Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5% kerap jadi target penting dalam rencana pembangunan nasional. Tapi untuk mencapainya, butuh kombinasi sejumlah sektor yang bekerja sama seperti mesin yang saling terhubung. Bukan cuma soal angka, tapi juga tentang bagaimana potensi lokal bisa dimaksimalkan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Menurut Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga, ada beberapa sektor kunci yang punya peran besar dalam mendorong ekonomi tumbuh di atas 5%. Dari manufaktur hingga energi terbarukan, semuanya punya andil penting. Yuk, kita bahas satu per satu sektor yang jadi tulang punggung pertumbuhan RI ke depan.
Sektor Manufaktur Tetap Jadi Tulang Punggung
Sektor manufaktur masih jadi andalan utama dalam perekonomian Indonesia. Kontribusinya mencapai sekitar 19-20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), angka yang cukup signifikan.
- Hilirisasi sumber daya alam seperti nikel, tembaga, dan bauksit jadi fokus utama. Dengan mengolah bahan mentah jadi produk setengah jadi atau akhir, nilai tambahnya bisa meningkat.
- Pengembangan rantai pasok industri baterai dan perakitan kendaraan listrik juga jadi langkah penting. Ini bukan cuma soal ekspor, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru.
Pertanian dan Pangan Jadi Mesin Baru
Pertanian yang dulu dianggap lambat mulai menunjukkan performa menjanjikan. Di tahun 2025, sektor ini mencatat pertumbuhan di atas 5%, jauh dari tren sebelumnya yang hanya di bawah 2%.
- Penyederhanaan distribusi pupuk dan alat pertanian jadi kunci. Ini bisa meningkatkan produktivitas petani secara signifikan.
- Program lumbung pangan juga penting untuk menjaga stabilitas harga. Dengan harga pangan yang stabil, permintaan dalam negeri bisa terus terjaga.
Konsumsi Rumah Tangga sebagai Daya Tarik Utama
Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54% terhadap PDB. Artinya, daya beli masyarakat punya dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
- Stabilitas harga pangan dan penciptaan lapangan kerja jadi dua hal yang harus dijaga agar daya beli tetap kuat.
- Belanja pemerintah yang cepat terealisasi juga bisa mendorong ekonomi. Terutama proyek infrastruktur seperti irigasi, waduk, dan jalan yang menciptakan lapangan kerja.
Energi Baru Terbarukan Jadi Harapan
Di tengah dorongan hijau, sektor energi terbarukan mulai menunjukkan potensi besar. Salah satunya adalah program biodiesel B50 yang direncanakan mulai Juli 2026.
- B50 bisa menghemat anggaran negara hingga Rp48 triliun jika dijalankan dengan optimal.
- Investasi di sektor teknologi dan ekonomi digital juga perlu terus didorong. Ini bisa jadi sumber pertumbuhan baru yang eksponensial.
Fundamental Ekonomi Domestik Masih Kuat
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa fundamental ekonomi dalam negeri masih cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan.
- Penerimaan pajak hingga kuartal I 2026 naik 14,3% menjadi sekitar Rp462,7 triliun.
- Produksi beras nasional mencapai 34,7 juta ton dengan stok Bulog sekitar 4,6 juta ton.
- Rasio utang tetap dijaga di sekitar 40% terhadap PDB, jauh di bawah batas maksimal undang-undang.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB | 54% |
| Pertumbuhan sektor pertanian 2025 | >5% |
| Kenaikan penerimaan pajak kuartal I 2026 | 14,3% |
| Produksi beras nasional 2025 | 34,7 juta ton |
| Stok beras Bulog | 4,6 juta ton |
| Rasio utang terhadap PDB | 40% |
Strategi Jangka Panjang Harus Konsisten
Mencapai pertumbuhan di atas 5% bukan soal langkah cepat, tapi konsistensi dalam menjalankan strategi jangka panjang. Dari sektor manufaktur hingga energi terbarukan, semua harus berjalan seimbang.
- Hilirisasi sumber daya alam harus terus dipercepat.
- Program pertanian berbasis teknologi perlu didukung lebih luas.
- Konsumsi domestik harus tetap menjadi fokus utama.
- Energi hijau dan digital harus terus dikembangkan sebagai alternatif pertumbuhan baru.
Kesimpulan
Ekonomi Indonesia punya potensi besar untuk tumbuh di atas 5%, tapi butuh sinergi semua sektor. Dari pertanian hingga energi terbarukan, semuanya punya peran penting. Yang terpenting, kebijakan harus terus disesuaikan agar bisa mengikuti dinamika global tanpa mengorbankan stabilitas domestik.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga April 2026. Nilai dan kondisi ekonomi bisa berubah tergantung situasi global dan kebijakan yang diambil pemerintah ke depan.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













