Nasional

Harga Minyak Global Kembali Naik Tajam, Sentuh Level USD83 per Barel

Rista Wulandari
×

Harga Minyak Global Kembali Naik Tajam, Sentuh Level USD83 per Barel

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Global Kembali Naik Tajam, Sentuh Level USD83 per Barel

Harga minyak dunia kembali melonjak tajam, mencatatkan level tertinggi dalam hampir dua tahun. Lonjakan ini terjadi seiring memanasnya ketegangan di Timur Tengah. Brent dan WTI, dua patokan utama harga minyak global, mencatat kenaikan signifikan dalam hitungan hari terakhir.

Faktor utama di lonjakan ini adalah konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Ketidakpastian terkait kelangsungan pasokan minyak dari kawasan yang menjadi penyumbang besar produksi global memicu gejolak pasar. Investor dan produsen kembali waspada terhadap potensi gangguan yang bisa berlangsung lama.

Kenaikan Harga Minyak di Tengah Ketegangan Geopolitik

Situasi ketegangan di Selat Hormuz menjadi fokus utama pasar. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak tersibuk di dunia. Setiap gangguan di sana langsung berdampak pada rantai pasok .

Iran, sebagai negara penghasil minyak besar, dikabarkan telah menutup jalur tersebut secara efektif sebagai respons terhadap serangan koordinasi AS-Israel. Langkah ini memperparah situasi, terutama karena Iran juga memperluas operasi militer ke perairan internasional.

1. Brent Tembus USD83 per Barel

Harga minyak Brent yang berakhir Mei 2026 mencatat kenaikan sebesar 3% menjadi USD83,89 per barel. Level ini merupakan titik tertinggi sejak Juli 2024. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan jangka pendek.

2. WTI Naik 5,8%, Sentuh USD78,95 per Barel

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih tajam, naik 5,8% menjadi USD78,95 per barel. Kenaikan mingguan WTI mencapai 17,8%, menunjukkan volatilitas pasar yang tinggi akibat ketidakpastian geopolitik.

Penyebab Lonjakan Harga Minyak

Lonjakan harga minyak tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor utama yang memicu kenaikan ini. Ketegangan di Timur Tengah hanya salah satu dari sekian banyak variabel yang saling terkait.

1. Konflik Bersenjata di Timur Tengah

Konflik antara AS-Israel melawan Iran telah berlangsung selama beberapa hari tanpa tanda-tanda akan segera mereda. Serangan udara dan tindakan militer di beberapa titik, termasuk perairan internasional, meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak.

Iran dikabarkan telah menutup Selat Hormuz, jalur kritis bagi distribusi minyak global. Sekitar 20% minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Penutupan ini langsung memicu lonjakan harga.

2. Irak Nyatakan Force Majeure

Irak, anggota OPEC dengan produksi besar, menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada sejumlah minyaknya. Alasannya adalah gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz. Produksi harian Irak terpaksa turun hingga 1, barel karena kurangnya jalur alternatif.

3. Stok Minyak AS Naik, Tapi Tak Cukup Redam Sentimen

Stok minyak mentah AS naik 5,6 juta barel pada pekan lalu, jauh di atas ekspektasi pasar. Namun, lonjakan ini tidak cukup untuk menenangkan pasar yang sedang panik. Investor tetap memilih menahan diri dan menunggu perkembangan lebih lanjut dari konflik.

Dampak Lonjakan Harga Minyak

Lonjakan harga minyak mentah berdampak luas, tidak hanya bagi negara penghasil, tapi juga bagi konsumen dan investor global. Inflasi menjadi salah satu risiko utama yang muncul dari situasi ini.

1. Potensi Inflasi yang Meningkat

Kenaikan harga minyak sering kali menjadi pemicu inflasi. Bahan bakar yang lebih mahal berdampak pada biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. Ini bisa memicu kenaikan harga barang secara umum.

2. Tekanan pada Bank Sentral

Bank sentral seperti Federal Reserve mungkin harus mengurangi laju pemotongan suku bunga. Lonjakan harga minyak menambah tekanan pada kebijakan moneter, terutama jika inflasi mulai terasa di tingkat konsumen.

3. Reaksi Pasar Saham dan Obligasi

Sektor energi di pasar saham mendapat dorongan positif. Namun, sektor lain seperti transportasi dan manufaktur mulai merasa tekanan. Investor juga mulai memindahkan ke aset aman seperti obligasi pemerintah.

Perbandingan Harga Minyak Mentah Global

Berikut adalah perbandingan harga minyak mentah utama di pasar global:

Jenis Minyak Harga per Barel (USD) Perubahan Mingguan
Brent 83,89 +15,7%
WTI 78,95 +17,8%
Dubai 81,50 +14,2%
Oman 80,20 +16,5%

Strategi Menghadapi Lonjakan Harga Minyak

Negara dan perusahaan energi perlu menyiapkan strategi jangka pendek dan menengah untuk menghadapi volatilitas harga minyak. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil.

1. Diversifikasi Rute Pengiriman

Mengurangi ketergantungan pada jalur tunggal seperti Selat Hormuz menjadi penting. Negara penghasil bisa mempertimbangkan jalur pipa darat atau rute alternatif melalui negara tetangga.

2. Meningkatkan Produksi Cadangan

Negara dengan cadangan minyak besar seperti Arab Saudi dan Rusia bisa meningkatkan produksi untuk menstabilkan pasar. Namun, langkah ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak memicu perang harga.

3. Investasi pada Energi Terbarukan

Jangka panjangnya, peralihan ke energi terbarukan menjadi utama. Semakin banyak negara yang berinvestasi pada energi bersih, semakin kecil ketergantungan pada minyak fosil.

Proyeksi Harga Minyak ke Depan

Pergerakan harga minyak ke depan sangat bergantung pada evolusi konflik di Timur Tengah. Jika situasi membaik dalam waktu dekat, harga bisa kembali turun. Namun, jika ketegangan berlarut-larut, harga bisa terus naik.

Investor saat ini sedang menunggu inventaris minyak dari EIA yang akan dirilis Kamis. Data tersebut bisa menjadi pemicu baru bagi pergerakan harga.

Disclaimer

Harga minyak sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor , termasuk geopolitik, kebijakan produksi OPEC, dan global. Data dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.