Rupiah kembali bergerak landai di akhir perdagangan Kamis pekan ini. Pagi yang sempat menunjukkan penguatan berbalik arah jelang sore. Penutupan di level Rp17.002 per USD mencerminkan tekanan dari sentimen global yang belum sepenuhnya stabil.
Pergerakan ini terjadi meski dolar AS sendiri tidak menunjukkan penguatan signifikan. Ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global masih menjadi sorotan pasar. Perbedaan data antarsumber juga terlihat, menunjukkan bahwa fluktuasi nilai tukar masih sangat tergantung pada metode pengukuran dan waktu pengambilan data.
Dinamika Nilai Tukar Rupiah
Rupiah sempat menunjukkan dua arah berbeda tergantung sumber data. Bloomberg mencatat penutupan di level Rp17.002, melemah 19 poin dari hari sebelumnya. Sementara itu, Yahoo Finance mencatat penguatan tipis di level Rp16.990. Angka ini berbeda lagi dengan kurs referensi BI (Jisdor) yang mencatat Rp17.015.
Perbedaan ini wajar terjadi karena masing-masing sumber menggunakan metode pengambilan data yang berbeda. Bloomberg dan Yahoo Finance mengacu pada transaksi pasar spot, sedangkan Jisdor merupakan kurs tengah yang ditetapkan Bank Indonesia sebagai acuan resmi.
Berikut perbandingan data nilai tukar rupiah terhadap USD pada Kamis, 2 April 2026:
| Sumber Data | Kurs Rupiah per USD | Perubahan Harian |
|---|---|---|
| Bloomberg | Rp17.002 | -19 poin (-0,11%) |
| Yahoo Finance | Rp16.990 | +7 poin (+0,04%) |
| Jisdor (BI) | Rp17.015 | -13 poin (-0,08%) |
Disclaimer: Data di atas bersifat real-time dan dapat berubah tergantung waktu pengambilan serta metode pengukuran masing-masing sumber.
Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Rupiah
Pergerakan rupiah tidak lepas dari dinamika global. Sentimen geopolitik, kebijakan moneter, dan kondisi ekonomi makro menjadi variabel penting yang memengaruhi arah nilai tukar. Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada pelemahan rupiah di perdagangan Kamis antara lain:
1. Pernyataan Trump soal Penarikan Diri dari Timur Tengah
Presiden AS Donald Trump dikabarkan bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meski Selat Hormuz tetap tertutup sebagian. Pernyataan ini memberi harapan akan berakhirnya ketegangan di kawasan, namun pasar masih menunggu bukti konkret.
2. Respons Iran yang Bersyarat
Iran, melalui Presiden Masoud Pezeshkian, menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang. Namun, dengan syarat utama yang belum sepenuhnya dapat diterima oleh pihak AS. Harapan akan diplomasi muncul, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan dolar secara global.
3. Sentimen Pasar yang Masih Waspada
Meski ada sinyal positif dari diplomasi, para pelaku pasar tetap waspada. Gangguan pasokan energi dan komoditas akibat ketegangan geopolitik masih berlangsung. Ini membuat rupiah rentan terhadap tekanan eksternal.
Data Ekonomi Domestik yang Mendukung Stabilitas
Di tengah ketidakpastian global, data ekonomi dalam negeri memberi sedikit optimisme. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus, meski pertumbuhan impor meningkat cukup signifikan.
1. Surplus Neraca Dagang Capai USD1,27 Miliar
Badan Pusat Statistik mencatat surplus perdagangan sebesar USD1,27 miliar pada Februari 2026. Angka ini meningkat dibandingkan surplus bulan sebelumnya sebesar USD0,95 miliar. Surplus ini sudah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
2. Kinerja Ekspor dan Impor
Ekspor Indonesia pada Februari mencapai USD22,17 miliar, naik 1,01% secara tahunan. Sementara itu, impor mencapai USD20,89 miliar, naik 10,85% secara tahunan. Lonjakan impor terutama didorong oleh kebutuhan bahan baku industri dan komponen produksi.
3. Komoditas Penyumbang Surplus
Surplus utama berasal dari komoditas nonmigas. Beberapa komoditas utama penyumbang surplus antara lain:
- Lemak dan minyak hewani nabati
- Bahan bakar mineral
- Besi dan baja
4. PMI Manufaktur di Level 50,1
Indeks PMI manufaktur Indonesia turun ke level 50,1 pada Maret 2026, dari sebelumnya 53,8. Meski berada di zona ekspansi, angka ini menunjukkan perlambatan aktivitas produksi. Penurunan output tercatat cukup tajam sejak Juni 2025.
Tantangan di Depan
Meski data domestik cukup positif, tantangan global tetap menjadi penghambat penguatan rupiah. Ketegangan di Timur Tengah, meski menunjukkan tanda-tanda diplomasi, belum sepenuhnya reda. Kenaikan harga bahan baku dan gangguan pasokan masih menjadi risiko.
Panelis survei PMI juga mencatat bahwa kelangkaan pasokan bahan baku menjadi penyebab utama perlambatan produksi. Ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap rantai pasok global masih tinggi.
Strategi untuk Menghadapi Fluktuasi Nilai Tukar
Menghadapi ketidakpastian nilai tukar, pelaku usaha dan investor perlu memperhatikan beberapa strategi:
1. Hedging untuk Mengurangi Risiko Kurs
Penggunaan instrumen keuangan seperti forward contract atau opsi valuta asing dapat membantu mengurangi risiko akibat fluktuasi nilai tukar.
2. Diversifikasi Pasar dan Mata Uang
Mengurangi ketergantungan pada satu mata uang atau pasar tertentu dapat memperkecil dampak volatilitas.
3. Monitoring Sentimen Global
Sentimen pasar global berubah sangat cepat. Mengikuti perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global penting untuk antisipasi pergerakan nilai tukar.
Kesimpulan
Rupiah ditutup di level Rp17.002 per USD pada Kamis sore, menunjukkan pelemahan tipis dari hari sebelumnya. Meski ada harapan dari diplomasi Timur Tengah, sentimen pasar masih belum sepenuhnya stabil. Data ekonomi domestik yang solid memberi sedikit dukungan, tetapi tekanan global tetap menjadi tantangan utama.
Investor dan pelaku usaha perlu terus waspada terhadap perkembangan global. Fluktuasi nilai tukar bisa terjadi kapan saja, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi makro yang tinggi. Strategi mitigasi risiko menjadi kunci untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah dinamika pasar yang tidak menentu.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













