Ilustrasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan tajam. Lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi menyentuh angka USD100 per barel membuat banyak negara mulai waspada. Termasuk Indonesia, yang saat ini masih mempertahankan harga BBM bersubsidi sebagai benteng perlindungan daya beli masyarakat. Namun, pemerintah tampaknya belum berniat mengubah kebijakan itu meski tekanan global semakin terasa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan bahwa langkah menaikkan harga BBM subsidi belum masuk dalam agenda kebijakan mendesak. Ia menyebut bahwa asumsi makro dalam APBN 2026 masih menggunakan harga minyak rata-rata USD70 per barel. Artinya, selama harga minyak belum melonjak secara signifikan dan berkepanjangan, pemerintah akan terus menahan langkah penyesuaian harga eceran terhadap masyarakat.
Kondisi Geopolitik dan Dampaknya ke Harga Energi Global
Ketegangan di kawasan Timur Tengah memang bukan hal baru. Tapi kali ini, potensi eskalasi terlihat lebih nyata. Salah satu titik sensitif yang menjadi fokus adalah Selat Hormuz. Jalur ini menjadi arteri utama bagi distribusi minyak global. Jika sampai benar-benar tertutup, maka dampaknya akan dirasakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
1. Jalur Strategis yang Rentan Konflik
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Lewat jalur sempit ini mengalir sekitar 21% dari total pasokan minyak dunia. Negara-negara pengekspor besar seperti Arab Saudi, Iran, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada rute ini untuk menyalurkan minyak mentahnya ke pasar internasional.
2. Potensi Lonjakan Harga Minyak hingga 50%
Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan R. Satyakti, memperkirakan jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak bisa naik hingga 50%. Dari level USD72 per barel, angka itu bisa melonjak ke kisaran USD100 per barel atau bahkan lebih tinggi tergantung durasi gangguan.
3. Indonesia Masih Impor Minyak dari Kawasan Timur Tengah
Meski memiliki cadangan minyak sendiri, Indonesia tetap mengimpor sebagian kebutuhan energi dari kawasan Timur Tengah. Lonjakan harga global secara otomatis akan meningkatkan biaya impor, yang berimbas pada defisit neraca perdagangan dan tekanan pada APBN.
Strategi Pemerintah Menghadapi Ketidakpastian Global
Pemerintah tidak tinggal diam. Meski belum berniat menaikkan harga BBM subsidi, berbagai skenario mitigasi sudah disiapkan. Langkah-langkah antisipatif ini penting mengingat konflik di Timur Tengah bisa berlangsung dalam jangka waktu yang tidak menentu.
1. Pemantauan Harga Minyak Dunia Secara Real-Time
Tim ekonomi pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah internasional. Data ini menjadi dasar dalam menentukan apakah langkah penyesuaian harga BBM perlu dilakukan atau tidak.
2. Penyusunan Asumsi Makro yang Lebih Realistis
Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 masih berada di angka USD70 per barel. Namun, jika harga benar-benar melampaui batas ini dalam jangka panjang, maka revisi asumsi makro akan menjadi keniscayaan.
3. Simulasi Dampak terhadap Subsidi Energi
Subsidi BBM menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar dalam APBN. Lonjakan harga minyak global bisa membuat anggaran subsidi membengkak secara signifikan. Untuk itu, pemerintah terus melakukan simulasi berbagai skenario agar tidak terkejut jika situasi memburuk.
Tabel Perbandingan Harga Minyak dan Dampaknya terhadap APBN
Berikut adalah simulasi dampak lonjakan harga minyak terhadap anggaran subsidi energi Indonesia berdasarkan berbagai skenario.
| Harga Minyak (USD/barel) | Estimasi Kenaikan Biaya Subsidi | Dampak terhadap APBN |
|---|---|---|
| 70 (Asumsi APBN) | Tidak ada | Stabil |
| 85 | Naik 20-25% | Tekanan ringan |
| 100 | Naik 40-50% | Tekanan sedang-berat |
| 120 | Naik 70% atau lebih | Krisis anggaran |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung variabel eksternal lainnya.
Penyesuaian Harga BBM: Kapan Harus Dilakukan?
Pertanyaan besar yang muncul adalah kapan pemerintah harus mulai mempertimbangkan penyesuaian harga BBM subsidi. Jawabannya tidak sederhana. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan, bukan hanya harga minyak global.
1. Stabilitas Sosial dan Daya Beli Masyarakat
Kenaikan harga BBM berpotensi memicu gelombang inflasi dan ketidakpuasan publik. Pemerintah harus sangat hati-hati agar tidak mengorbankan stabilitas sosial demi menjaga kesehatan fiskal.
2. Kesiapan Cadangan APBN
APBN harus memiliki buffer yang cukup untuk menampung lonjakan subsidi jika harga minyak melonjak. Jika cadangan terbatas, maka penyesuaian harga bisa menjadi pilihan terpaksa.
3. Alternatif Subsidi yang Lebih Tepat Sasaran
Alih-alih menaikkan harga secara mendadak, pemerintah bisa mempertimbangkan revisi skema subsidi. Misalnya dengan mengalihkan subsidi dari produk yang kurang sensitif ke yang lebih dibutuhkan masyarakat.
Kebijakan Energi Jangka Panjang Harus Tetap Jalan
Krisis energi global yang berkepanjangan seharusnya menjadi pengingat penting. Indonesia perlu mempercepat transisi energi menuju sumber yang lebih berkelanjutan. Ketergantungan pada minyak fosil, terutama impor, membuat negara rentan terhadap gejolak geopolitik.
1. Pengembangan Energi Terbarukan
Program pengembangan energi surya, angin, dan biomassa harus dipercepat. Ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor minyak, tapi juga mendukung target netral karbon pada 2060.
2. Efisiensi Konsumsi Energi
Masyarakat dan sektor industri perlu didorong untuk lebih hemat energi. Program efisiensi ini bisa mengurangi tekanan terhadap subsidi BBM dan APBN secara keseluruhan.
3. Diversifikasi Sumber Impor Minyak
Mengurangi ketergantungan pada satu kawasan adalah langkah strategis. Diversifikasi sumber impor minyak ke negara-negara yang lebih stabil secara geopolitik bisa menjadi solusi jangka menengah.
Disclaimer
Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026. Harga minyak dunia dan situasi geopolitik dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kebijakan pemerintah juga dapat disesuaikan tergantung pada perkembangan kondisi global dan domestik.
Artikel ini disusun untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang dinamika geopolitik Timur Tengah dan dampaknya terhadap kebijakan energi nasional, khususnya harga BBM bersubsidi di Indonesia. Meski belum ada penyesuaian harga, kesiapan pemerintah dalam menghadapi berbagai skenario menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi dan sosial.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













