Pasar Tanah Abang yang biasa ramai menjelang musim haji kini terasa sepi. Beberapa pedagang di kawasan Jakarta Pusat ini mengakui bahwa lonjakan harga komoditas impor asal Timur Tengah mulai memengaruhi harga jual oleh-oleh haji. Kenaikan ini tak hanya terjadi pada produk makanan, tapi juga pada bahan kemasan dan perlengkapan pendukung lainnya.
Lonjakan harga ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berimbas pada rantai pasok. Bahan baku seperti kurma, pistachio, hingga kemasan plastik dan kardus mengalami kenaikan harga hingga 30 hingga 40 persen. Para pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya yang semakin tinggi.
Dampak Konflik Timur Tengah pada Harga Oleh-Oleh Haji
1. Lonjakan Harga Komoditas Impor
Kenaikan harga paling signifikan terjadi pada produk kurma, terutama jenis Sukari dan Mesir. Sebelumnya, harga eceran kurma berkisar Rp30 ribu per kilogram. Kini, harga tersebut melonjak menjadi Rp80 ribu per kilogram. Bahkan harga grosir per dus bisa mencapai lebih dari Rp600 ribu, naik dari sebelumnya Rp350 ribu.
Produk lain yang ikut terdampak adalah kacang pistachio. Harga dasar yang biasanya Rp250 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp300 hingga Rp350 ribu. Pedagang mengaku bahwa lonjakan ini terjadi karena pasokan dari negara asal terganggu akibat ketegangan di kawasan.
2. Kenaikan Harga Bahan Kemasan
Tak hanya produk impor, harga bahan pendukung juga naik cukup signifikan. Kardus, plastik pembungkus, dan bahan kemasan lainnya mengalami kenaikan hingga 40 persen. Hal ini memaksa para pedagang menyesuaikan harga jual agar tetap bisa menjaga margin keuntungan yang wajar.
Dewa, salah satu pedagang perlengkapan haji, mengatakan bahwa kenaikan biaya kemasan ini terasa cukup memberatkan. Ia menyebut bahwa sebagian besar pembeli haji tetap menginginkan kemasan yang rapi dan representatif, sehingga penghematan tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
3. Penurunan Omzet Tahunan
Lonjakan harga ini berdampak langsung pada daya beli konsumen. Banyak calon pembeli akhirnya membatasi pilihan atau menunda pembelian. Hal ini menyebabkan penurunan omzet hingga 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Alma, pedagang produk khas Timur Tengah, mengungkapkan bahwa omzet saat Ramadan memang naik, tapi saat ini justru mengalami penurunan tajam. Ia memperkirakan lonjakan pembeli baru akan terjadi menjelang keberangkatan jemaah haji kloter pertama pada akhir April.
Proyeksi dan Strategi Pedagang Menjelang Keberangkatan Haji
1. Prediksi Lonjakan Pembeli
Menjelang keberangkatan jemaah haji kloter pertama yang dijadwalkan pada 25 April 2026, para pedagang memperkirakan akan terjadi lonjakan kunjungan. Halimah memproyeksikan kunjungan bisa mencapai 20 hingga 50 orang per hari, dengan lonjakan pendapatan sekitar 20 persen di atas hari biasa.
2. Penyesuaian Strategi Harga
Meski terpaksa menaikkan harga, para pedagang tetap berupaya menjaga daya beli konsumen. Salah satu strategi yang diterapkan adalah memberikan paket hemat atau bundling produk. Misalnya, menggabungkan kurma, sajadah, dan tasbih dalam satu paket dengan harga lebih terjangkau.
3. Fokus pada Produk Non-Pangan
Sementara produk impor mengalami kenaikan, produk non-pangan seperti sajadah dan tasbih masih memiliki harga yang relatif stabil. Kedua produk ini tetap menjadi primadona sebagai oleh-oleh haji karena harganya yang terjangkau dan permintaan yang tinggi.
Tabel Perbandingan Harga Sebelum dan Sesudah Lonjakan
Berikut adalah rincian harga produk impor yang mengalami lonjakan akibat imbas konflik Timur Tengah:
| Produk | Harga Sebelum (Periode Ramadan) | Harga Sekarang (April 2026) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Kurma Mesir (eceran/kg) | Rp30.000 | Rp80.000 | 167% |
| Kurma Mesir (grosir/dus) | Rp350.000 | Rp600.000 | 71% |
| Kacang Pistachio/kg | Rp250.000 | Rp350.000 | 40% |
| Bahan Kemasan (rata-rata) | – | Naik 30-40% | – |
Perlengkapan Haji yang Tetap Stabil
Meskipun harga produk impor melonjak, beberapa perlengkapan haji lokal tetap memiliki harga yang terjangkau. Produk seperti sajadah motif lokal, tasbih kayu, dan mukena bordir tetap diminati karena harganya yang stabil dan kualitas yang terjamin.
1. Sajadah Lokal
Sajadah dengan motif lokal masih menjadi pilihan utama karena harganya yang terjangkau dan mudah dibawa. Harga rata-rata sajadah berkisar antara Rp75.000 hingga Rp150.000 tergantung kualitas dan motif.
2. Tasbih Kayu
Tasbih kayu lokal juga menjadi favorit karena harganya yang stabil di kisaran Rp25.000 hingga Rp50.000. Banyak pembeli memilih tasbih kayu karena dianggap lebih bernilai spiritual dan awet.
3. Mukena Bordir
Mukena bordir dengan motif khas Indonesia tetap diminati karena harganya yang terjangkau dan kualitas bordir yang indah. Harga rata-rata berkisar antara Rp100.000 hingga Rp200.000.
Strategi Menghadapi Lonjakan Harga
1. Diversifikasi Produk
Pedagang mulai mengalihkan fokus pada produk lokal yang harganya lebih stabil. Dengan menawarkan variasi produk lokal, mereka bisa tetap menarik minat pembeli tanpa harus terus bergantung pada produk impor yang harganya fluktuatif.
2. Paket Bundling
Bundling produk menjadi solusi untuk memberikan nilai tambah tanpa harus menaikkan harga secara individual. Misalnya, menggabungkan kurma, sajadah, dan tasbih dalam satu paket dengan harga lebih hemat.
3. Penawaran Grosir
Beberapa pedagang menawarkan harga grosir untuk pembelian dalam jumlah besar. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli yang ingin membeli oleh-oleh untuk keluarga atau teman di tanah air.
Disclaimer
Harga yang tercantum dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi dari pedagang di Pasar Tanah Abang per April 2026. Nilai harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika geopolitik, fluktuasi nilai tukar, dan faktor eksternal lainnya. Data ini tidak mengikat dan hanya digunakan sebagai referensi umum.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













