Ilustrasi. Foto: dok MI.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah pada perdagangan Senin sore, 9 Maret 2026. Mata uang Garuda ditutup di level Rp16.949 per USD, turun 24 poin atau sekitar 0,14% dari posisi sebelumnya di Rp16.925 per USD.
Pergerakan rupiah sepanjang hari berada dalam tekanan. Sebelumnya, mata uang lokal sempat menyentuh level tertinggi di Rp17.019 per USD. Meski begitu, penurunan ini masih tergolong wajar jika dibandingkan dengan volatilitas pasar global yang dipicu oleh gejolak geopolitik dan lonjakan harga komoditas energi.
Sentimen Global Tekan Rupiah
Pergerakan rupiah tidak berdiri sendiri. Dinamika eksternal, terutama dari kenaikan harga minyak dunia dan ketegangan di Timur Tengah, turut memengaruhi performa mata uang lokal. Ibrahim Assuaibi, analis pasar uang, menyebut bahwa lonjakan harga minyak hingga 30% dan mendekati level USD100 per barel menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah.
1. Lonjakan Harga Minyak Dunia
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam, mencatat kenaikan hingga 30% dan mendekati rekor tertinggi sejak awal perang Rusia-Ukraina pada 2022. Lonjakan ini dipicu oleh serangkaian insiden geopolitik di kawasan Timur Tengah.
2. Ketegangan di Selat Hormuz
Serangan rudal dari Iran ke beberapa fasilitas minyak di negara-negara regional serta pemblokiran de facto terhadap Selat Hormuz memperparah situasi. Jalur pelayaran strategis ini menjadi titik kritis karena melayani sekitar 20% pasokan minyak global.
3. Perubahan Kepemimpinan di Iran
Iran mengumumkan pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi. Perubahan ini menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali, menambah ketidakpastian di kawasan.
Dampak pada APBN dan Defisit Fiskal
Lonjakan harga minyak dunia berdampak langsung pada anggaran negara. Harga minyak saat ini mencapai USD92 per barel, jauh di atas asumsi makro APBN 2026 yang hanya memperhitungkan harga USD70 per barel.
1. Defisit APBN Meningkat
Selisih harga minyak tersebut berpotensi menambah defisit APBN sebesar Rp6,8 triliun. Jika harga terus naik dan mendekati USD100 per barel, defisit bisa melonjak hingga 3% terhadap PDB.
2. Risiko Pelanggaran Aturan Keuangan
Angka defisit 3% merupakan batas maksimal yang ditetapkan dalam UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. Melampaui angka ini berarti negara berada dalam zona berisiko tinggi secara fiskal.
Strategi Jangka Pendek untuk Stabilisasi Ekonomi
Menghadapi situasi genting ini, Ibrahim menyarankan sejumlah langkah strategis yang harus segera diambil pemerintah agar tidak terjebak dalam krisis lebih dalam.
1. Efisiensi Anggaran Negara
Pemerintah perlu melakukan efisiensi anggaran secara signifikan. Fokus belanja harus dialihkan hanya pada kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan.
2. Akselerasi Konversi Energi
Program konversi energi dari minyak ke energi baru dan terbarukan harus dipercepat. Energi surya, air, dan angin bisa menjadi pengganti PLTD (diesel) yang lebih mahal dan tidak ramah lingkungan.
3. Stimulus Ekonomi dan Deregulasi
Stimulus ekonomi perlu digencarkan melalui deregulasi. Aturan-aturan yang mempersulit dunia usaha harus dipangkas. Birokrasi yang berbelit juga perlu disederhanakan agar iklim investasi kembali kondusif.
Perkiraan Pergerakan Rupiah
Melihat kondisi saat ini, Ibrahim memperkirakan rupiah akan tetap fluktuatif pada perdagangan Kamis mendatang. Namun, secara umum, rupiah cenderung melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per USD.
Data Perdagangan Rupiah
Berikut adalah data kurs rupiah terhadap USD berdasarkan berbagai sumber:
| Sumber Data | Kurs Rupiah per USD | Perubahan (Poin) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Bloomberg | Rp16.949 | -24 | -0,14% |
| Yahoo Finance | Rp16.935 | -21 | -0,12% |
| Jisdor | Rp16.974 | -55 | -0,32% |
Disclaimer
Data kurs dan harga minyak bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik global serta kebijakan moneter dan fiskal nasional. Informasi dalam artikel ini disajikan berdasarkan data terkini pada tanggal 9 Maret 2026 dan hanya bersifat referensi.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













