Indonesia terus melangkah maju dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang kokoh dan berdaya saing global. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, potensi ini bukan sekadar peluang, tapi panggilan sekaligus tanggung jawab untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar utama perekonomian nasional. Perjalanan panjang menuju ekonomi syariah kelas dunia memang tak bisa ditempuh dalam semalam. Namun, langkah-langkah strategis yang diambil oleh pemerintah dan pelaku industri keuangan syariah menunjukkan komitmen serius untuk mewujudkan target tersebut.
Tidak hanya soal infrastruktur perbankan atau produk keuangan, Indonesia juga membangun ekosistem yang mendukung inklusi keuangan berbasis syariah, pengembangan UMKM syariah, serta literasi masyarakat yang semakin meningkat. Semua elemen ini menjadi fondasi penting agar ekonomi syariah tidak hanya tumbuh dalam skala mikro, tapi juga mampu bersaing di level internasional.
Potensi dan Peran Ekonomi Syariah di Indonesia
Ekonomi syariah di Tanah Air bukan sekadar alternatif, tapi telah menjadi bagian dari sistem ekonomi nasional yang memberikan kontribusi nyata terhadap PDB. Dengan lebih dari 230 juta penduduk, sebagian besar di antaranya beragama Islam, Indonesia memiliki basis pasar yang sangat besar untuk produk dan layanan syariah.
Perbankan syariah menjadi salah satu pendorong utama. Di tahun 2024, total aset perbankan syariah mencapai lebih dari Rp 800 triliun, dengan pertumbuhan tahunan yang stabil di kisaran 15-20%. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya dan memilih produk keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah.
-
Peningkatan Literasi Keuangan Syariah
Literasi keuangan menjadi faktor kunci dalam mempercepat adopsi ekonomi syariah. Program edukasi yang digelar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) secara konsisten meningkatkan pemahaman masyarakat tentang prinsip syariah dan manfaat produknya. -
Dukungan Regulasi yang Konsisten
Pemerintah melalui BI dan OJK terus memperkuat kerangka regulasi agar industri syariah tumbuh sehat dan terhindar dari praktik yang tidak sesuai syariah. Regulasi ini mencakup pengawasan ketat terhadap produk, transparansi informasi, serta pengembangan standar pelaporan syariah.
Langkah-Langkah Menuju Ekonomi Syariah Kelas Dunia
Menjadi negara dengan ekonomi syariah kelas dunia bukan hanya soal ukuran aset atau jumlah produk. Ini juga soal kualitas, inovasi, serta daya saing global. Berikut langkah-langkah konkret yang sedang diambil Indonesia untuk mencapai target tersebut.
-
Pengembangan Infrastruktur Keuangan Syariah
Pemerintah terus memperkuat infrastruktur pendukung ekonomi syariah, termasuk pengembangan pasar modal syariah, sistem pembayaran syariah, serta platform digital yang memudahkan akses masyarakat. -
Peningkatan Kualitas SDM Syariah
Pelatihan dan sertifikasi profesional di bidang ekonomi syariah terus digelar. Ini mencakup para praktisi perbankan, pengusaha, hingga akademisi agar memiliki pemahaman mendalam tentang prinsip dan aplikasi syariah. -
Penguatan Produk dan Inovasi Syariah
Inovasi produk menjadi salah satu pilar penting. Dari produk tabungan dan pembiayaan syariah, hingga sukuk, asuransi syariah, dan investasi syariah, semua terus dikembangkan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Syariah di ASEAN
Untuk melihat posisi Indonesia, penting juga membandingkan dengan negara ASEAN lainnya yang juga mengembangkan ekonomi syariah. Berikut data pertumbuhan aset perbankan syariah di beberapa negara ASEAN pada tahun 2023-2024.
| Negara | Total Aset Perbankan Syariah (2023) | Pertumbuhan Tahunan |
|---|---|---|
| Indonesia | Rp 780 triliun | 18% |
| Malaysia | MYR 320 miliar | 12% |
| Brunei Darussalam | BND 4,2 miliar | 8% |
| Singapura | SGD 18 miliar | 10% |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa Indonesia memiliki pertumbuhan yang paling dinamis di kawasan. Namun, Malaysia tetap unggul dalam hal kedalaman pasar dan kematangan produk. Kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia dalam pengembangan ekonomi syariah pun terus diperkuat melalui berbagai forum bilateral dan multilateral.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski potensi besar, ada beberapa tantangan yang perlu terus diatasi agar ekonomi syariah bisa benar-benar bersaing di level global.
-
Kurangnya Konsistensi Produk
Banyak produk syariah yang masih terlihat “kloningan” dari produk konvensional, tanpa benar-benar mengedepankan prinsip syariah. Ini bisa mengurangi daya tarik dan kepercayaan publik. -
Rendahnya Literasi Masyarakat
Meskipun sudah ada peningkatan, masih banyak masyarakat yang belum memahami prinsip dasar ekonomi syariah. Ini menyebabkan minimnya adopsi produk syariah di kalangan masyarakat awam. -
Kurangnya Sinergi Antar Lembaga
Kolaborasi antara bank syariah, lembaga pembiayaan, dan institusi pendidikan masih belum optimal. Padahal, sinergi ini sangat penting untuk mempercepat pengembangan ekosistem.
Strategi Ke Depan: Menuju Posisi Global
Indonesia punya visi besar untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Untuk mewujudkan itu, beberapa strategi jangka panjang perlu terus digalakkan.
-
Penguatan Pasar Modal Syariah
Pasar modal syariah harus terus dikembangkan agar bisa menarik investor global. Ini termasuk penerbitan sukuk berkelanjutan, peningkatan transparansi, dan pengembangan produk investasi syariah yang inovatif. -
Peningkatan Kolaborasi Internasional
Indonesia terus membangun kerja sama dengan negara-negara mitra strategis seperti Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi dalam pengembangan produk dan regulasi syariah. -
Digitalisasi Layanan Syariah
Era digital memberi peluang besar untuk memperluas akses ekonomi syariah. Platform digital, fintech syariah, dan dompet digital syariah menjadi area yang sangat strategis untuk dikembangkan.
Kesimpulan
Perjalanan Indonesia menuju ekonomi syariah kelas dunia memang masih panjang, tapi arahnya jelas. Dengan dukungan regulasi yang kuat, SDM yang terus berkembang, dan inovasi produk yang terus muncul, ekosistem syariah di Tanah Air semakin kokoh. Yang terpenting, komitmen semua pihak—pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat—harus tetap tinggi agar visi ini bisa terwujud dalam waktu dekat.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan terkini dari sumber resmi.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.









