Di tengah maraknya penggunaan internet di kalangan anak muda, kebutuhan akan edukasi keamanan digital semakin mendesak. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengambil peran penting dalam menjawab tantangan ini lewat program CyberHeroes. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman praktis seputar risiko digital dan cara menghadapinya kepada generasi muda.
Sebanyak 420 siswa dari berbagai sekolah di Indonesia ikut serta dalam program ini. Mereka diajak belajar tentang berbagai aspek keamanan siber, mulai dari bahaya perundungan online hingga cara menjaga privasi data pribadi. Tujuannya jelas: menciptakan generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tapi juga bijak dan aman saat beraktivitas di dunia digital.
Meningkatnya Risiko Digital di Kalangan Anak dan Remaja
Penggunaan internet yang tinggi belum tentu diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Data dari UNICEF tahun 2025 menunjukkan bahwa hampir 80% penduduk Indonesia sudah aktif di internet. Rata-rata, anak muda menghabiskan waktu hingga 5,4 jam per hari di ruang digital.
Namun, durasi panjang di dunia maya tidak serta merta membuat mereka lebih waspada. Justru, semakin banyak waktu dihabiskan secara online, semakin besar pula potensi terpapar risiko digital.
1. Potensi Bahaya di Dunia Digital
Salah satu risiko utama adalah konten tidak pantas. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital tahun 2026, separuh anak Indonesia pernah terpapar konten negatif di media sosial. Angka ini cukup mencemaskan, mengingat paparan konten semacam ini bisa berdampak pada perkembangan mental dan sosial anak.
Selain itu, sekitar 42% anak mengaku merasa tidak nyaman saat beraktivitas di ruang digital. Ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari perundungan online hingga manipulasi data oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
2. Kurangnya Literasi Keamanan Digital
Banyak anak belum memahami pentingnya menjaga data pribadi. Padahal, informasi seperti nama lengkap, alamat, atau nomor telepon bisa saja disalahgunakan jika sampai ke tangan orang yang salah. Tanpa literasi yang cukup, mereka rentan menjadi korban kejahatan siber.
Kurangnya kesadaran ini juga berimbas pada perilaku online mereka. Misalnya, mudah mempercayai orang asing, terlalu bebas membagikan informasi pribadi, atau tidak tahu cara melaporkan konten negatif.
Program CyberHeroes: Solusi Edukasi Digital dari Telkom
Melihat kondisi ini, Telkom melalui program CyberHeroes berupaya menumbuhkan kesadaran keamanan digital sejak dini. Program ini tidak hanya memberikan teori, tapi juga pendekatan praktis yang mudah dicerna anak-anak.
Hery Susanto dari SGM Social Responsibility Telkom menyatakan bahwa pendidikan digital harus dimulai sejak usia dini. Dengan begitu, anak-anak bisa tumbuh menjadi pengguna internet yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.
3. Penyelenggaraan Program Secara Hybrid
CyberHeroes diadakan secara hybrid, memungkinkan partisipasi dari berbagai daerah. Beberapa sekolah yang terlibat antara lain:
- SMP Warga Surakarta: 200 siswa peserta daring
- SLB B Pangudi Luhur Jakarta Barat: 100 siswa
- SDN Blimbing 1 dan SDN Blimbing 3 Tangerang: masing-masing 60 siswa
Metode hybrid ini memastikan bahwa program ini bisa menjangkau lebih banyak peserta, termasuk mereka yang berada di lokasi terpencil atau memiliki keterbatasan fisik.
4. Materi Interaktif dan Mudah Dipahami
Materi yang disampaikan dalam CyberHeroes dirancang agar mudah dipahami anak-anak. Penyampaian informasi dilakukan secara interaktif, sehingga peserta tidak hanya mendengar, tapi juga ikut serta secara langsung.
Beberapa topik utama yang dibahas meliputi:
- Mengenali bentuk perundungan siber
- Cara menjaga privasi di media sosial
- Mengidentifikasi konten hoax dan berita palsu
- Pentingnya tidak membagikan informasi pribadi sembarangan
Dengan pendekatan ini, diharapkan peserta bisa langsung menerapkan ilmu yang didapat ke dalam kehidupan digital sehari-hari.
Inklusivitas dan Dampak Positif Program
CyberHeroes juga menekankan pentingnya inklusivitas. Program ini melibatkan siswa dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi digital harus dapat diakses oleh semua anak, tanpa terkecuali.
5. Dukungan dari Sekolah
Banyak pihak sekolah memberikan apresiasi terhadap program ini. Mereka melihat bahwa CyberHeroes tidak hanya memberikan pengetahuan, tapi juga keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan di era digital saat ini.
Salah satu pihak sekolah menyampaikan bahwa program ini sangat membantu dalam membentuk karakter digital siswa. Mereka merasa lebih siap menghadapi tantangan di dunia maya setelah mengikuti pelatihan ini.
6. Semangat Bersama Jadi Bisa
Melalui CyberHeroes, Telkom mengusung semangat "Bersama Jadi Bisa". Mereka percaya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk menjadi pengguna digital yang cerdas dan aman. Program ini adalah langkah konkret untuk mewujudkan visi tersebut.
Dengan pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, CyberHeroes berhasil menumbuhkan kesadaran penting seputar keamanan digital. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan anak-anak di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Tabel: Ringkasan Statistik dan Partisipasi CyberHeroes
| Aspek | Data |
|---|---|
| Jumlah peserta | 420 siswa |
| Durasi rata-rata penggunaan internet anak muda | 5,4 jam/hari |
| Anak terpapar konten tidak pantas | 50% |
| Anak merasa tidak nyaman di ruang digital | 42% |
| Sekolah peserta daring | SMP Warga Surakarta (200 siswa) |
| Sekolah peserta luring | SLB B Pangudi Luhur, SDN Blimbing 1 & 3 Tangerang |
Kesimpulan
Program CyberHeroes dari Telkom adalah langkah nyata dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman dan inklusif. Dengan menyasar langsung anak-anak dan remaja, program ini membantu menyiapkan generasi yang tidak hanya mahir dalam teknologi, tapi juga bijak dalam menggunakannya.
Melalui pendekatan interaktif dan penyampaian materi yang mudah dicerna, CyberHeroes berhasil menanamkan kesadaran penting seputar keamanan siber. Dengan semakin banyaknya anak yang memahami risiko digital dan cara menghindarinya, Indonesia bisa melangkah lebih percaya diri dalam memasuki era digital yang penuh peluang.
Disclaimer: Data yang digunakan dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan situasi dan regulasi terkini.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













