemerintah atau swasta semata. Masyarakat juga punya peran penting, baik sebagai pengawas maupun peserta dalam proses pengembangan.
Negara harus memastikan bahwa pengelolaan tambang berjalan sesuai prinsip keadilan dan keberlanjutan. Termasuk dalam hal penerimaan negara, distribusi manfaat, dan perlindungan lingkungan.
8. Contoh Hilirisasi yang Berhasil
Beberapa negara seperti Cina dan Australia telah berhasil menerapkan model hilirisasi yang efektif. Mereka tidak hanya mengekspor bahan mentah, tapi juga mengembangkan industri hilir yang memberi nilai tambah tinggi.
Indonesia pun bisa belajar dari pengalaman mereka, sambil menyesuaikan dengan kondisi lokal dan nilai-nilai kebangsaan.
9. Perbandingan Nilai Ekspor Mentah vs Hilirisasi
| Bahan Tambang | Ekspor Mentah (USD/ton) | Nilai Setelah Dihaluskan (USD/ton) | Kenaikan Nilai |
|---|---|---|---|
| Nikel | 15.000 | 35.000 | 133% |
| Bauksit | 50 | 2.000 | 3.900% |
| Batu Bara | 80 | 800 | 900% |
Tabel di atas menunjukkan bahwa hilirisasi bisa meningkatkan nilai ekspor hingga puluhan bahkan ribuan persen. Ini membuktikan bahwa pengolahan di dalam negeri jauh lebih menguntungkan daripada hanya mengekspor bahan mentah.
10. Rekomendasi untuk Pemerintah
- Terbitkan regulasi yang mendukung investasi jangka panjang.
- Tingkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk pengembangan teknologi lokal.
- Sediakan insentif fiskal bagi perusahaan yang melakukan pengolahan di dalam negeri.
- Libatkan masyarakat dalam proses pengawasan dan pengambilan keputusan.
Penutup
Hilirisasi tambang bukan hanya soal ekonomi, tapi juga tanggung jawab moral dan sosial. Dengan pengelolaan yang tepat, kekayaan alam bisa menjadi sumber kemaslahatan yang berkelanjutan. MUI melihat ini sebagai bagian dari prinsip keadilan dalam Islam, di mana manfaat harus dirasakan secara luas, bukan hanya oleh segelintir pihak.
Namun, semua itu tidak akan tercapai tanpa komitmen dari semua pihak. Mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat. Hilirisasi bukan jalan pintas, tapi proses panjang yang butuh kesabaran dan kerja keras.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi ekonomi dan kebijakan yang berlaku.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













