Badan Pusat Statistik mencatat inflasi sebesar 0,68 persen secara bulanan pada Februari 2026. Lonjakan ini terjadi karena peningkatan Indeks Harga Konsumen dari 109,75 menjadi 110,50. Angka tersebut berbeda dari Februari 2025 yang justru mengalami deflasi 0,48 persen.
Pergerakan harga ini dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan menjelang Ramadan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,45 persen. Inflasi pada kelompok ini mencapai 1,54 persen.
Penyebab Utama Inflasi Februari 2026
1. Lonjakan Harga Komoditas Pangan
Beberapa komoditas pangan menjadi pendorong utama inflasi. Daging ayam ras menyumbang andil 0,09 persen, diikuti cabai rawit 0,08 persen dan ikan segar 0,05 persen. Cabai merah, tomat, beras, serta telur ayam ras masing-masing menyumbang 0,02 persen.
Pangan bergejolak atau volatile food menjadi komponen utama inflasi bulanan dengan andil 0,41 persen. Komoditas seperti daging ayam, cabai rawit, dan cabai merah menjadi faktor dominan.
2. Kebijakan Harga Bahan Bakar
Meski harga pangan naik, bensin justru memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen. Hal ini menunjukkan bahwa harga energi masih terkendali meskipun permintaan meningkat jelang Ramadan.
Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi ringan 0,03 persen. Penurunan ini didominasi oleh harga bensin yang stabil berkat kebijakan subsidi.
3. Efek Dasar Rendah (Low-Base Effect)
Inflasi tahunan Februari 2026 mencapai 4,76 persen, naik tajam dari deflasi 0,09 persen pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini dipicu oleh efek dasar yang rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tahunan 16,19 persen. Angka ini terlihat tinggi karena harga pada periode sebelumnya yang tertekan oleh kebijakan pemerintah.
Perbandingan Inflasi Tahunan dan Bulanan
| Kelompok | Inflasi Bulanan (mtm) | Andil Inflasi | Inflasi Tahunan (yoy) |
|---|---|---|---|
| Makanan, minuman, dan tembakau | 1,54% | 0,45% | 3,51% |
| Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar | – | – | 16,19% |
| Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan | – | – | -0,09% |
Dampak Inflasi di Berbagai Wilayah
Sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi bulanan, sementara lima provinsi lainnya mengalami deflasi. Sulawesi Selatan mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,04 persen. Sebaliknya, Papua Barat mengalami deflasi terdalam 0,65 persen.
Pada tingkat tahunan, seluruh provinsi mencatatkan inflasi. Aceh menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi yaitu 6,94 persen. Sedangkan Papua Pegunungan mencatat inflasi terendah hanya 0,63 persen.
Pengaruh Ramadan terhadap Inflasi
Februari 2026 bertepatan dengan awal Ramadan, sehingga lonjakan permintaan pangan terasa lebih signifikan. Berdasarkan data lima tahun terakhir, inflasi selalu terjadi saat Ramadan. Namun, inflasi Februari 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan Ramadan 2022 dan 2025.
Lonjakan harga menjelang Ramadan biasanya bersifat sementara. Namun, jika tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai, kenaikan harga bisa berlangsung hingga beberapa minggu setelah Idul Fitri.
1. Permintaan Pangan Meningkat
Menjelang Ramadan, permintaan terhadap bahan pokok seperti beras, daging, dan sayuran meningkat tajam. Lonjakan ini mendorong harga naik karena pasokan belum sempat menyesuaikan.
2. Fluktuasi Harga Bahan Pokok
Harga komoditas seperti cabai rawit dan daging ayam seringkali fluktuatif menjelang Ramadan. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh biaya produksi, distribusi, serta spekulasi pasar.
3. Kebijakan Distribusi Pangan
Pemerintah biasanya menerapkan kebijakan distribusi pangan murah menjelang Ramadan. Namun, efektivitas kebijakan ini bisa berbeda-beda tergantung kondisi logistik dan cuaca.
Strategi Menghadapi Lonjakan Harga
1. Memantau Harga Pasar
Masyarakat disarankan untuk lebih aktif memantau harga pasar, terutama menjelang Ramadan. Informasi harga yang akurat membantu menghindari pembelian impulsif.
2. Membuat Rencana Belanja
Menyusun rencana belanja mingguan bisa mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Dengan daftar belanja yang jelas, pemborosan bisa diminimalisir meski harga sedang naik.
3. Memanfaatkan Pasar Alternatif
Pasar tradisional atau pasar rakyat seringkali menawarkan harga lebih kompetitif dibandingkan supermarket. Masyarakat bisa memanfaatkan pasar lokal untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Proyeksi Inflasi Menjelang Idul Fitri
Inflasi menjelang Ramadan biasanya akan berlanjut hingga awal Syawal. Namun, BPS memperkirakan lonjakan harga akan melandai setelah Idul Fitri seiring normalisasi permintaan dan distribusi.
Pemerintah terus memantau stok pangan di berbagai daerah untuk memastikan ketersediaan selama Ramadan. Intervensi pasar juga bisa dilakukan jika harga melonjak secara signifikan.
Disclaimer
Data inflasi dan harga pangan bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi ekonomi, cuaca, serta kebijakan pemerintah. Informasi dalam artikel ini bersumber dari data resmi Badan Pusat Statistik per Februari 2026.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













