Harga minyak dunia kembali melonjak pada awal perdagangan Asia, Selasa 17 Maret 2026. Brent masih bertengger di atas level USD100 per barel, naik sekitar 2,1 persen menjadi USD102,28. West Texas Intermediate (WTI) juga ikut menguat 2,2 persen ke posisi USD94,50 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait ancaman gangguan pasokan akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Kenaikan harga terjadi meski pada sesi sebelumnya sempat tercatat penurunan hingga lima persen. Pasar mulai pulih setelah muncul laporan bahwa beberapa kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz. Namun, jalur pelayaran strategis tersebut masih sebagian besar terganggu. Upaya AS untuk meminta bantuan negara sekutu dalam menjaga keamanan selat juga belum membuahkan hasil signifikan.
Kekhawatiran Pasokan Minyak Dunia
Ketegangan di Teluk Persia terus memanas. Iran mengancam akan menyerang industri yang memiliki keterkaitan dengan AS di kawasan Timur Tengah. Ancaman ini muncul setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Pulau Kharg, yang merupakan terminal ekspor utama minyak Iran. Serangan tersebut memperparah situasi dan memicu kekhawatiran global terhadap keamanan pasokan energi.
Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu mengajak sedikitnya tujuh negara, termasuk Tiongkok, untuk turut serta menjaga jalur perdagangan di Selat Hormuz. Sayangnya, sebagian besar ajakan tersebut ditolak. Beberapa negara sekutu justru menyatakan belum ada rencana untuk mengirim armada ke kawasan dalam waktu dekat.
1. Penutupan Sebagian Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi fokus utama karena sekitar 20 persen minyak dunia melewati jalur ini setiap hari. Iran secara efektif telah memblokir sebagian besar akses selat sejak awal bulan ini. Langkah ini memperparah ketegangan dan memicu lonjakan harga minyak global.
2. Beberapa Kapal Berhasil Lewati Selat
Meski begitu, laporan dari Senin (16/3) menyebutkan bahwa beberapa kapal tanker berbendera India dan Pakistan berhasil melewati Selat Hormuz. Iran dikabarkan memberikan dispensasi kepada kapal dari negara tertentu, sementara kapal yang terkait dengan AS dan sekutunya tetap menjadi target ancaman.
3. Ancaman Terhadap Stabilitas Pasar Global
Efek dari konflik ini tidak hanya terbatas pada harga minyak. Lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi yang lebih luas. Inflasi yang didorong energi menjadi perhatian serius bagi bank sentral global, yang saat ini sedang bersiap menghadapi pertemuan penting dalam beberapa hari ke depan.
Dampak Inflasi dan Respons Bank Sentral
Lonjakan harga minyak berpotensi memicu gelombang inflasi yang lebih besar. Kenaikan biaya energi berdampak langsung pada harga barang dan jasa lainnya. Ini menjadi tantangan besar bagi bank sentral di seluruh dunia yang tengah berusaha menjaga stabilitas ekonomi.
Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank Jepang dikabarkan akan menggelar pertemuan minggu ini. Mereka akan membahas langkah-langkah antisipasi terhadap tekanan inflasi yang semakin meningkat. Pasar saat ini sangat sensitif terhadap setiap kebijakan moneter yang diumumkan oleh lembaga-lembaga ini.
1. Tantangan Bank Sentral Global
Bank sentral saat ini berada di bawah tekanan untuk mengendalikan inflasi tanpa memicu resesi. Lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memperumit tugas mereka. Kenaikan harga energi bisa memicu kenaikan harga secara keseluruhan, yang berdampak pada daya beli masyarakat.
2. Pasar Menanti Kebijakan Moneter
Investor saat ini tengah memperhatikan setiap sinyal dari bank sentral besar. Kenaikan suku bunga atau pengetatan kebijakan moneter bisa menjadi respons terhadap inflasi. Namun, langkah ini juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
3. Potensi Kenaikan Harga Lainnya
Jika konflik berlanjut dan harga minyak tetap tinggi, dampaknya akan dirasakan di berbagai sektor. Biaya transportasi, produksi, hingga harga kebutuhan pokok bisa ikut terdorong naik. Ini akan memperlebar tekanan inflasi yang saat ini sedang diwaspadai.
Perbandingan Harga Minyak Global
Berikut adalah rincian harga minyak mentah dunia pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026:
| Jenis Minyak | Harga (USD/Barel) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Brent | 102,28 | +2,1% |
| WTI | 94,50 | +2,2% |
Harga ini menunjukkan pemulihan dari penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Namun, volatilitas masih tinggi karena ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.
Apa Selanjutnya?
Ketegangan di Teluk Persia belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Iran masih mempertahankan ancamannya, sementara AS dan sekutunya belum berhasil membuka jalur pelayaran secara penuh. Pasar minyak global pun tetap dalam tekanan.
Investor dan pengamat ekonomi terus memantau perkembangan situasi. Lonjakan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga bisa memicu kenaikan harga secara keseluruhan. Ini menjadi tantangan besar bagi perekonomian global yang masih dalam proses pemulihan.
Disclaimer
Data harga minyak dan informasi terkait kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini disusun berdasarkan informasi terkini hingga tanggal 17 Maret 2026. Pembaca disarankan untuk selalu memantau perkembangan terbaru dari sumber terpercaya.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













