Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menutup perdagangan hari Senin dengan catatan koreksi yang cukup dalam. Posisi indeks tertekan sebesar 63,78 poin atau setara dengan 0,92 persen, sehingga harus puas berakhir di level 6.905,62.
Sentimen negatif yang menyelimuti pasar modal domestik ini dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Ketidakpastian kebijakan royalti tambang serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi beban utama yang menghambat laju pergerakan saham sepanjang hari.
Dinamika Kebijakan Royalti Tambang dan Dampaknya
Kabar mengenai penundaan tarif royalti komoditas tambang sempat memberikan secercah harapan di tengah sesi perdagangan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk menunda penerapan tarif baru bagi komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak.
Langkah ini diambil guna menyusun formulasi yang dianggap lebih optimal serta adil bagi seluruh pemangku kepentingan. Meski sempat memicu rebound terbatas, optimisme tersebut tidak bertahan lama karena pelaku pasar masih mencermati kelanjutan aturan tersebut.
Kepastian mengenai penyesuaian tarif royalti ini justru memberikan tekanan psikologis bagi investor. Berikut adalah tahapan rencana kebijakan yang sedang dipantau oleh para pelaku pasar:
- Penundaan sementara tarif royalti untuk komoditas logam guna evaluasi formulasi.
- Penyusunan ulang regulasi agar tercipta keadilan bagi perusahaan tambang dan negara.
- Penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) sebagai landasan hukum resmi.
- Implementasi penuh aturan penyesuaian tarif yang dijadwalkan mulai berlaku awal Juni 2026.
Transisi kebijakan ini menciptakan atmosfer yang sangat berhati-hati di lantai bursa. Investor cenderung memilih untuk menunggu kepastian regulasi sebelum mengambil posisi beli yang lebih agresif pada saham-saham sektor pertambangan.
Tekanan Eksternal dan Pelemahan Rupiah
Selain isu domestik, kondisi makroekonomi global juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan IHSG. Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level di atas Rp17.400 per dolar AS menjadi sentimen negatif yang cukup berat bagi pasar keuangan Indonesia.
Sentimen global lainnya datang dari kawasan Asia yang mayoritas indeksnya juga ditutup di zona merah. Kenaikan harga minyak mentah dunia pasca penolakan proposal damai dari Iran oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memicu kekhawatiran akan inflasi global.
Berikut adalah rincian kondisi pasar berdasarkan data penutupan perdagangan hari ini:
| Indikator Pasar | Data Statistik |
|---|---|
| Penutupan IHSG | 6.905,62 |
| Perubahan Poin | -63,78 (-0,92%) |
| Total Saham Diperdagangkan | 39,08 miliar lembar |
| Frekuensi Transaksi | 2,8 juta kali |
| Nilai Transaksi | Rp20,41 triliun |
| Kapitalisasi Pasar | Rp12.283 triliun |
Data di atas menunjukkan aktivitas perdagangan yang cukup tinggi meskipun indeks berada dalam tekanan. Tingginya nilai transaksi mencerminkan aksi jual yang masif di berbagai sektor utama.
Analisis Pergerakan Sektor dan Proyeksi Mendatang
Secara sektoral, hampir seluruh lini bisnis mengalami tekanan jual yang cukup signifikan. Hanya sektor infrastruktur yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan sebesar 1,52 persen di tengah badai koreksi pasar.
Sebaliknya, sektor transportasi dan energi menjadi penekan utama indeks dengan pelemahan masing-masing sebesar 2,88 persen dan 2,02 persen. Berikut adalah daftar sektor yang mencatatkan kinerja negatif pada penutupan perdagangan:
- Sektor Transportasi: -2,88 persen.
- Sektor Energi: -2,02 persen.
- Sektor Keuangan: -1,74 persen.
- Sektor Perindustrian: -1,46 persen.
- Sektor Kesehatan: -1,05 persen.
- Sektor Barang Konsumen Primer: -0,88 persen.
- Sektor Properti: -0,80 persen.
- Sektor Teknologi: -0,53 persen.
- Sektor Barang Baku: -0,19 persen.
- Sektor Barang Konsumen Non-Primer: -0,13 persen.
Melihat tren yang terjadi, para analis memproyeksikan potensi koreksi lanjutan masih terbuka lebar. IHSG diperkirakan akan menguji level support di kisaran 6.750 hingga 6.850 dalam waktu dekat.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi bagi para pelaku pasar dalam mengelola portofolio investasi. Pergerakan harga saham ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan kejelasan regulasi pemerintah terkait sektor pertambangan.
Disclaimer: Data dan informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat informatif dan didasarkan pada kondisi pasar saat berita diturunkan. Pergerakan pasar saham bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu karena berbagai faktor ekonomi global maupun domestik. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pihak dan disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan finansial.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













