Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, baru-baru ini mengunjungi salah satu unit usaha kerajinan tradisional di Denpasar, Bali. Kunjungan itu ditujukan untuk melihat langsung kiprah seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) purna yang sukses membangun usaha mandiri dan membuka lapangan kerja di tanah air. Usaha yang dikunjunginya bernama “Namaste 21 Handmade”, yang berada di kawasan Padang Galak, Denpasar Timur.
Usaha ini dirintis oleh Novita Wesley Simanjuntak, seorang mantan perawat yang mengabdi selama sembilan tahun di Kuwait. Kembalinya ke Indonesia bukan berarti berhenti berkarya. Justru dari pengalaman dan modal yang ia bawa dari luar negeri, Novita memulai bisnis kerajinan tangan yang kini menjadi ladang penghidupan bagi dirinya dan enam orang karyawan tetap. Menteri Mukhtarudin menyebut ini sebagai contoh nyata dari “brain circulation” — di mana pengalaman dan keterampilan yang didapat di luar negeri dikembalikan untuk membangun negeri sendiri.
Apresiasi Tinggi dari Menteri P2MI
Kunjungan kerja Menteri Mukhtarudin ke “Namaste 21 Handmade” menjadi momen penting dalam memperkuat apresiasi terhadap kontribusi para PMI purna. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan penghargaan atas perjuangan Novita yang tidak hanya berhasil mandiri, tetapi juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Menurut Mukhtarudin, ini adalah cerminan dari semangat “dulu bekerja untuk orang lain, sekarang mempekerjakan orang lain.”
Langkah Novita juga menjadi bukti bahwa para pekerja migran purna punya potensi besar untuk berkontribusi dalam memajukan perekonomian nasional. Pengalaman kerja di luar negeri, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi modal awal yang sangat berharga untuk memulai usaha di Indonesia.
Pemerintah Hadir dengan Pendekatan Terintegrasi
Dalam dialog singkat dengan Novita, Menteri Mukhtarudin menekankan bahwa keberhasilan seperti ini tidak terjadi begitu saja. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung melalui sinergi lintas kementerian. Salah satunya adalah melalui Nota Kesepahaman (MoU) yang memastikan PMI purna mendapat akses ke berbagai program pemberdayaan.
Beberapa bentuk dukungan yang diberikan antara lain:
- Akses kredit KUR melalui Kementerian Koperasi dan UKM untuk mendukung pengembangan usaha mikro.
- Pembinaan ekspor dan akses pasar internasional melalui kerja sama dengan Kementerian Perdagangan.
- Pelatihan literasi keuangan dan kewirausahaan yang diselenggarakan secara berkala.
Mukhtarudin juga menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memastikan bahwa para pekerja migran yang berangkat secara prosedural bisa menikmati perlindungan dan fasilitas yang memadai. Sebaliknya, mereka yang memilih jalur ilegal justru rentan menghadapi risiko besar.
1. Sinergi Lintas Kementerian untuk Dukung PMI Purna
- Kementerian Koperasi dan UKM: Memberikan akses ke program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk modal awal usaha.
- Kementerian Perdagangan: Membantu pembinaan ekspor dan akses pasar internasional.
- Kementerian P2MI: Menyediakan pelatihan, pendampingan, dan layanan purna tugas secara menyeluruh.
Langkah terintegrasi ini diharapkan bisa mempercepat proses kemandirian ekonomi bagi para PMI purna. Dengan dukungan yang tepat, mereka tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan penggerak ekonomi lokal.
2. Program KUR untuk PMI Purna
-
Syarat Pengajuan KUR:
- Warga negara Indonesia
- Memiliki usaha mikro atau kecil
- Memiliki rekomendasi dari Kementerian P2MI
- Tidak memiliki tunggakan pinjaman macet
-
Besaran Pinjaman:
- Maksimal hingga Rp50 juta tanpa agunan
- Bunga rendah hingga 6% per tahun
- Jangka waktu pengembalian hingga 60 bulan
Program ini menjadi salah satu pilar penting dalam upaya pemberdayaan PMI purna. Banyak di antara mereka yang memanfaatkan dana ini untuk mengembangkan usaha kecil mereka, seperti yang dilakukan oleh Novita.
3. Pelatihan dan Pendampingan Pasca-Purna Tugas
- Pelatihan Kewirausahaan: Memberikan bekal mengenai manajemen usaha, pemasaran, dan perencanaan keuangan.
- Pendampingan Teknis: Diberikan oleh tim ahli dari Kementerian P2MI dan mitra strategis.
- Literasi Keuangan: Membantu PMI purna memahami pengelolaan keuangan usaha secara sehat dan berkelanjutan.
Langkah ini penting untuk memastikan bahwa usaha yang dimulai tidak hanya bertahan sementara, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.
4. Akses Pasar dan Ekspor untuk Produk UKM
- Pameran Dalam Negeri: Diadakan secara berkala di berbagai kota untuk memperkenalkan produk UKM.
- Pameran Internasional: Melalui kerja sama dengan Kementerian Perdagangan, produk UKM bisa dipasarkan ke pasar global.
- Digitalisasi Pemasaran: Pelatihan e-commerce dan pemanfaatan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar.
Dengan akses pasar yang lebih luas, peluang berkembang bagi pelaku usaha seperti Novita pun semakin besar.
Harapan Menjadi Berkah bagi Lingkungan Sekitar
Novita Wesley Simanjuntak menyambut baik fokus baru Kementerian P2MI dalam mendukung para eks pekerja migran. Baginya, pemisahan kementerian ini memberikan perhatian khusus pada pengembangan UMKM yang dikelola oleh PMI purna. Ia juga berharap agar usaha-usaha seperti Namaste 21 bisa menjadi inspirasi bagi ribuan PMI lainnya yang kembali ke tanah air.
“Kami tidak ingin lagi hanya menjadi ‘tambang emas’ saat bekerja di luar negeri. Kami ingin bisa menghasilkan di negeri sendiri dan menjadi berkah bagi masyarakat sekitar dengan membuka lapangan kerja,” ujar Novita.
Tabel: Perbandingan Dukungan untuk PMI Purna Sebelum dan Sesudah Pemisahan Kementerian P2MI
| Aspek | Sebelum Pemisahan Kementerian | Setelah Pemisahan Kementerian P2MI |
|---|---|---|
| Fokus Program | Tersebar di beberapa kementerian | Lebih spesifik dan terintegrasi |
| Akses Kredit | Terbatas | Lebih mudah melalui KUR |
| Pelatihan | Umum, tidak spesifik | Disesuaikan dengan kebutuhan PMI purna |
| Akses Pasar | Terbatas | Diperluas melalui sinergi K/L |
| Pendampingan | Minimal | Intensif dan berkelanjutan |
Penutup
Kunjungan Menteri Mukhtarudin ke “Namaste 21 Handmade” adalah gambaran nyata bahwa para PMI purna punya peran besar dalam membangun ekonomi nasional. Dengan dukungan pemerintah dan semangat berwirausaha, mereka tidak hanya mandiri, tetapi juga menjadi penggerak lapangan kerja di lingkungan sekitar.
Usaha kecil yang dirintis dengan tekun bisa berkembang menjadi ladang rezeki bagi banyak orang. Cerita Novita adalah salah satu dari sekian banyak potensi yang bisa terus ditumbuhkan, asal diberi perhatian dan fasilitas yang tepat.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini berdasarkan kunjungan kerja Menteri P2MI pada April 2026. Kebijakan dan program pemerintah bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika kebutuhan dan kondisi nasional.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.









