Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup di zona merah pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif, sempat menguat di tengah hari namun akhirnya melemah menjelang penutupan pasar. Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian investor di tengah dinamika global yang masih memanas.
Secara teknis, IHSG tercatat turun 27,282 poin atau sekitar 0,37 persen ke level 7.362,117. Pagi tadi, indeks sempat dibuka di angka 7.398,853, lalu bergerak antara level tertinggi 7.436 dan terendah 7.323. Volume perdagangan mencapai 26,699 miliar saham senilai Rp13,160 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp13.150,109 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,6 juta kali.
Dinamika Saham dan Sentimen Pasar
Perdagangan saham hari ini menunjukkan dominasi tekanan pelemahan. Dari total saham yang aktif diperdagangkan, hanya 211 saham yang menguat. Jumlah ini jauh tertinggal dari 461 saham yang melemah. Ada juga 149 saham lainnya yang stagnan, tidak menunjukkan perubahan signifikan.
Sentimen pasar lokal dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal dan internal. Salah satunya adalah prediksi koreksi lanjutan yang diungkapkan oleh Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Ia menyebut bahwa IHSG berpotensi menghadapi tekanan di area support 7.180 hingga 7.300. Di atasnya, resistensi kuat berada di kisaran 7.450 sampai 7.500.
Sehari sebelumnya, IHSG juga sempat terperosok 0,69 persen. Saat itu, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp730 miliar. Beberapa saham besar seperti BBCA, BUMI, BBRI, DEWA, dan TINS menjadi incaran penjualan asing.
1. Pengaruh Sentimen Global
Sentimen pasar global ikut menyusun arah pergerakan IHSG. Di Wall Street, indeks-indeks utama berakhir campur aduk pada penutupan Rabu kemarin. Indeks Dow Jones turun 0,61 persen, S&P 500 melemah tipis 0,08 persen, sementara Nasdaq berhasil naik 0,08 persen. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu volatilitas pasar.
2. Pergerakan Bursa Asia Pasifik
Di kawasan Asia Pasifik, reaksi investor juga bervariasi. Investor masih memantau dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Hasilnya, beberapa indeks regional justru menguat:
| Indeks | Negara | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| S&P/ASX 200 | Australia | +0,59% |
| Nikkei 225 | Jepang | +1,43% |
| Topix | Jepang | +0,94% |
| Kospi | Korea Selatan | +1,40% |
| Kosdaq | Korea Selatan | -0,07% |
| Hang Seng | Hong Kong | -0,24% |
| Taiex | Taiwan | +4,10% |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa investor di Asia cenderung lebih optimis dibandingkan rekan-rekan mereka di Amerika. Lonjakan indeks seperti Nikkei dan Kospi menunjukkan bahwa sentimen di wilayah ini belum sepenuhnya terpengaruh oleh ketegangan global.
3. Faktor Domestik yang Mendukung Pelemahan
Ada beberapa faktor domestik yang turut mendorong pelemahan IHSG. Pertama, masih minimnya sentimen positif dari pelaku pasar lokal. Kedua, aktivitas belanja asing yang masih cenderung menjual saham-saham blue chip. Ketiga, kondisi makro ekonomi global yang belum stabil membuat investor lebih waspada.
Fanny Suherman menilai bahwa tekanan dari investor asing masih akan terasa dalam beberapa hari mendatang. Apalagi jika situasi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas, maka potensi koreksi bisa semakin dalam.
4. Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
Bagi investor jangka pendek, volatilitas seperti ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang. Namun, bagi pemula atau investor konservatif, kondisi seperti ini memerlukan kewaspadaan ekstra. Penting untuk tidak terjebak buying the dip atau selling in panic.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Memantau support dan resistance teknikal secara rutin.
- Menghindari overtrading saat volatilitas tinggi.
- Fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat meski harga sedang tertekan.
- Mempersiapkan portofolio yang diversifikasi.
5. Proyeksi IHSG Minggu Depan
Mengacu pada pola pergerakan saat ini, IHSG diproyeksikan akan menguji area support di 7.180–7.300 dalam beberapa hari ke depan. Jika tidak ada stimulus baru dari pemerintah atau Bank Indonesia, tekanan jual bisa semakin besar.
Namun, jika sentimen global membaik dan harga komoditas stabil, maka IHSG punya peluang untuk rebound menuju resistensi 7.450–7.500. Semua tergantung bagaimana perkembangan situasi internasional ke depannya.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar serta faktor eksternal yang tidak dapat diprediksi. Informasi ini bukan merupakan rekomendasi investasi resmi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













