Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga emas dunia terus terperosok, mencatat penurunan terparah dalam lebih dari empat dekade. Pada Jumat, 20 Maret 2026, logam mulia ini anjlok hingga 3,4 persen, menyusul delapan hari penurunan berturut-turut. Performa mingguan emas kali ini menjadi yang terburuk sejak awal Maret 1983.
Tren ini terjadi meski konflik geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Biasanya, emas dijadikan pelindung di masa ketidakpastian. Namun kali ini, dolar justru menjadi pilihan utama investor. Penguatan greenback berimbas langsung pada turunnya harga emas dalam dollar AS.
Penyebab Emas Anjlok di Tengah Ketegangan Geopolitik
Lonjakan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS jauh melampaui aliran dana ke emas. Padahal, secara historis, emas selalu jadi pilihan utama saat krisis. Tapi kenyataannya, investor kali ini lebih memilih instrumen berimbang seperti obligasi dan mata uang kuat.
1. Dolar Makin Kuat, Emas Makin Tertekan
Dolar menguat sejak konflik Iran-Israel meledak. Bank sentral dunia mulai waspada terhadap potensi inflasi akibat gangguan pasokan energi. Kekhawatiran ini mendorong investor beralih ke aset berimbang, termasuk dolar dan obligasi.
2. Suku Bunga Tak Kunjung Turun
Bank sentral utama seperti Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa belum menunjukkan tanda akan memangkas suku bunga. Padahal, emas sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin mahal pula biaya kepemilikan emas.
3. Lonjakan Harga Minyak Picu Ketidakpastian
Harga minyak melonjak hampir ke level tertinggi empat tahun. Lonjakan ini dipicu oleh serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah. Banyak bank sentral memperingatkan risiko inflasi energi yang bisa berlarut-larut.
Perbandingan Performa Emas dan Dolar dalam 1 Bulan Terakhir
| Indikator | Perubahan (%) |
|---|---|
| Harga Emas (Spot) | -10,4% |
| Dolar AS (Indeks DXY) | +3,2% |
| Obligasi 10-Tahun AS | +1,8% |
| Minyak Mentah Brent | +12,5% |
Catatan: Data di atas bersifat estimasi berdasarkan tren pasar hingga Maret 2026. Harga bisa berubah sewaktu-waktu.
Apakah Ini Akhir dari Emas sebagai Aset Safe Haven?
Tidak semua pihak pesimistis. Russ Mould dari AJ Bell menyebut bahwa penurunan ini belum tentu jadi akhir dari emas. Ia mengingatkan bahwa dalam periode 1971–1980 dan 2001–2010, emas juga sempat terkoreksi dalam jangka pendek, tapi tetap bisa bangkit lagi.
1. Emas Pernah Alami Koreksi dalam Tren Naik
Tak ada aset yang naik terus. Emas juga pernah mengalami penurunan tajam di tengah tren bullish jangka panjang. Koreksi seperti ini bisa jadi peluang bagi investor jangka panjang untuk membeli di harga lebih rendah.
2. Biaya Kepemilikan Emas Naik
Saat suku bunga tinggi, emas terasa lebih mahal karena tidak memberikan imbal hasil. Investor cenderung memilih tabungan atau obligasi yang memberi bunga. Ini salah satu alasan mengapa permintaan emas lesu.
3. Skeptis Terhadap Emas Makin Banyak
Sebagian investor mulai melihat emas sebagai aset “kuno” yang tidak produktif. Pandangan ini makin kuat saat harga emas turun dari rekor tertinggi Januari lalu.
Perlukah Masih Investasi Emas?
Investasi emas tetap punya tempatnya, terutama dalam portofolio jangka panjang. Tapi saat ini, bukan waktu yang tepat untuk masuk terburu-buru. Investor perlu melihat perkembangan suku bunga dan sentimen pasar lebih lanjut.
1. Pantau Kebijakan Bank Sentral
Langkah Bank Sentral Eropa, Federal Reserve, dan Bank of Japan akan sangat menentukan arah harga emas ke depan. Jika ada sinyal pemotongan suku bunga, emas bisa langsung rebound.
2. Waspadai Lonjakan Inflasi Energi
Jika harga minyak terus naik, bank sentral bisa mempertahankan suku bunga tinggi. Ini akan terus menekan harga emas dalam jangka pendek.
3. Pertimbangkan Diversifikasi
Emas bisa tetap jadi bagian dari portofolio, tapi tidak boleh jadi satu-satunya aset. Kombinasi dengan obligasi, saham, dan mata uang kuat bisa memberi perlindungan lebih baik.
Penutup
Penurunan harga emas kali ini memang cukup dalam dan mengejutkan. Tapi belum tentu jadi akhir dari peran emas sebagai aset safe haven. Yang jelas, investor harus lebih selektif dan sabar menunggu timing yang tepat.
Disclaimer: Data dan tren pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, dan faktor eksternal lainnya. Artikel ini dibuat berdasarkan informasi hingga Maret 2026.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













